Tidur Tak Nyenyak Padahal Sudah Capek? Waspadai Gula Darah Turun Diam-Diam

Menu Atas

Tidur Tak Nyenyak Padahal Sudah Capek? Waspadai Gula Darah Turun Diam-Diam

Portal Andalas
Kamis, 08 Januari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Banyak orang menilai gangguan tidur sebagai dampak dari stres, kecemasan, atau kebiasaan bermain gawai menjelang tidur. Namun, tahukah kamu bahwa penyebabnya kerap kali justru berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi sebelum tidur? Chiropractor sekaligus Health Restoration Practitioner di The Wellness Way, Brentwood, Tennessee, Kelsey Jordan, DC, menjelaskan bahwa sering terbangun di tengah malam berhubungan erat dengan ketidakstabilan kadar gula darah. Ia menerangkan, ketika gula darah naik dan turun secara drastis sepanjang hari tanpa kontrol yang baik, kondisi tersebut bisa berlanjut hingga malam hari. Akibatnya, saat tidur—terutama di tengah malam—kadar gula darah dapat anjlok secara tiba-tiba. Saat gula darah menurun, tubuh akan bereaksi dengan meningkatkan produksi kortisol. Jordan menjelaskan bahwa kortisol merupakan hormon stres utama yang berfungsi membantu menaikkan kembali kadar gula darah ke level normal. Masalahnya, lonjakan kortisol ini bersifat sangat merangsang. Ketika kadar kortisol meningkat secara mendadak, tubuh bisa terbangun meski sebenarnya masih membutuhkan waktu istirahat. Secara alami, kortisol seharusnya berada di titik terendah pada malam hari, lalu meningkat perlahan menjelang pagi untuk membantu tubuh bangun. Jika lonjakan ini terjadi terlalu cepat, tubuh akan masuk ke kondisi waspada di saat seharusnya masih beristirahat. Salah satu faktor yang memicu fluktuasi gula darah di malam hari adalah konsumsi makanan tinggi lemak jenuh sebelum tidur. Walau lemak tidak langsung menaikkan kadar gula darah, para ahli dari Michigan State University (MSU) menjelaskan bahwa makanan berlemak tinggi dapat memperlambat pencernaan dan mengganggu efektivitas kerja insulin. Insulin sendiri merupakan hormon yang berperan memindahkan glukosa dari makanan ke dalam sel tubuh sebagai sumber energi. Jika fungsi insulin terganggu, kestabilan gula darah pun ikut terdampak, termasuk saat tubuh berada dalam fase tidur malam. Gangguan regulasi gula darah yang terjadi secara berulang tidak hanya memengaruhi kualitas tidur, tetapi juga berdampak pada kesehatan jangka panjang. MSU mencatat bahwa pola makan tinggi lemak jenuh—terutama jika disertai obesitas dan kurangnya aktivitas fisik—dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa obesitas, khususnya di area perut, minimnya aktivitas fisik, serta konsumsi lemak jenuh berlebihan merupakan faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko diabetes. Dengan demikian, kebiasaan makan sebelum tidur bukan sekadar soal tidur nyenyak, tetapi juga menyangkut investasi kesehatan di masa depan. Untuk mencegah terbangun di tengah malam akibat lonjakan kortisol, Jordan menyarankan memilih sumber lemak sehat saat makan malam. Lemak sehat dilepaskan secara perlahan oleh tubuh sehingga membantu menjaga kestabilan gula darah sepanjang malam. Ia menyarankan beberapa pilihan sederhana, seperti satu sendok makan minyak zaitun atau minyak kelapa, serta setengah buah alpukat. Lemak tak jenuh tunggal dari sumber nabati dinilai lebih bersahabat bagi sistem metabolisme. American Heart Association (AHA) juga merekomendasikan kacang-kacangan, biji-bijian, serta selai alami berbahan dasar kacang dan biji sebagai sumber lemak sehat yang baik bagi tubuh. Selain membantu menjaga keseimbangan gula darah, makanan tersebut mengandung nutrisi penting yang mendukung kesehatan jantung dan metabolisme secara keseluruhan. Memberikan jeda waktu antara makan dan tidur juga dapat membantu tubuh mencerna makanan dengan lebih optimal, sekaligus mencegah fluktuasi gula darah saat memasuki fase tidur yang lebih dalam.

Baca Juga