Rangking Satu Bukan Jaminan? Utas Ini Picu Perang Komentar

Menu Atas

Rangking Satu Bukan Jaminan? Utas Ini Picu Perang Komentar

Portal Andalas
Selasa, 06 Januari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Era media sosial benar-benar membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas banyak orang kini nyaris tak terpisahkan dari gawai. Media sosial tidak lagi sebatas tempat berbagi status atau foto, tetapi telah bertransformasi menjadi etalase beragam produk dan ruang interaksi tanpa batas. Dari sanalah tercipta keterhubungan yang lintas ruang dan waktu, yang kita saksikan sekaligus rasakan bersama saat ini. Bahkan, tidak sedikit dari kita yang turut menikmati manfaat dari keterbukaan tersebut. Warganet kini dengan mudah dapat mengakses dan berkomentar di unggahan akun lain, meski pemilik akun berada di kota atau bahkan pulau yang berbeda. Ada pula akun milik orang Indonesia yang rutin melakukan siaran langsung dari tempat mereka bekerja di luar negeri. Interaksi pun berlangsung dua arah, tanpa jeda waktu, dan terasa begitu dekat. Media sosial juga membuka ruang luas bagi siapa pun untuk menumpahkan isi pikiran. Perasaan, pendapat, asumsi, ide, hingga persepsi yang melintas di kepala dapat langsung dipublikasikan. Menulis tak lagi harus melewati proses penyuntingan yang ketat, cukup dengan gerakan ujung jari. Tak heran jika media sosial kerap menjadi arena perdebatan, terutama saat isu tertentu tengah ramai diperbincangkan. Pro dan kontra di ruang digital sulit dihindari, kerap membuat emosi warganet naik turun. Di sinilah kita dituntut cakap menyaring diri, tidak mudah terpancing, dan tidak terlalu larut dalam hiruk-pikuk media sosial. Belakangan, sebuah utas di thread tengah menjadi perbincangan. Sebuah pertanyaan sederhana dilempar, lalu ditanggapi oleh banyak akun lain. Pertanyaan itu berpotensi memicu perdebatan panjang dan menyinggung perasaan pihak tertentu, yakni: “Temanmu yang rangking satu di sekolah, sekarang kerja di mana?” Utas tersebut segera dibanjiri komentar, sebagian besar bernada tajam. Sang pembuat utas tampak kewalahan, hanya menanggapi beberapa komentar tertentu dengan jawaban singkat dan seperlunya, tanpa banyak penjelasan. Saya sendiri memilih tidak ikut terlibat. Saya hanya menjadi pengamat, membaca komentar-komentar yang relevan. Mayoritas respons bernada kontra, sebagian disampaikan dengan bahasa halus, sebagian lain cukup keras. Ada yang sekadar menyindir, tak sedikit pula yang melontarkan serangan langsung. Secara pribadi, saya tidak sepakat dengan keberadaan utas tersebut. Membawa pertanyaan semacam itu ke ruang publik terasa seperti memantik api perdebatan. Sekilas, ada kesan membanding-bandingkan kondisi. Seolah-olah situasi hidup si pembuat utas saat ini ingin disejajarkan dengan nasib teman yang dulu berprestasi di sekolah. Pertanyaan itu tampak mengajak publik untuk menyamakan persepsi dan mendukung sudut pandang sang pembuat utas. Kesan membandingkan tersebut semakin kuat dengan adanya foto yang disertakan. Terlihat pembuat utas mengenakan helm proyek dan seragam khusus di lokasi tertentu. Banyak warganet menduga ia bekerja di kawasan pertambangan. Pekerjaan yang secara umum dipandang menjanjikan, terutama dari sisi penghasilan. Namun, orang dengan pendapatan tinggi justru perlu lebih waspada terhadap ujian kesombongan. Tanpa kehati-hatian, seseorang bisa dengan mudah meremehkan orang lain. Pertanyaan “temanmu yang rangking satu di sekolah sekarang kerja di mana?” pun diikuti berbagai respons, di antaranya: Ada yang menuliskan bahwa dirinya selalu rangking satu sejak SD hingga SMA, melanjutkan pendidikan hingga S3, sementara orang tuanya tidak lulus SD. Kini ia merasa bingung mencari pekerjaan yang lebih melelahkan secara fisik demi pahala, karena pekerjaan saat ini bisa menghasilkan ratusan juta rupiah per hari dengan mudah. Ada pula yang berbagi cerita tentang dirinya yang bekerja kantoran dengan gaji dua digit, sementara pasangannya bekerja di bidang teknologi informasi dengan penghasilan lebih besar dan jam kerja fleksibel. Pesan yang ingin disampaikan: berprestasi di sekolah tidak pernah sia-sia. Namun, ada juga komentar yang terkesan menyombongkan diri, seolah ingin menunjukkan bahwa meski tidak berprestasi di sekolah, bekerja di sektor tambang membuatnya lebih sukses dibanding mereka yang dulu meraih peringkat teratas. Kurang lebih itulah pesan yang ingin divalidasi oleh sebagian warganet. Hingga tulisan ini dibuat, kolom komentar utas tersebut masih terus bertambah. Mayoritas tanggapan bernada sinis dan menyatakan ketidaksetujuan terhadap tema yang diangkat. Banyak netizen tampaknya mampu membaca arah pembahasan, yakni kecenderungan merendahkan teman yang dulu berprestasi, yang kebetulan saat ini tengah berjuang dalam hidup. Padahal, realitas kehidupan sejatinya jauh dari kata ideal. Perputaran nasib bisa terjadi begitu cepat. Mereka yang dahulu dipuja bisa saja berbalik dicela. Nama-nama yang pernah dielu-elukan mendadak terlupakan, tergantikan oleh figur baru. Namun, hal itu bukan alasan untuk bersikap semena-mena kepada mereka yang sedang berada di fase terpuruk. Jangan pernah merendahkan siapa pun, sebab roda kehidupan bisa berputar kapan saja. Sekali lagi, dunia berjalan dengan cara yang tidak selalu ideal. Setiap kondisi bersifat sementara dan tidak pasti, sewaktu-waktu dapat berbalik arah. Karena itu, jangan pernah mengecilkan orang lain, baik secara tersirat, melalui sindiran, maupun secara terang-terangan. Termasuk lewat unggahan utas bertema, “temanmu yang rangking satu di sekolah sekarang kerja di mana?” Semoga tulisan ini membawa manfaat.

Baca Juga