Sering Terbangun Malam Hari? Bisa Jadi Tanda Awal Masalah Jantung

Menu Atas

Sering Terbangun Malam Hari? Bisa Jadi Tanda Awal Masalah Jantung

Portal Andalas
Senin, 19 Januari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Berbagai studi menunjukkan bahwa kualitas tidur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh, termasuk kesehatan jantung. Insomnia, yang ditandai dengan kesulitan untuk memulai tidur atau mempertahankan tidur, kini tidak lagi dianggap sekadar penyebab kelelahan. Gangguan tidur ini semakin dipahami sebagai salah satu faktor risiko serius yang dapat memicu penyakit jantung. Data menunjukkan sekitar 10 persen penduduk Amerika Serikat mengalami insomnia kronis, sementara jutaan lainnya melaporkan kualitas tidur yang buruk. Kondisi ini menjadi perhatian kalangan peneliti, mengingat gangguan tidur terbukti berkaitan dengan meningkatnya berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan mental hingga penyakit kardiovaskular. Insomnia dan hubungannya dengan penyakit jantung Masalah kesehatan mulai muncul ketika kebutuhan tidur tidak terpenuhi secara terus-menerus. Dr. Julio Fernandez-Mendoza, profesor psikiatri dan kesehatan perilaku di Penn State College of Medicine, menjelaskan bahwa timnya termasuk yang pertama menemukan hubungan kuat antara insomnia dan peningkatan risiko penyakit jantung. “Kami mendapati bahwa individu yang mengalami keluhan insomnia, baik sulit tidur maupun sulit mempertahankan tidur, memiliki kemungkinan lebih besar mengalami tekanan darah tinggi dan berisiko terkena penyakit jantung,” ujarnya, dikutip dari CBS News, Rabu (7/1/2026). Pada remaja hingga orang dewasa, insomnia dan kurang tidur diketahui dapat memicu stres berlebih, perubahan keseimbangan hormon, serta peradangan dalam tubuh. Menurutnya, kondisi-kondisi tersebut umumnya muncul jauh sebelum seseorang didiagnosis menderita penyakit jantung. Insomnia kerap menjadi tanda awal bahwa tubuh berada dalam keadaan tidak seimbang. Jika berlangsung lama tanpa penanganan, gangguan ini dapat berkembang menjadi masalah kardiovaskular yang lebih serius. Mengapa kurang tidur memengaruhi jantung? Selama tidur, tubuh menjalani berbagai proses pemulihan penting, seperti mengatur tekanan darah, menyeimbangkan hormon, serta memperbaiki jaringan dan sel yang rusak. Kurang tidur mengganggu proses-proses tersebut dan membuat sistem tubuh bekerja dalam kondisi tertekan. Peningkatan hormon stres seperti kortisol, misalnya, dapat menyebabkan tekanan darah naik dan memicu peradangan kronis. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko serangan jantung maupun stroke. Tak heran jika para ahli kini menempatkan tidur sebagai salah satu pilar utama kesehatan jantung, sejajar dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik yang rutin. Berapa lama waktu tidur yang dibutuhkan? Kebutuhan tidur setiap orang berbeda dan berubah seiring bertambahnya usia. Orang dewasa yang tidur sekitar tujuh hingga delapan jam per malam umumnya memiliki kondisi fisik dan mental yang lebih baik, serta risiko penyakit yang lebih rendah. “Orang dewasa yang melaporkan tidur sekitar tujuh hingga delapan jam per malam cenderung memiliki kesehatan terbaik, baik secara fisik maupun mental, serta berumur lebih panjang,” kata Fernandez-Mendoza. Seiring bertambahnya usia, kebutuhan tidur biasanya menurun. Orang berusia di atas 65 tahun, lanjutnya, rata-rata hanya memerlukan sekitar enam hingga tujuh jam tidur per malam. Sebaliknya, kelompok usia muda justru membutuhkan waktu tidur yang lebih panjang. “Anak muda membutuhkan waktu tidur paling banyak, setidaknya sembilan jam, bahkan beberapa anak kecil memerlukan lebih dari itu,” jelasnya. Kebiasaan tidur yang perlu diperhatikan Bagi sebagian orang, meningkatkan kualitas tidur dapat dimulai dari perubahan gaya hidup sederhana. Fernandez-Mendoza menyarankan beberapa kebiasaan dasar untuk membantu mendapatkan tidur yang lebih berkualitas. “Kebiasaan tidur yang baik mencakup mengurangi konsumsi kafein dan alkohol, berhenti merokok, serta rutin berolahraga,” ujarnya. Selain itu, ia juga menyarankan untuk menjaga jadwal makan tetap teratur, tidak melewatkan waktu makan, menghindari makan terlalu larut malam, serta tidak mengonsumsi makanan dalam porsi besar menjelang tidur. Kebiasaan-kebiasaan tersebut membantu tubuh memasuki fase istirahat dengan lebih optimal. Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, tidur sering kali menjadi hal pertama yang dikorbankan. Padahal, berbagai bukti ilmiah menegaskan bahwa insomnia bukan hanya soal rasa lelah keesokan hari, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan jantung dalam jangka panjang.

Baca Juga