Ngeri! Dampak Media Sosial Bisa Picu Tragedi, Ini Fakta Mengejutkannya

Menu Atas

Ngeri! Dampak Media Sosial Bisa Picu Tragedi, Ini Fakta Mengejutkannya

Portal Andalas
Minggu, 29 Maret 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Media sosial kerap dipandang membawa dampak negatif bagi anak dan remaja. Salah satu contoh ekstrem yang belakangan mencuat adalah insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara yang menyebabkan 96 orang mengalami luka-luka, dan dikaitkan dengan pengaruh buruk dunia digital. Meski demikian, Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti, menegaskan bahwa media sosial pada dasarnya hanyalah alat, seperti halnya pisau dapur. Ia menjelaskan bahwa alat tersebut bisa digunakan untuk hal positif maupun negatif, tergantung pada penggunanya. Dalam konteks anak dan remaja, ia menekankan pentingnya konektivitas serta peran orangtua dalam mendampingi penggunaan media sosial. Media Sosial Tidak Selalu Buruk, Tergantung Pola Asuh Psikolog sekaligus Ketua Bidang Humas, Media, dan Edukasi Himpunan Psikologi Indonesia, Samanta Elsener, M.Psi., menyebut bahwa salah satu faktor yang membuat media sosial berdampak negatif adalah pola pengasuhan yang terlalu permisif. Menurutnya, orangtua yang terlalu membebaskan anak tanpa batasan, atau justru kurang memberikan perhatian terhadap kebutuhan emosional anak, dapat memengaruhi perkembangan emosi mereka. Kondisi ini berpotensi menyebabkan gangguan dalam pengelolaan emosi (disregulasi emosi), yang juga berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif pada anak dan remaja. Dampak pada Fungsi Kognitif Remaja Hal tersebut diperkuat oleh dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). Ia mengungkapkan bahwa hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan fungsi kognitif pada remaja, seperti kemampuan berpikir, daya ingat, konsentrasi, pengambilan keputusan, hingga pengendalian impuls. Pada tahun ini, PDSKJI melakukan riset nasional terhadap 624 remaja berusia 13–24 tahun di berbagai daerah di Indonesia menggunakan Alat Ukur Fungsi Eksekutif Indonesia (AUFEI). Instrumen ini dirancang sesuai konteks budaya Indonesia dan mencakup lima aspek utama, yaitu memori kerja, kontrol diri, fleksibilitas berpikir, kemampuan perencanaan dan pengorganisasian, serta fungsi spiritual. Hasilnya menunjukkan bahwa sebanyak 507 remaja belum memiliki perkembangan fungsi eksekutif yang optimal, sementara hanya 117 remaja yang menunjukkan perkembangan yang baik. Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan, dan Penelitian PP PDSKJI, Dr. dr. Suzy Yusna Dewi, Sp.KJ(K), MARS, menjelaskan bahwa fungsi eksekutif merupakan pusat kendali otak yang berperan penting dalam mengatur diri, berpikir fleksibel, dan mengambil keputusan secara bijak. Peran Orangtua Sangat Krusial Samanta menambahkan bahwa dalam satu dekade terakhir, media sosial dipenuhi berbagai konten tentang kesehatan mental, yang tidak semuanya dibuat oleh tenaga profesional. Meski konten tersebut dapat meningkatkan pemahaman masyarakat, tanpa pendampingan orangtua, justru bisa berdampak negatif bagi anak dan remaja. Ia menekankan bahwa orangtua harus berperan sebagai filter utama terhadap aktivitas dan konsumsi digital anak, agar mereka mampu memilah mana informasi yang baik dan mana yang tidak. Selain itu, keterlibatan orangtua juga penting dalam membatasi durasi penggunaan gadget, karena penggunaan tanpa kontrol dapat memperburuk fungsi kognitif anak. Ancaman Konten Negatif di Era Digital Indriyatno juga mengingatkan bahwa di era digital saat ini, akses terhadap konten berbahaya, termasuk paham radikalisme, menjadi jauh lebih mudah. Jika dulu proses rekrutmen dilakukan secara langsung, kini hal tersebut bisa terjadi secara daring melalui media sosial, atau yang disebut sebagai “terorisme open source”. Ia menegaskan bahwa jika anak dibiarkan menggunakan gadget tanpa pengawasan, maka algoritma media sosial bisa menjadi “pengasuh” utama yang berpotensi membawa dampak negatif. Media Sosial Bisa Jadi Sarana Edukasi Di sisi lain, penggunaan media sosial yang terarah dan didampingi orangtua justru dapat memberikan manfaat besar. Anak-anak dapat memanfaatkannya untuk belajar berbagai hal, seperti bahasa baru, mencari materi pelajaran, informasi beasiswa, hingga mengembangkan keterampilan seperti bermain musik. Indriyatno menegaskan bahwa komunikasi yang baik, kedekatan emosional, dan keterlibatan aktif orangtua akan menjadikan media sosial sebagai sarana edukasi yang efektif dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Baca Juga