Kata Ibnu Rajab al-Hanbali, Ini Indikator Puasa Kamu Diterima

Menu Atas

Kata Ibnu Rajab al-Hanbali, Ini Indikator Puasa Kamu Diterima

Portal Andalas
Selasa, 24 Februari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Umat Islam di berbagai penjuru dunia tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan. Di balik kewajiban menahan lapar, dahaga, serta menjauhi perbuatan maksiat, sering muncul pertanyaan dalam hati setiap muslim: apakah puasa yang dijalankan benar-benar diterima oleh Allah SWT? Pertanyaan ini wajar muncul karena puasa memiliki keistimewaan tersendiri dibanding ibadah lain. Puasa merupakan ibadah yang balasannya sepenuhnya berada dalam penilaian Allah SWT. Di sisi lain, kemungkinan puasa tidak diterima menjadi kekhawatiran tersendiri bagi seorang hamba. Seluruh upaya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari bisa saja menjadi sia-sia jika ibadah tersebut tidak bernilai di sisi-Nya. Nabi Muhammad SAW juga pernah mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan rasa lapar dan haus. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ibnu Majah. Mengutip laman resmi Nahdlatul Ulama, para ulama menjelaskan beberapa tanda yang bisa menjadi indikasi diterimanya puasa seseorang. Meski keputusan akhir tetap menjadi hak Allah SWT, ada beberapa indikator yang bisa diperhatikan. Salah satu ulama dari kalangan Hanabilah, Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaiful Ma'arif menyebutkan setidaknya dua tanda utama. 1. Bertekad tidak kembali pada maksiat Salah satu tanda diterimanya puasa adalah munculnya niat kuat dalam hati untuk meninggalkan maksiat di masa mendatang. Ibnu Rajab menjelaskan bahwa jika seseorang secara lahir tampak beribadah tetapi hatinya masih condong pada kemaksiatan, maka ibadah tersebut berpotensi tidak diterima. Dalam konteks Ramadan, seorang muslim dituntut memiliki komitmen untuk tetap menjauhi maksiat bahkan setelah bulan puasa berakhir. Ia juga menjelaskan bahwa seseorang yang memohon ampun secara lisan tetapi masih berniat kembali melakukan maksiat setelah Ramadan, maka puasanya terancam ditolak. Pendapat lain yang dikutip oleh Tajuddin As-Subki dari Abu Ali Al-Ashbahani menyebutkan bahwa salah satu tanda diterimanya puasa adalah ketika seseorang tetap menjaga diri dari keburukan setelah Ramadan. 2. Melanjutkan puasa setelah Ramadan Ibnu Rajab juga menyebutkan bahwa kebiasaan melanjutkan puasa di bulan Syawal, khususnya enam hari setelah Idulfitri, menjadi tanda lain diterimanya puasa Ramadan. Selain memiliki keutamaan pahala setara puasa setahun, kebiasaan ini menunjukkan bahwa Allah memberi taufik kepada hamba untuk terus melakukan amal saleh setelahnya. Ia menjelaskan bahwa diterimanya amal seseorang dapat dilihat dari amal baik yang dilakukan setelahnya. Sebaliknya, jika seseorang justru melakukan keburukan setelah beramal saleh, maka amal sebelumnya bisa terancam tertolak. 3. Memperbanyak amal kebaikan selama Ramadan Kedua indikator tersebut bisa menjadi bahan evaluasi bagi umat Islam dalam menilai kualitas puasa yang dijalankan. Meski demikian, keputusan diterima atau tidaknya ibadah tetap sepenuhnya berada dalam kuasa Allah SWT. Para ulama juga menganjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan selama Ramadan karena bulan ini memiliki keistimewaan berupa pelipatgandaan pahala. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitab Hasyiyah Al-Bajuri, amal kebaikan di bulan Ramadan memiliki ganjaran yang lebih besar dibandingkan di luar bulan tersebut.

Baca Juga