Portalandalas.com - Serangan drone yang diklaim berasal dari Iran terhadap fasilitas milik QatarEnergy di Ras Laffan dan Mesaieed disebut menjadi momentum penting yang memperuncing eskalasi konflik di kawasan Teluk. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara regional, tetapi juga merambat langsung ke perekonomian global.
Sebagai perusahaan energi milik negara sekaligus eksportir LNG terbesar di dunia, QatarEnergy memutuskan menghentikan sementara seluruh aktivitas produksi LNG. Dengan kapasitas mencapai sekitar 120 juta ton per tahun—atau hampir 20 persen dari total perdagangan LNG dunia—penghentian tersebut langsung memicu guncangan pasokan dalam skala besar.
Reaksi pasar pun berlangsung cepat. Harga gas di Eropa melalui kontrak ICE Dutch TTF melonjak sekitar 40 hingga 45 persen hanya dalam sehari. Sementara itu, indeks LNG Asia atau JKM juga mengalami kenaikan signifikan.
Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai lonjakan harga tersebut bukan sekadar respons sementara, melainkan cerminan kepanikan struktural dalam pasar energi global.
Menurutnya, ketika hampir seperlima pasokan LNG dunia terhenti dalam waktu singkat, pelaku pasar cenderung bereaksi defensif ketimbang rasional. Kondisi inilah yang mendorong lonjakan harga hingga mendekati 45 persen dalam satu hari.
Ia menjelaskan bahwa Ras Laffan dikenal sebagai kompleks LNG terbesar di dunia, sedangkan Mesaieed merupakan pusat pengolahan gas dan minyak hilir yang terintegrasi dengan jalur ekspor melalui Teluk. Jika dua titik vital ini terganggu, bukan hanya produksi yang terhenti, tetapi juga jalur logistik energi global ikut tersendat.
Noviardi menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas QatarEnergy tidak bisa dipandang sebagai gangguan teknis semata. Ia melihatnya sebagai pesan geopolitik yang menunjukkan bahwa energi kini menjadi alat tekanan dalam rivalitas di kawasan Teluk.
Selama ini, LNG dari Qatar berperan sebagai penyangga utama bagi Eropa dan Asia Timur ketika pasokan dari wilayah lain, termasuk Rusia, mengalami gangguan. Apabila penghentian produksi berlangsung lebih dari beberapa hari, negara-negara pengimpor diperkirakan akan berlomba mencari alternatif pasokan dari Amerika Serikat, Rusia, maupun negara-negara Afrika.
Dalam skenario gangguan selama tiga hingga lima hari, harga LNG di pasar spot berpotensi melonjak antara 70 hingga 100 persen dari level normal. Ia menambahkan bahwa selama ini LNG Qatar berfungsi sebagai buffer yang menjaga stabilitas harga ketika pasokan lain terganggu. Jika fungsi penyangga itu melemah, maka volatilitas harga menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Dari sudut pandang geoekonomi, Noviardi menilai insiden ini menandai pergeseran konflik Teluk dari sekadar rivalitas militer menjadi persaingan yang menyasar stabilitas energi global. Rangkaian gangguan, mulai dari terhentinya LNG Qatar hingga persoalan fasilitas energi lain di kawasan, membuat kapasitas energi dunia yang terdampak mencapai puluhan juta ton ekuivalen minyak per tahun.
Artinya, konflik tersebut tidak lagi bisa dipandang sebagai isu kawasan semata, melainkan telah menjadi variabel penting dalam peta ekonomi global.
Bagi Indonesia, dampaknya mungkin tidak langsung terasa dalam bentuk krisis, namun potensi kenaikan harga LNG global dapat memicu tekanan fiskal, terutama jika harga minyak terdorong menembus kisaran 80 hingga 90 dolar AS per barel.
Sektor industri seperti petrokimia, baja, serta manufaktur berbasis gas diperkirakan akan menghadapi lonjakan biaya produksi. Kondisi ini berisiko mendorong terjadinya imported inflation atau inflasi yang bersumber dari kenaikan harga barang dan energi impor.
Menurut Noviardi, dampak terhadap Indonesia akan muncul melalui jalur kenaikan harga energi global yang berpotensi membebani anggaran negara sekaligus menekan stabilitas harga domestik.
Ia mengingatkan bahwa perekonomian dunia saat ini masih berada dalam fase pemulihan yang rapuh. Gangguan terhadap QatarEnergy berpotensi memperbesar ketidakpastian global sekaligus mempercepat perubahan strategi energi dunia, termasuk diversifikasi sumber pasokan dan percepatan transisi menuju energi terbarukan.
Apabila eskalasi konflik terus berlanjut, ia menilai peristiwa ini bisa menjadi pemicu babak baru krisis energi global.

