Portalandalas.com - Bulan suci Ramadan selalu identik dengan ibadah malam yang penuh keutamaan, yakni salat tarawih. Namun setiap tahun, perbedaan jumlah rakaat kerap memunculkan perdebatan di tengah masyarakat. Pertanyaan yang terus berulang adalah: mana yang lebih utama, tarawih 11 rakaat atau 23 rakaat?
Perbedaan praktik di berbagai masjid tak jarang memicu gesekan. Sebagian pihak menilai 20 rakaat sebagai bid’ah, sementara yang lain meremehkan mereka yang memilih melaksanakan 8 rakaat. Perdebatan ini seolah menjadi isu klasik yang terus muncul setiap Ramadan.
Menanggapi fenomena tersebut, ulama kondang Buya Yahya memberikan penjelasan agar umat Islam tidak lagi terjebak dalam perdebatan yang tidak perlu. Ia menegaskan bahwa baik yang menunaikan 8 rakaat (ditambah 3 witir menjadi 11) maupun 20 rakaat (ditambah 3 witir menjadi 23), keduanya tetap menjalankan sunnah qiyam Ramadan sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.
Dalam salah satu tayangan di kanal YouTube Al Bahjah TV, Buya Yahya menjelaskan bahwa hadis sahih tidak secara tegas menyebutkan jumlah pasti rakaat tarawih yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Karena itu, menurutnya, tidak tepat jika seseorang bersikap congkak dengan mengklaim jumlah tertentu sebagai satu-satunya yang benar.
Ia juga menerangkan bahwa riwayat yang menyebut 8 atau 11 rakaat dari Sayyidah Aisyah RA sebenarnya merujuk pada kebiasaan salat witir Rasulullah. Pada masa Nabi, pelaksanaan salat malam Ramadan tidak memiliki ketentuan jumlah rakaat yang baku. Para sahabat hanya mengikuti salat malam yang dilakukan Nabi tanpa pembatasan angka tertentu. Maka dari itu, sikap saling merendahkan karena perbedaan rakaat sangat tidak dibenarkan.
Menurut Buya Yahya, baik 8 maupun 20 rakaat sama-sama ibadah yang luar biasa di bulan Ramadan. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak menjadikan perbedaan ini sebagai ajang perpecahan.
Ketika ditanya soal keutamaan, ia memberikan ilustrasi sederhana. Semakin banyak rakaat, tentu semakin banyak bacaan Al-Qur’an dan ibadah yang dilakukan. Secara kuantitas, 20 rakaat memang lebih banyak dibanding 8 rakaat. Namun hal itu bukan berarti yang lebih sedikit menjadi salah.
Lalu dari mana asal praktik 20 rakaat?
Buya Yahya menjelaskan bahwa tarawih 20 rakaat merupakan hasil kesepakatan (ijma’) para sahabat pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Saat itu, Sayyidina Umar menginisiasi penyatuan jamaah yang sebelumnya salat terpencar-pencar, lalu menunjuk satu imam untuk memimpin. Tradisi tersebut kemudian diikuti dan dijaga oleh empat mazhab besar dalam Islam, yakni Abu Hanifa (Hanafi), Malik bin Anas (Maliki), Muhammad ibn Idris al-Shafi'i (Syafi’i), dan Ahmad ibn Hanbal (Hanbali).
Ia menambahkan bahwa tarawih 8 rakaat dapat dikatakan mengikuti sunnah Nabi, sementara 20 rakaat mengikuti sunnah Nabi sekaligus sunnah Khulafaur Rasyidin. Inilah yang menjadi alasan mayoritas ulama lebih memilih 20 rakaat.
Buya Yahya juga menyayangkan jika ada pihak yang dengan mudah menyebut tarawih 20 rakaat sebagai bid’ah, padahal praktik tersebut bersandar pada kesepakatan para sahabat dan dipegang oleh empat mazhab besar.
Lalu bagaimana jika seseorang terbiasa salat 8 rakaat, tetapi berada di masjid yang melaksanakan 20 rakaat, atau sebaliknya?
Menurutnya, tidak ada larangan jika seseorang ingin berhenti setelah 8 rakaat di masjid yang melaksanakan 20 rakaat. Namun idealnya, masjid memfasilitasi 20 rakaat agar jamaah yang ingin memperbanyak ibadah dapat melaksanakannya, sementara yang memilih 8 rakaat bisa menyelesaikan lebih awal dengan tertib.
Sebagai penutup, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk terus meningkatkan kualitas ibadahnya. Jika sebelumnya terbiasa 8 rakaat dan mampu menambahnya, maka hal itu lebih baik. Ramadan, menurutnya, adalah momentum untuk meningkatkan level kebaikan dan bukan untuk memperuncing perbedaan.

