Di satu sisi, pernyataan tersebut terasa manusiawi. Petugas kebersihan bekerja dengan keterbatasan tenaga, waktu, dan fasilitas. Mereka bukan mesin yang dapat beroperasi tanpa henti.
Namun, persoalan di Merangin tampaknya tidak hanya sebatas keterbatasan manusia. Yang mencuat justru persoalan yang lebih mendasar, yakni sistem yang belum berjalan sebagaimana mestinya.
Beberapa waktu lalu, di Pasar Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, tumpukan sampah terlihat menumpuk di tepi jalan. Plastik, sisa makanan, hingga limbah rumah tangga bercampur di ruang terbuka. Bau menyengat pun mengganggu aktivitas warga dan pedagang di sekitarnya.
Kini sampah tersebut memang sudah dibersihkan. Namun bagi masyarakat, persoalan belum benar-benar selesai. Setiap Minggu, saat Pasar Rantau Panjang kembali ramai sebagai pasar mingguan, kekhawatiran yang sama kembali muncul: sampah akan kembali menumpuk.
Fakta bahwa penumpukan sampah sempat terjadi selama beberapa hari menunjukkan satu hal: penanganan baru dilakukan setelah kondisi memburuk.
Pola ini mencerminkan pendekatan yang reaktif, bukan sistem yang berjalan secara konsisten. Dalam konteks pelayanan publik, kondisi ini bukan sekadar keterlambatan, tetapi juga menandakan lemahnya pengawasan, perencanaan, serta kepastian layanan.
Selama ini, persoalan sampah di Merangin kerap disederhanakan sebagai akibat perilaku masyarakat. Rendahnya kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya menjadi alasan yang paling sering dikemukakan.
