Portalandalas.com - Kafein dapat ditemukan dalam berbagai bahan pangan dan minuman, seperti kopi, teh, serta cokelat. Namun, kadar kafein di setiap produk tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang menentukan jumlah kafein pada hasil akhirnya.
Sebagai ilustrasi, meskipun secara umum cokelat dikenal memiliki kandungan kafein yang lebih rendah dibandingkan kopi dan teh, pada kondisi tertentu anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Untuk memahami perbedaannya secara lebih jelas, simak penjelasan berikut ini.
Kandungan kafein dalam cokelat
Kafein termasuk dalam kelompok senyawa metilxantin. Jika dikonsumsi dalam jumlah kecil dan rutin, zat ini dapat memberikan efek peningkatan energi, tergantung pada sensitivitas masing-masing individu.
Pada umumnya, kadar kafein dalam cokelat memang lebih rendah dibandingkan kopi dan teh. Hal ini disebabkan kafein hanya terdapat pada padatan kakao yang berasal dari biji kakao, bukan pada mentega kakao.
Cokelat putih sebagian besar tersusun dari mentega kakao dan hampir tidak mengandung padatan kakao, sehingga tidak mengandung kafein. Semakin tinggi kandungan padatan kakao dalam cokelat, maka semakin besar pula kadar kafeinnya.
Sebagai gambaran, berikut perkiraan kandungan kafein dalam beberapa jenis cokelat:
Cokelat hitam: sekitar 12 miligram (mg) per ons
Cokelat susu: sekitar 5,8 mg per ons
Cokelat putih: 0 mg per ons
Perbandingan kafein cokelat dan kopi
Kopi merupakan salah satu sumber kafein paling populer. Minuman ini dibuat dari biji kopi yang telah disangrai, dengan satu biji kopi rata-rata mengandung sekitar 6 mg kafein. Meski demikian, kadar kafein dalam secangkir kopi sangat dipengaruhi oleh perbandingan kopi dan air serta metode penyeduhannya.
Secara umum, satu teguk espreso (sekitar 30 mililiter) mengandung kurang lebih 64 mg kafein, sementara secangkir kopi seduh berukuran 8 ons mengandung sekitar 95 mg kafein. Sebagai perbandingan, sebatang cokelat hitam Ekuador dengan kadar kakao 75 persen dan berat 50 gram memiliki kandungan kafein yang mendekati satu teguk espreso, yakni sekitar 75 mg.
Namun, cokelat hitam 75 persen yang menggunakan kakao asal Ghana hanya mengandung sekitar 25 mg kafein. Jumlah ini lebih mendekati kandungan kafein pada biji kopi espreso berlapis cokelat dibandingkan secangkir kopi. Sementara itu, porsi konsumsi cokelat yang dianjurkan per hari berkisar antara 1–2 ons atau sekitar 30–60 gram.
Jika dibandingkan, secangkir kopi 8 ons mengandung lebih dari 13 kali lipat kafein dibandingkan satu porsi cokelat susu. Selain itu, kopi tidak mengandung lemak seperti mentega kakao pada cokelat. Kafein sendiri tidak larut dalam lemak, sedangkan mentega kakao merupakan lemak murni yang menyumbang hampir setengah berat biji kakao.
Saat kakao diproses, kafein tetap berada pada padatan kakao dan tidak berpindah ke lemak. Diperkirakan, kandungan lemak dalam mentega kakao membantu memperlambat penyerapan kafein dalam cokelat dibandingkan kopi, sehingga efek energinya terasa lebih stabil tanpa lonjakan gula darah yang tajam.
Perbandingan kafein cokelat dan teh
Selain kopi, teh juga dikenal sebagai sumber kafein. Teh merupakan minuman aromatik yang dihasilkan dari perendaman daun tanaman teh dalam air panas. Kandungan kafein dalam teh dapat bervariasi, tergantung jenis daun, proses pengolahan, dan cara penyeduhan. Di antara berbagai jenis teh, teh hitam umumnya memiliki kadar kafein tertinggi.
Rata-rata, teh populer mengandung sekitar 64–112 mg kafein per 8 ons (225–237 mililiter). Berikut kisaran kandungannya:
Teh hijau: sekitar 30–50 mg kafein per cangkir
Teh kuning: sekitar 40–50 mg per cangkir
Teh oolong: sekitar 38 mg per cangkir
Teh pu-er, baik matang maupun mentah: sekitar 30–70 mg per cangkir
Teh putih: mengandung sekitar 6–55 mg kafein per cangkir
Secara umum, sebagian besar jenis teh memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi dibandingkan cokelat, meskipun hal ini bergantung pada jenis teh dan cokelat yang dibandingkan. Satu porsi cokelat hitam biasanya berada di kisaran tengah kandungan kafein dalam secangkir teh.
Cokelat susu memiliki kadar kafein yang lebih rendah, sebanding dengan teh putih rendah kafein. Namun perlu diingat, teh dan kopi merupakan minuman rendah kalori dan efek stimulasinya cenderung membatasi jumlah konsumsi, sehingga seseorang masih dapat mengonsumsinya hingga 4–5 cangkir per hari.
Sebaliknya, konsumsi cokelat yang dianjurkan hanya sekitar 1–2 ons per hari. Sama seperti cokelat, teh juga mengandung teobromina, meskipun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan cokelat.
Menariknya, teh mengandung asam amino bernama theanine yang tidak ditemukan dalam cokelat. Senyawa ini diketahui dapat memberikan efek relaksasi dengan merangsang gelombang otak alfa yang berkaitan dengan kondisi tenang dan meditasi.
Mirip dengan cokelat, kandungan polifenol dalam teh juga berperan memperlambat penyerapan kafein, sehingga efek rangsangan tidak terasa terlalu tajam seperti pada kopi.
Sementara itu, cokelat panas memang mengandung kafein, tetapi jumlahnya relatif kecil dibandingkan teh, kopi, dan sebagian besar minuman bersoda. Jika menginginkan minuman berbasis cokelat tanpa kafein, susu cokelat siap saji bisa menjadi pilihan.

