Portalandalas.com - Bagi penyandang diabetes, lonjakan gula darah yang terlalu tinggi (hiperglikemia) maupun penurunan yang terlalu rendah (hipoglikemia) sama-sama berisiko membahayakan kesehatan. Tingkat risikonya dipengaruhi banyak faktor, mulai dari jenis diabetes, terapi yang dijalani, usia, lamanya gula darah berada di luar batas normal, hingga kemampuan seseorang mengenali gejala awalnya.
Ketika kadar gula darah tidak terkontrol dalam jangka waktu lama, tubuh biasanya akan memberikan sinyal peringatan. Gula darah rendah sering memunculkan keluhan seperti keringat dingin, gemetar, atau rasa bingung. Sementara itu, gula darah tinggi dapat ditandai dengan penurunan berat badan, rasa lapar berlebihan, hingga napas yang beraroma manis. Namun, tidak semua penderita merasakan tanda-tanda tersebut.
Jika kondisi ekstrem ini tidak segera ditangani, situasi darurat bisa terjadi dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Dalam kondisi terburuk, komplikasi serius bahkan dapat mengancam nyawa.
Karena pengelolaan diabetes sangat bersifat individual, setiap pasien perlu memahami batas kadar gula darah yang berbahaya—baik yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah—mengenali gejalanya, serta mengetahui langkah yang harus diambil saat kondisi tersebut terjadi.
---
## Hipoglikemia: kapan gula darah rendah menjadi berbahaya?
Bagi penderita diabetes, gula darah rendah sering kali terasa tidak nyaman dan menimbulkan kecemasan, terutama jika terjadi secara mendadak. Kondisi ini juga bisa membuat panik orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, mengenali tanda-tandanya dan mengetahui cara penanganannya menjadi hal yang sangat penting.
Gejala hipoglikemia dapat berbeda pada setiap individu, tetapi umumnya meliputi gemetar, mudah marah, cemas, bingung, rasa lapar berlebihan, jantung berdebar, keringat dingin, pusing, mual, kulit pucat, lemas, mengantuk, penglihatan kabur, kesemutan di bibir atau wajah, sakit kepala, gangguan koordinasi, hingga mimpi buruk saat tidur. Pada kondisi yang berat, hipoglikemia dapat memicu kejang.
American Diabetes Association membagi hipoglikemia ke dalam beberapa tingkat keparahan:
### Level 1: hipoglikemia ringan
Pada tahap ini, kadar gula darah berada di bawah 70 mg/dL (3,9 mmol/L), namun masih di atas atau sama dengan 54 mg/dL (3,0 mmol/L). Kondisi ini menandakan tubuh mulai kekurangan glukosa, tetapi biasanya masih dapat ditangani dengan cepat, misalnya dengan mengonsumsi makanan atau minuman manis.
### Level 2: hipoglikemia sedang
Hipoglikemia tingkat ini terjadi ketika gula darah turun di bawah 54 mg/dL (3,0 mmol/L). Otak mulai kekurangan glukosa sehingga muncul gejala seperti pusing, lemas, gemetar, sulit berkonsentrasi, atau linglung.
Kadar gula serendah ini membutuhkan penanganan segera. Jika seseorang tidak merasakan gejala meski kadar gula darahnya sangat rendah, kondisi tersebut disebut *hypoglycemia unawareness*, yaitu hilangnya kepekaan tubuh terhadap tanda hipoglikemia. Dalam situasi ini, dokter biasanya akan mengevaluasi ulang rencana pengobatan untuk mencegah kejadian serupa.
### Level 3: hipoglikemia berat
Ini merupakan bentuk hipoglikemia paling parah, ditandai dengan gangguan fungsi mental atau fisik yang membuat penderitanya tidak mampu menolong diri sendiri dan memerlukan bantuan orang lain.
Hipoglikemia berat lebih sering terjadi pada penderita diabetes tipe 1 yang menggunakan insulin. Tanpa penanganan cepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi kejang, kehilangan kesadaran, koma, bahkan kematian.
---
## Hiperglikemia: kapan gula darah tinggi menjadi berbahaya?
Kadar gula darah tinggi terkadang tidak langsung menimbulkan masalah. Namun, jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memicu berbagai komplikasi diabetes, baik pada pembuluh darah kecil (mikrovaskular) maupun pembuluh darah besar (makrovaskular).
Target kadar gula darah pada penderita diabetes berbeda-beda, tergantung usia, jenis diabetes, lama penyakit, kondisi kesehatan lain, serta risiko hipoglikemia. Secara umum, target pada orang dewasa meliputi:
* Gula darah puasa: 80–130 mg/dL
* Gula darah 1–2 jam setelah makan: di bawah 180 mg/dL
Kadar di atas rentang tersebut tergolong tinggi, meskipun penilaiannya tetap harus disesuaikan secara individual bersama dokter.
