BNPB Ungkap Fakta Mengejutkan: 54 Sekolah Lumpuh, Siswa Belajar di Tenda

Menu Atas

BNPB Ungkap Fakta Mengejutkan: 54 Sekolah Lumpuh, Siswa Belajar di Tenda

Portal Andalas
Rabu, 07 Januari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa para siswa yang terdampak bencana di wilayah Sumatera masih harus mengikuti kegiatan belajar mengajar di tenda darurat selama sekitar dua hingga tiga pekan ke depan. Menurutnya, sistem pembelajaran sementara ini akan terus diterapkan hingga seluruh bangunan sekolah dinyatakan bersih dan kembali layak digunakan. “Sekolah-sekolah yang sejak kemarin mulai melaksanakan kegiatan belajar di tenda darurat kemungkinan masih akan berlangsung selama dua sampai tiga minggu ke depan, sampai kondisi sekolah benar-benar pulih dan dapat dimanfaatkan kembali secara optimal,” ujar Abdul Muhari saat ditemui di Kantor Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa (6/12/2025). Ia menjelaskan, pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kesiapan fasilitas pendidikan pascabencana. Saat ini, tercatat sekitar 54 sekolah tidak dapat difungsikan karena mengalami kerusakan cukup parah. Sebagai langkah sementara, BNPB menyediakan tenda darurat untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. “Untuk wilayah Aceh saja, BNPB telah menyiapkan setidaknya enam tenda di Pidie Jaya, lima tenda di Gayo, serta sejumlah tenda lainnya di beberapa daerah yang masih membutuhkan ruang belajar darurat,” jelasnya. Abdul Muhari menegaskan bahwa kegiatan belajar di tenda tidak akan mengurangi konsentrasi siswa dalam menuntut ilmu. Pasalnya, selain ruang belajar sementara, pemerintah juga melengkapi kebutuhan penunjang pendidikan seperti buku dan perlengkapan sekolah lainnya. “Fokus belajar tetap terjaga. Kami tidak hanya menyediakan ruang sementara, tetapi juga memastikan seluruh perlengkapan belajar, termasuk buku dan kebutuhan sekolah lainnya, tersedia dengan baik,” katanya. Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa proses pemulihan sekolah-sekolah yang tertutup lumpur diperkirakan masih akan berlangsung selama dua hingga tiga minggu ke depan. Estimasi tersebut bersifat sementara karena di beberapa lokasi endapan lumpur masih cukup tebal. “Perkiraan dua sampai tiga minggu ini masih bersifat kasar, mengingat di sejumlah titik kondisi lumpur masih cukup parah,” imbuhnya. Pemulihan sekolah membutuhkan waktu relatif lama karena hampir seluruh fasilitas penunjang pendidikan mengalami kerusakan akibat banjir dan lumpur. Meja, kursi, serta berbagai peralatan sekolah dilaporkan rusak. Bahkan, di beberapa sekolah yang bangunannya sebenarnya masih bisa digunakan, siswa terpaksa belajar di lantai karena keterbatasan fasilitas.

Baca Juga