Jembatan Putus, Petani Durian Bertaruh Nyawa Angkut Panen

Menu Atas

Jembatan Putus, Petani Durian Bertaruh Nyawa Angkut Panen

Portal Andalas
Senin, 12 Januari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Kerusakan jembatan serta lahan pertanian akibat banjir bandang dan longsor membuat para petani durian di Desa Sibalanga, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara, mengalami kerugian besar. Penanganan bencana yang tidak tepat dinilai berpotensi melahirkan kantong-kantong kemiskinan baru, demikian peringatan para pengamat. Pinahot Panggabean berhenti sejenak. Ia menggulung lengan bajunya, menggenggam seutas tali, lalu melangkah menyeberangi sungai dengan arus deras sambil mengangkat hasil panen menggunakan satu tangan. Pria berusia 33 tahun itu merupakan petani durian asal Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting. Bersama petani lainnya, ia terpaksa mengambil risiko besar menyeberangi sungai sedalam dada orang dewasa. Langkah berbahaya tersebut dilakukan karena jembatan penghubung menuju kebun mereka hanyut diterjang banjir bandang pada 25 November 2025. Padahal, musim durian menjadi salah satu tumpuan utama warga untuk bertahan hidup di tengah kondisi sulit pascabencana. Bagi Pinahot, risiko itu tak terelakkan demi menafkahi keluarga—istri dan dua anaknya yang masih bersekolah. “Sebenarnya takut, tapi karena tanggung jawab keluarga harus dipaksakan. Sekarang kehidupan warga di sini sangat sulit sejak jembatan hanyut. Ini jalur utama untuk membawa hasil ladang,” ujarnya usai menyeberangi sungai, Minggu (28/12). Tak hanya jembatan, banjir dan longsor juga merusak sejumlah ruas jalan sehingga kendaraan tak bisa melintas. Akibatnya, para petani harus berjalan kaki menempuh perbukitan sejauh sekitar empat kilometer sambil memikul hasil panen. Tak sedikit yang mengalami luka lecet dan memar di bahu karena beban berat. “Kami mohon sampaikan ke Presiden Prabowo agar jembatan kami segera diperbaiki, supaya kami bisa kembali bekerja dan mencari nafkah ke ladang,” kata Pinahot kepada wartawan BBC News Indonesia, Nanda Batubara. Bencana Melumpuhkan Perekonomian Warga Durian merupakan buah tropis dari genus Durio, dengan spesies Durio zibethinus yang banyak tumbuh di Sumatra dan Kalimantan. Tanaman ini cocok hidup di ketinggian 100–800 meter di atas permukaan laut, kondisi yang sesuai dengan wilayah Desa Sibalanga. Selama ini, desa tersebut dikenal sebagai salah satu sentra durian di Tapanuli Utara. Di tengah situasi pascabencana, durian menjadi andalan warga untuk bertahan hidup. Sebagian hasil panen dijual, sementara sisanya dikonsumsi bersama keluarga di tenda-tenda pengungsian. Di tingkat petani, harga durian berkisar Rp10.000 per buah untuk ukuran besar dan Rp5.000 untuk ukuran kecil. Selain durian, warga juga menggantungkan hidup dari komoditas lain seperti padi, karet, cabai, dan getah kemenyan. Kini, hampir seluruh sumber penghidupan warga terganggu. Lebih dari sebulan setelah banjir bandang dan longsor, kondisi belum menunjukkan pemulihan berarti. Petani lainnya, Zulkifli Hutabarat (30), menyebut bencana ini telah melumpuhkan sendi-sendi ekonomi desa. “Kami rugi secara kehidupan. Sekitar 80 persen warga berkebun di sini, tapi hasil bumi terhambat. Sudah lebih sebulan kami harus pakai tali untuk menyeberangkan hasil panen,” tuturnya. Bencana tersebut memaksa lebih dari 240 warga dari sekitar 60 kepala keluarga mengungsi. Sebagian tinggal di posko penampungan, sementara lainnya mendirikan tenda darurat di pinggir jalan atau menumpang di rumah kerabat. Saat ini, pemerintah masih menyiapkan hunian sementara bagi warga terdampak di Desa Sibalanga. Sementara untuk hunian tetap, direncanakan pembangunan 103 unit rumah di Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adiankoting, sekitar 16 kilometer dari lokasi terdampak. Untuk kebutuhan sehari-hari, warga pengungsian masih mengandalkan dapur umum yang pasokan pangannya berasal dari bantuan pemerintah dan para dermawan. Kondisi berkepanjangan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga. Dahlan Aritonang (54), petani durian lainnya, mengaku cemas akan masa depan mereka. “Kami takut. Kalau nanti bantuan berhenti, kami makan apa? Tidak mungkin bantuan terus ada,” ujarnya. Sementara itu, Bupati Tapanuli Utara, Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, belum memberikan tanggapan terkait keluhan para petani durian di wilayah tersebut.

Baca Juga