Portalandalas.com - Saya selalu memegang satu prinsip sederhana: mengetahui lebih awal jauh lebih baik daripada menyesal di kemudian hari. Sayangnya, cara pandang seperti ini belum sepenuhnya menjadi kebiasaan di tengah masyarakat Indonesia.
Masih banyak orang yang merasa khawatir untuk memeriksakan kesehatan, terutama jika sudah berkaitan dengan hasil laboratorium. Seolah-olah selembar kertas hasil pemeriksaan bisa langsung mengubah hidup secara drastis, sehingga memilih untuk tidak tahu dianggap lebih aman.
Saya justru memiliki pandangan yang berbeda. Di usia yang telah melewati 60 tahun, saya melihat pemeriksaan kesehatan sebagai bentuk rasa syukur, bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Jauh sebelum pemerintah menghadirkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), saya sudah terbiasa melakukan medical check-up secara rutin, setidaknya satu hingga dua kali dalam setahun.
Namun, pengalaman mengikuti program CKG memberikan perspektif baru bagi saya. Di satu sisi, saya semakin menyadari betapa pentingnya layanan ini. Di sisi lain, saya juga melihat jelas bahwa masyarakat kita masih belum sepenuhnya siap “berdamai” dengan kondisi kesehatannya sendiri.
Awal Program: Saya Datang, Saat Banyak yang Masih Ragu
Ketika program CKG pertama kali diluncurkan, layanan ini hanya ditujukan bagi masyarakat yang sedang berulang tahun. Saya termasuk yang berkesempatan mengikuti karena sudah masuk kategori lanjut usia.
Saat datang ke Puskesmas, suasananya justru relatif sepi. Bukan karena programnya kurang baik, melainkan karena banyak orang masih diliputi rasa takut—takut jika hasil pemeriksaan menunjukkan sesuatu yang tidak diinginkan.
Berbeda dengan itu, saya justru mendapatkan pengalaman yang menyenangkan. Ada jalur khusus untuk lansia, pelayanan yang terasa lebih ramah dan cepat, tanpa perlu antre panjang. Setelah registrasi, saya langsung diarahkan ke berbagai tahapan pemeriksaan.
Layanan yang diberikan pun cukup lengkap, tidak hanya pemeriksaan dasar seperti tekanan darah atau gula darah, tetapi juga:
Tes darah dan urine
Pemeriksaan gigi
Pemeriksaan THT
Pemeriksaan EKG yang sangat penting untuk usia lanjut
Pemeriksaan fisik secara menyeluruh
Konsultasi langsung dengan dokter
Awalnya saya mengira tempat ini akan dipenuhi banyak orang. Namun kenyataannya, di tahap awal program, jumlah pengunjung masih sangat sedikit. Rasa takut untuk mengetahui kondisi kesehatan tampaknya masih menjadi penghalang utama.
Program Berjalan, Namun Minat Masih Rendah
Seiring waktu, pemerintah melakukan perubahan kebijakan. Program CKG tidak lagi terbatas pada warga yang berulang tahun. Siapa saja kini bisa memanfaatkannya kapan pun.
Namun, kondisi yang saya lihat tidak banyak berubah. Layanan tetap tersedia dengan fasilitas lengkap dan tanpa biaya, tetapi jumlah masyarakat yang memanfaatkannya masih minim.
Alasannya pun hampir seragam, yaitu pola pikir lama yang masih melekat:
“Kalau diperiksa nanti ketahuan penyakitnya.”
“Lebih baik tidak tahu.”
“Saya masih merasa sehat.”
Padahal, justru pola pikir inilah yang sering membuat seseorang terlambat menyadari kondisi kesehatannya, hingga akhirnya diketahui saat sudah dalam tahap serius.
Ketika Anak Saya Ikut Mengalami Sendiri
Menjelang akhir Oktober 2025, dua anak saya akhirnya memutuskan untuk mencoba program CKG. Saat itu, program sudah berjalan cukup lama dan tidak lagi dibatasi waktu.