### Kapan harus waspada?
* Jika pemeriksaan menunjukkan gula darah sering berada di atas batas normal
* Jika gula darah tinggi disertai keluhan atau gejala
* Jika gula darah tinggi disertai keton, terutama pada diabetes tipe 1 atau pasien tipe 2 yang menggunakan insulin atau obat golongan SGLT-2 inhibitor
* Jika gula darah tinggi muncul pada seseorang yang belum terdiagnosis diabetes
### Gejala umum hiperglikemia
* Haus berlebihan
* Sering buang air kecil
* Rasa lapar berlebih
* Penglihatan kabur
* Mudah lelah
* Kesemutan atau mati rasa di tangan dan kaki
---
## Kondisi darurat: DKA dan HHNS
**Ketoasidosis diabetik (DKA)** terjadi ketika tubuh kekurangan insulin sehingga tidak dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Akibatnya, tubuh membakar lemak dan menghasilkan keton yang membuat darah menjadi asam. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan koma hingga kematian.
Gejala awal DKA meliputi haus dan sering buang air kecil, sementara gejala lanjut mencakup napas cepat dan dalam, nyeri perut, mual, muntah, kulit dan mulut kering, wajah kemerahan, napas berbau buah, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan ekstrem.
**Sindrom hiperglikemi hiperosmolar nonketotik (HHNS)** lebih sering terjadi pada penderita diabetes tipe 2 yang mengalami infeksi. Meski jarang, kondisi ini dapat menyebabkan gula darah melonjak hingga lebih dari 600 mg/dL.
Gejalanya antara lain haus, sering buang air kecil pada tahap awal, lemas, mual, penurunan berat badan, mulut dan lidah kering, demam, kejang, kebingungan, hingga koma.
---
## Apa yang harus dilakukan saat gula darah terlalu rendah atau terlalu tinggi?
Hipoglikemia dapat segera ditangani dengan karbohidrat yang cepat diserap, seperti jus buah, gula atau madu, permen, tablet glukosa, atau gel glukosa.
Dikenal aturan “15–15”, yaitu mengonsumsi 15–20 gram karbohidrat cepat serap, lalu memeriksa ulang gula darah setelah 15 menit. Jika masih di bawah 70 mg/dL, langkah ini diulang hingga kadar gula meningkat.
Hindari makanan berlemak seperti cokelat karena lemak memperlambat penyerapan gula. Protein juga tidak dianjurkan sebagai penanganan awal karena dapat memicu pelepasan insulin tanpa menaikkan gula darah.
Setelah gula darah stabil, konsumsi camilan yang mengandung karbohidrat dan protein untuk mencegah penurunan ulang. Hindari makan berlebihan agar gula darah tidak justru melonjak.
Pada hipoglikemia berat, penderita biasanya tidak mampu menolong diri sendiri. Dalam kondisi ini, orang lain perlu memberikan glukagon. Karena itu, keluarga dan pengasuh perlu memahami cara penggunaannya.
Penanganan hiperglikemia bergantung pada tingkat keparahan, penyebab, dan ada tidaknya keton. Jika gula darah naik akibat salah hitung karbohidrat atau kurang insulin, dosis tambahan insulin mungkin diperlukan. Namun, jika kadar sangat tinggi dan disertai gejala atau keton, segera hubungi dokter.
---
## Risiko jika tidak segera ditangani
Hipoglikemia berat dan ketoasidosis diabetik merupakan kondisi darurat yang dapat berujung pada koma atau kematian. Hipoglikemia berulang pada anak-anak dapat memengaruhi fungsi kognitif, sedangkan pada lansia sering terjadi *hypoglycemia unawareness*.
Sementara itu, gula darah tinggi yang berlangsung lama meningkatkan risiko komplikasi diabetes. Penelitian menunjukkan bahwa pengendalian gula darah yang baik pada diabetes tipe 1 dapat menurunkan risiko kerusakan mata, saraf, dan ginjal hingga 50–76 persen.
---
## Penyebab gula darah berada pada tingkat berbahaya
Hipoglikemia dapat dipicu oleh waktu atau dosis obat yang tidak tepat, melewatkan makan, konsumsi alkohol, aktivitas fisik berlebihan, atau pemberian insulin yang tidak sesuai.
Hiperglikemia biasanya berkaitan dengan lupa minum obat, gangguan pada pompa insulin, penggunaan obat yang tidak sesuai aturan, atau adanya penyakit dan infeksi.
Jika diperlukan perawatan di rumah sakit, penanganan sebaiknya dilakukan oleh tenaga medis berpengalaman dalam manajemen diabetes. Pada kondisi seperti DKA, terapi umumnya mencakup pemberian cairan, insulin, dan koreksi elektrolit.
---
## Mencegah gula darah berada pada tingkat berbahaya
Dokter merekomendasikan pemeriksaan gula darah rutin bagi orang berusia di atas 35 tahun untuk mendeteksi diabetes lebih dini.
Bagi penderita diabetes, langkah pencegahan meliputi bekerja sama dengan dokter, memantau gula darah secara teratur, minum obat sesuai anjuran, meningkatkan pengetahuan tentang faktor yang memengaruhi gula darah, serta menjaga pola makan dan aktivitas fisik.
Bahkan pada orang tanpa diabetes, membatasi konsumsi gula dan karbohidrat olahan serta tetap aktif secara fisik dapat membantu menjaga kestabilan gula darah.
Gula darah yang terlalu rendah atau terlalu tinggi merupakan kondisi serius yang memerlukan perhatian segera. Jika ragu mengenai langkah yang harus diambil, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

