Portalandalas.com - Saat seseorang mengalami krisis hipertensi, ada berbagai gangguan kesehatan serius yang perlu diwaspadai, salah satunya adalah stroke.
Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia, dr. Santi, menjelaskan bahwa krisis hipertensi merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika tekanan darah melonjak drastis hingga mencapai angka 180/120 mmHg atau bahkan lebih tinggi.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh dianggap sepele. Jika tidak segera ditangani dengan cepat dan tepat, krisis hipertensi bisa berujung fatal karena memicu berbagai komplikasi yang membahayakan nyawa.
Salah satu dampak yang paling sering terjadi dari krisis hipertensi adalah stroke. Menurut dr. Santi, peningkatan tekanan darah yang sangat tinggi dapat secara signifikan memperbesar risiko seseorang mengalami stroke.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tekanan darah yang melonjak ekstrem dapat menyebabkan pembuluh darah di otak pecah. Kondisi ini kemudian memicu terjadinya stroke jenis hemoragik, yaitu stroke yang disebabkan oleh perdarahan di dalam otak.
Krisis hipertensi, kata dia, memang sangat erat kaitannya dengan terjadinya stroke perdarahan. Ketika pembuluh darah di otak pecah, aliran darah ke bagian otak tertentu akan terganggu bahkan terhenti.
Padahal, darah memiliki peran penting dalam memasok oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan agar sel-sel otak tetap berfungsi dengan baik. Ketika suplai tersebut terhenti, jaringan otak bisa mengalami kerusakan.
Tidak hanya itu, perdarahan yang terjadi juga dapat menekan jaringan otak di sekitarnya serta meningkatkan tekanan di dalam rongga kepala. Kondisi ini akan memperparah kerusakan otak yang sudah terjadi akibat terganggunya aliran darah.
Karena itu, penting bagi setiap orang untuk mengenali tanda-tanda krisis hipertensi sejak dini.
Menurut dr. Santi, krisis hipertensi yang sudah disertai kerusakan organ, termasuk otak yang berujung stroke, dikenal sebagai hipertensi emergensi. Gejala yang muncul pada kondisi ini bisa berbeda-beda, tergantung pada bagian pembuluh darah mana yang mengalami gangguan atau pecah.
Namun secara umum, beberapa tanda peringatan yang perlu diwaspadai antara lain sakit kepala hebat, penglihatan yang menjadi kabur, nyeri di bagian dada, kebingungan, kejang, mual dan muntah, hingga sesak napas. Pada kondisi yang lebih parah, penderita juga bisa mengalami penurunan kesadaran bahkan sampai pingsan.
Jika tekanan darah sudah mencapai atau melebihi 180/120 mmHg dan disertai gejala seperti nyeri dada, sesak napas, atau tanda-tanda stroke, maka kondisi tersebut harus segera ditangani di layanan gawat darurat.
Gejala stroke sendiri dapat berupa mati rasa atau kesemutan, hilangnya sensasi pada wajah, lengan, atau kaki—biasanya terjadi di satu sisi tubuh—kesulitan berjalan, gangguan bicara, hingga perubahan pada penglihatan.
Dalam kondisi seperti ini, hipertensi emergensi memerlukan penanganan medis yang cepat dan intensif di rumah sakit agar risiko kerusakan organ yang lebih parah dapat dicegah.