Saya sempat berpikir mungkin kali ini akan lebih ramai, apalagi mereka datang di hari Sabtu. Namun, kenyataannya masih sama.
Keduanya mendapatkan pelayanan yang sama baiknya seperti yang pernah saya rasakan. Prosesnya cepat, pemeriksaannya lengkap, dan konsultasi dokter berjalan profesional.
Mereka bahkan sempat bertanya heran, mengapa program yang sangat bermanfaat ini belum dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
Saya hanya bisa tersenyum. Rupanya, banyak orang masih memandang pemeriksaan kesehatan sebagai sesuatu yang menakutkan, bukan sebagai bentuk perlindungan diri.
Saya Tidak Takut, Justru Merasa Lebih Tenang
Apakah saya khawatir dengan hasil pemeriksaan?
Tidak.
Karena bagi saya, rasa takut yang sebenarnya bukanlah saat mengetahui penyakit, melainkan ketika terlambat mengetahuinya.
Melakukan cek kesehatan secara rutin adalah langkah nyata untuk menjaga diri sendiri, melindungi keluarga, memastikan masa tua tetap berkualitas, dan menghargai tubuh yang telah bekerja tanpa henti selama puluhan tahun.
Setiap hasil pemeriksaan bukanlah vonis, melainkan informasi penting.
Dan informasi tersebut bisa menjadi kunci untuk menyelamatkan hidup.
Mengapa Pola Pikir Ini Perlu Diubah?
Ada beberapa alasan sederhana mengapa kita perlu mengubah cara pandang terhadap pemeriksaan kesehatan:
Pertama, penyakit tidak muncul secara tiba-tiba.
Kondisi seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, atau gangguan organ tubuh berkembang secara perlahan.
Kedua, biaya pengobatan jauh lebih besar dibandingkan pencegahan.
Cek kesehatan bisa dilakukan secara gratis, sementara pengobatan penyakit kronis membutuhkan biaya besar.
Ketiga, hasil laboratorium bukanlah sesuatu yang menakutkan.
Itu hanyalah angka yang menunjukkan kondisi tubuh, dan angka tersebut masih bisa diperbaiki jika ditangani sejak dini.
Cek Kesehatan: Hadiah Terbaik untuk Diri Sendiri
Kita mungkin tidak bisa menentukan berapa lama kita hidup, tetapi kita bisa memilih bagaimana kualitas hidup yang kita jalani.
Sebagai seseorang yang telah melewati usia 60 tahun dan masih aktif hingga saat ini, saya ingin mengajak siapa pun yang membaca tulisan ini untuk tidak takut memeriksakan kesehatan.
Lebih baik mengetahui kondisi sejak awal daripada menyesal di kemudian hari.
Manfaatkan fasilitas yang telah disediakan pemerintah. Jika mampu, lakukan pemeriksaan secara mandiri. Dan yang tak kalah penting, ajak keluarga untuk turut menjaga kesehatan bersama.
Karena kesehatan adalah hal yang sering diabaikan, tetapi akan sangat kita sesali ketika sudah terlambat.
Catatan Penulis
Tulisan ini lahir dari pengalaman pribadi saya sebagai seorang lansia yang ingin tetap hidup sehat, aktif, dan produktif.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana banyak orang menunda pemeriksaan kesehatan hanya karena rasa takut. Padahal, ketakutan itu sering berujung pada penyesalan.
Melalui tulisan ini, saya berharap semakin banyak orang berani mengambil langkah sederhana: memeriksakan kesehatan sejak dini.
Saya menulis bukan sebagai tenaga medis, tetapi sebagai seorang ayah, seorang warga, dan seorang manusia yang ingin melihat orang-orang di sekitarnya hidup lebih lama dan lebih bahagia.
Jika tulisan ini mampu mendorong satu orang saja untuk datang ke Puskesmas atau klinik, maka itu sudah lebih dari cukup.
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca.
Tetap jaga kesehatan, dan tetap semangat menjalani hidup.

