Rupiah Terancam Melemah! Ini Biang Keroknya dari Konflik Timur Tengah

Menu Atas

Rupiah Terancam Melemah! Ini Biang Keroknya dari Konflik Timur Tengah

Portal Andalas
Senin, 23 Maret 2026
Bagikan:

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS setelah libur Idulfitri 2026 diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah, berada di kisaran Rp16.990 hingga Rp17.075 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (17/3/2026) pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup stabil di level Rp16.997 per dolar AS, sementara indeks dolar AS melemah 0,19% ke posisi 99,89.

Pergerakan mata uang Asia lainnya terpantau bervariasi. Yen Jepang, dolar Hong Kong, dan dolar Singapura mengalami pelemahan, sedangkan dolar Taiwan, won Korea Selatan, peso Filipina, yuan China, serta ringgit Malaysia menguat. Sementara itu, baht Thailand justru melemah.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pergerakan rupiah yang cenderung stagnan sebelumnya dipengaruhi gangguan distribusi di Selat Hormuz akibat konflik antara AS serta Israel dengan Iran. Konflik yang telah memasuki pekan ketiga ini belum menunjukkan tanda-tanda gencatan senjata, sehingga mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Menurutnya, lonjakan harga minyak tetap terjadi meski Presiden AS Donald Trump telah meminta bantuan negara-negara NATO untuk menyelesaikan ketegangan di Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran masih mengizinkan kapal yang tidak terkait dengan AS dan Israel untuk melintas di jalur tersebut.

Dari sisi global, Federal Reserve diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Sementara dari dalam negeri, pemerintah berkomitmen menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3%, meski sebelumnya sempat diproyeksikan melampaui angka tersebut. Upaya pengendalian dilakukan dengan menekan pengeluaran yang dinilai tidak prioritas, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga di level 4,75% dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak.

Di sisi lain, kebijakan terbaru Bank Indonesia yang memperketat kewajiban dokumen pendukung (underlying) untuk transaksi valuta asing mulai 1 April 2026 dinilai dapat menahan pelemahan rupiah. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk., Josua Pardede, menilai langkah tersebut cukup efektif meredam tekanan dalam jangka pendek, meski lebih berfungsi sebagai penahan gejolak dibandingkan pendorong penguatan signifikan.

BI menurunkan batas kewajiban dokumen untuk pembelian valas tunai dari US$100.000 menjadi US$50.000 per pelaku per bulan, termasuk untuk transfer ke luar negeri. Sebaliknya, untuk mendukung kebutuhan lindung nilai, batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dinaikkan dari US$5 juta menjadi US$10 juta per transaksi.

Josua menilai kebijakan ini akan mengubah perilaku pasar, karena transaksi valas dalam jumlah menengah hingga besar menjadi lebih mudah terpantau, sehingga ruang spekulasi pembelian dolar berlebih dapat ditekan. Selain itu, peningkatan batas DNDF juga membantu mengurangi penumpukan permintaan dolar di pasar spot.

Dengan cadangan devisa sebesar US$151,9 miliar per akhir Februari 2026 atau setara 6,1 bulan impor, Bank Indonesia dinilai masih memiliki ruang intervensi yang kuat di pasar domestik maupun offshore.

Meski demikian, tekanan utama terhadap rupiah masih berasal dari faktor global. Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak, penguatan dolar AS, serta kenaikan imbal hasil obligasi AS yang pada akhirnya mendorong arus keluar modal dari pasar negara berkembang.

Baca Juga