Kondisi destinasi wisata Danau Kaco di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dilaporkan semakin mengkhawatirkan. Sampah plastik serta sisa perbekalan wisatawan menumpuk di sepanjang jalur menuju lokasi hingga area tepi danau, sehingga mengancam kelestarian ekosistem yang berstatus warisan dunia itu.
Menanggapi situasi tersebut, pemerhati lingkungan Randy Vitora melontarkan kritik tajam kepada pengelola yang dinilai lebih mengejar keuntungan dibandingkan menjalankan kewajiban menjaga kelestarian alam.
Ia mengaku prihatin melihat salah satu ikon wisata Kerinci justru tercemar oleh sampah. Menurutnya, pengunjung dikenakan tarif masuk Rp10.000 dan parkir Rp15.000. Jika jumlah wisatawan mencapai ratusan orang setiap akhir pekan, maka patut dipertanyakan pemanfaatan dana retribusi apabila kebersihan kawasan saja tidak terurus. Randy menilai kondisi ini sebagai bentuk kelalaian sistematis yang berpotensi mempercepat kerusakan kawasan hutan.
Lebih lanjut, ia meminta pihak berwenang segera mengambil langkah tegas dan luar biasa guna menyelamatkan Danau Kaco. Salah satu usulannya adalah penutupan sementara objek wisata tersebut agar dapat dilakukan pembersihan menyeluruh serta pemulihan lingkungan tanpa aktivitas pengunjung.
Randy juga mendesak Balai Besar TNKS bersama pemerintah daerah agar tidak bersikap pasif. Ia mengusulkan penerapan aturan yang lebih ketat, seperti pemberlakuan sistem deposit sampah bagi wisatawan serta sanksi administratif terhadap pengelola yang lalai menjalankan tugas.
Menurutnya, Danau Kaco bukan sekadar destinasi wisata, melainkan aset dunia yang wajib dijaga kelestariannya. Jika pengelola dinilai tidak mampu mengelola kebersihan dan keberlanjutan kawasan, maka perlu dilakukan evaluasi menyeluruh hingga kemungkinan pengalihan pengelolaan kepada pihak yang lebih bertanggung jawab.
Sementara itu, Forum Pemuda Peduli Lingkungan menyatakan komitmennya untuk terus mengawal persoalan ini hingga ada perubahan nyata di lapangan. Apabila dalam waktu dekat belum ada aksi pembersihan, mereka berencana menggelar gerakan sosial berskala lebih besar demi menyelamatkan Danau Kaco.
