Sarjana Makin Banyak, Tapi Kenapa Pengangguran Terdidik Masih Tinggi?

Menu Atas

Sarjana Makin Banyak, Tapi Kenapa Pengangguran Terdidik Masih Tinggi?

Portal Andalas
Senin, 02 Maret 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Pandangan bahwa pendidikan tinggi adalah jalur pasti menuju kehidupan yang lebih baik kini mulai dipertanyakan. Di tengah meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi setiap tahun, kenyataan menunjukkan bahwa gelar akademik tidak selalu menjamin pekerjaan tetap maupun kesejahteraan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam beberapa tahun terakhir, pengangguran terdidik masih menjadi tantangan. Lulusan diploma dan sarjana tetap menyumbang angka pengangguran terbuka, meskipun kebutuhan industri terus berkembang. Situasi ini menandakan adanya ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Sejumlah pakar pendidikan menilai bahwa perguruan tinggi di Indonesia masih cenderung menitikberatkan teori dibandingkan keterampilan praktis. Akibatnya, banyak lulusan dianggap belum siap menghadapi dunia kerja yang menuntut kemampuan adaptasi, penguasaan teknologi, serta daya pikir kritis. Dari sisi lain, tekanan ekonomi turut memperumit keadaan. Biaya pendidikan yang semakin tinggi membuat mahasiswa dan lulusan memikul harapan besar, baik dari diri sendiri maupun keluarga. Gelar sarjana kerap dianggap sebagai tiket perubahan nasib. Ketika kenyataan pekerjaan tidak sesuai ekspektasi, rasa kecewa hingga frustrasi pun sulit dihindari. Kondisi ini juga dirasakan generasi muda. Sebagian lulusan terpaksa bekerja di luar bidang studinya dengan upah yang tidak sepadan dengan lama pendidikan. Ada pula yang memilih jalur alternatif, seperti berwirausaha, menjadi pekerja lepas, atau mempelajari keterampilan digital secara mandiri. Pengamat ketenagakerjaan menegaskan bahwa persoalan ini bukan semata-mata kegagalan individu. Negara, lembaga pendidikan, dan sektor industri memiliki tanggung jawab bersama dalam menciptakan sistem yang lebih selaras. Pendidikan tinggi tetap memiliki peran penting, tetapi perlu disertai pembaruan kurikulum, penguatan kerja sama dengan industri, serta penciptaan lapangan kerja yang berkualitas. Di era yang terus berubah, kuliah bukan lagi satu-satunya jalan menuju keberhasilan, melainkan salah satu opsi. Tantangan ke depan bukan sekadar mendorong generasi muda untuk menempuh pendidikan tinggi, tetapi memastikan bahwa pendidikan tersebut benar-benar relevan dan mampu membekali mereka menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.

Baca Juga