Portalandalas.com - Pengamat ekonomi Jambi, Noviardi Ferzi, mengingatkan bahwa pembangunan Jalan Tol Jambi–Palembang menghadirkan peluang pertumbuhan ekonomi baru, tetapi juga menyimpan potensi risiko apabila tidak dibarengi kebijakan yang terarah dan terukur.
Ia menilai, tanpa langkah intervensi yang tepat, peningkatan konektivitas justru bisa mendorong pergeseran pola konsumsi masyarakat serta talenta muda Jambi ke wilayah Sumatera Selatan. Kemudahan akses dikhawatirkan memicu arus belanja, investasi, hingga tenaga kerja produktif keluar dari provinsi.
Menurutnya, pemangkasan waktu tempuh dari semula 10–12 jam menjadi sekitar tiga jam setelah ruas Ness–Tempino–Bayung Lencir dan seluruh koridor beroperasi optimal akan meningkatkan efisiensi logistik secara signifikan. Distribusi komoditas seperti sawit, barang konsumsi, hingga pasokan pangan dari Sumatera Selatan diprediksi menjadi lebih cepat dan berbiaya lebih rendah.
Secara makroekonomi, ia memperkirakan potensi kenaikan PDRB Jambi dapat berada di kisaran 0,5 hingga 1 persen pada tahap awal pengoperasian penuh. Angka tersebut dinilainya cukup realistis bagi daerah yang bertumpu pada sektor komoditas.
Ia memahami optimisme Al Haris yang menyebut jalan tol sebagai urat nadi baru perekonomian provinsi. Namun, ia menegaskan bahwa pengalaman di sejumlah ruas Tol Trans Jawa menunjukkan konektivitas tidak selalu berbanding lurus dengan pemerataan manfaat ekonomi.
Ia memaparkan tiga persoalan klasik yang kerap muncul, yakni proyeksi volume lalu lintas yang meleset 20–30 persen, masa penyesuaian ekonomi yang bisa berlangsung hingga tiga atau empat tahun, serta dampak bypass terhadap pelaku UMKM di jalur lama.
Fenomena bypass, jelasnya, menyebabkan kendaraan dan wisatawan tidak lagi singgah di pusat-pusat kota lama. Di beberapa wilayah Jawa Tengah, misalnya, omzet pelaku usaha di jalur non-tol dilaporkan menurun hingga 25–35 persen setelah tol beroperasi penuh.
Hal serupa juga terjadi di Sumatera Utara pada ruas Tol Simpang Panei–Pematangsiantar, ketika kota-kota penyangga mengalami penurunan arus belanja karena kendaraan hanya melintas tanpa berhenti.
Bagi Jambi, risiko yang lebih strategis adalah potensi keluarnya arus modal menuju Palembang. Dengan infrastruktur yang lebih matang, pusat perbelanjaan besar, tenaga kerja terampil, serta pangsa pasar yang lebih luas, ibu kota Sumatera Selatan dinilai berpeluang menyerap investasi dan konsumsi dari Jambi seiring kemudahan akses tol.
Ia mengingatkan, jika tidak diantisipasi, masyarakat Jambi bisa lebih memilih berbelanja ke Palembang, investor membuka pusat distribusi di Sumatera Selatan, dan generasi muda mencari pekerjaan di sana karena peluang yang dianggap lebih menjanjikan. Fenomena ini ia sebut sebagai migrasi konsumsi dan brain drain.
Untuk mengurangi potensi tersebut, ia mendorong pemerintah daerah segera merancang zona ekonomi baru di sekitar pintu keluar tol seperti Muaro Jambi dan Seko. Kawasan tersebut dapat difokuskan pada pengembangan agroindustri dan logistik guna menciptakan pusat pertumbuhan baru di dalam provinsi.
Ia juga menilai pemberian insentif pajak daerah selama lima tahun penting untuk mempertahankan investasi tetap berada di Jambi. Selain itu, percepatan digitalisasi terhadap sedikitnya 1.000 UMKM di kawasan kota lama perlu dilakukan agar pelaku usaha tidak hanya mengandalkan lalu lintas kendaraan fisik.
Menurutnya, keberadaan tol seharusnya tidak hanya menjadi jalur transportasi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai penghubung distribusi digital melalui e-commerce.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguatan pendidikan vokasi dan kemitraan antara kampus dan industri untuk menyiapkan tenaga kerja terampil, khususnya di sektor rantai pasok sawit dan logistik. Langkah ini dinilai krusial guna menekan potensi perpindahan sumber daya manusia produktif ke luar daerah.
Ia menutup pandangannya dengan menegaskan bahwa jalan tol merupakan instrumen ekonomi. Jika dikelola secara strategis, infrastruktur tersebut dapat menjadi pendorong pertumbuhan yang inklusif. Namun tanpa desain kebijakan yang matang, tol justru berisiko menjadi jalur keluarnya modal dan potensi daerah.

