Bolehkah Tahajud Berjamaah? Ini Penjelasan yang Jarang Diketahui!

Menu Atas

Bolehkah Tahajud Berjamaah? Ini Penjelasan yang Jarang Diketahui!

Portal Andalas
Kamis, 19 Maret 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - **Apakah Salat Tahajud Boleh Dilakukan Berjamaah?** Salat tahajud merupakan salah satu ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar. Ibadah ini dikerjakan setelah tidur, terutama pada sepertiga malam terakhir, dan diyakini mampu mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 79: “Dan pada sebagian malam, laksanakanlah salat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” Karena sifatnya yang sangat pribadi dan dilakukan dalam suasana sunyi, salat tahajud umumnya dikerjakan secara sendiri (munfarid). Namun, dalam praktik seperti kegiatan mabit, pesantren kilat, atau acara keagamaan lainnya, sering muncul pertanyaan: apakah tahajud boleh dilakukan secara berjamaah? **Tahajud Berjamaah: Diperbolehkan atau Tidak?** Imam An-Nawawi dalam kitabnya *Al-Majmu’* menjelaskan bahwa salat sunnah terbagi menjadi dua kategori utama. Pertama, salat sunnah yang memang dianjurkan dilakukan secara berjamaah, seperti salat Id, salat gerhana (kusuf/khusuf), salat istisqa, dan salat tarawih. Pada jenis ini, berjamaah merupakan bagian dari kesunnahannya. Kedua, salat sunnah yang tidak disunnahkan berjamaah, yaitu selain yang disebutkan di atas, termasuk tahajud, witir, dhuha, dan lainnya. Meski demikian, Imam An-Nawawi menegaskan bahwa jika salat sunnah seperti tahajud dilakukan secara berjamaah, hukumnya tetap sah. Hanya saja, tidak mendapatkan keutamaan khusus sebagai salat berjamaah. Pendapat ini juga diperkuat oleh Sayyid Abdurrahman Ba’alawi dalam *Bughyatul Mustarsyidin* yang menyatakan bahwa salat sunnah seperti witir atau tasbih boleh dikerjakan secara berjamaah. Tidak ada larangan dan tidak pula dihukumi makruh, hanya saja pahala berjamaah secara khusus tidak berlaku. **Jika Tanpa Pahala Jamaah, Apa Manfaatnya?** Walaupun tidak memperoleh keutamaan berjamaah, para ulama menjelaskan bahwa tetap ada pahala lain yang bisa diraih dari niat yang baik. Misalnya, niat untuk membimbing jamaah atau santri, memotivasi agar lebih giat beribadah, mengajarkan tata cara salat sunnah, atau menghidupkan malam dengan ibadah bersama. Dalam hal ini, pahala yang didapat berasal dari tujuan mendidik dan memotivasi tersebut, bukan dari aspek berjamaahnya. Inilah alasan mengapa di banyak pesantren atau komunitas dakwah, tahajud berjamaah tetap dilakukan sebagai sarana pembinaan spiritual. **Kesimpulan** Pada dasarnya, salat tahajud lebih dianjurkan dilakukan secara individu. Namun, jika dikerjakan berjamaah, hukumnya tetap sah dan diperbolehkan. Meski tidak mendapatkan pahala khusus berjamaah, tetap ada nilai ibadah dari niat-niat baik seperti mengajar dan memotivasi. Dengan memahami hal ini, pelaksanaan tahajud berjamaah bisa ditempatkan secara proporsional. Intinya, keutamaan utama tahajud tetap terletak pada keikhlasan dan kekhusyukan dalam bermunajat kepada Allah di keheningan malam. Wallahu a’lam.

Baca Juga