Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa: Anggaran MBG Tak Dipotong, Kecuali yang Tak Produktif

Menu Atas

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa: Anggaran MBG Tak Dipotong, Kecuali yang Tak Produktif

Portal Andalas
Selasa, 10 Maret 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan memantau efisiensi anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah harga minyak dunia menembus angka di atas US$100 per barel. Pemerintah berencana mengamati dampak lonjakan harga minyak global tersebut selama sekitar satu bulan ke depan. Meski demikian, ia menegaskan langkah pemantauan itu bukan berarti pemerintah akan memangkas anggaran program tersebut. Menurutnya, pengurangan hanya akan dilakukan pada pengeluaran yang dinilai tidak produktif. “Program MBG tidak akan dipotong, kecuali pada bagian yang tidak produktif,” ujar Purbaya saat melakukan kunjungan ke Pasar Tanah Abang di Jakarta, Senin (9/3/2026). Sebagai bendahara negara, Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah akan meninjau kembali sejumlah anggaran yang dianggap tidak terlalu penting. Contohnya adalah rencana pengadaan kendaraan dinas seperti sepeda motor baru atau pembelian komputer. Ia menegaskan bahwa evaluasi anggaran tersebut akan difokuskan pada pengadaan barang yang tidak berkaitan langsung dengan penyediaan makanan. Dengan begitu, belanja untuk program makan bergizi gratis diharapkan benar-benar digunakan secara efektif dan efisien. Setelah periode pemantauan selama satu bulan, pemerintah akan kembali menghitung perkembangan harga minyak serta dampaknya terhadap kondisi keuangan negara. “Setelah itu kita akan melihat lagi bagaimana harga minyak dan dampaknya, sehingga kita bisa mengambil kebijakan yang tepat,” ujarnya. Sebelumnya, opsi penghematan pada pengeluaran program MBG sempat disampaikan Purbaya saat acara buka puasa bersama wartawan di kantornya pada 6 Maret 2026. Kebijakan tersebut dipertimbangkan sebagai langkah antisipasi untuk menekan potensi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat kenaikan harga minyak dunia. Kala itu, Purbaya menjelaskan bahwa berdasarkan perhitungan Kementerian Keuangan Republik Indonesia, jika harga minyak dunia mencapai sekitar US$92 per barel, maka defisit APBN diperkirakan dapat melebar hingga sekitar 3,6 hingga 3,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia pernah menghadapi kondisi ketika harga minyak dunia melonjak sangat tinggi, bahkan mencapai kisaran US$150 hingga US$200 per barel. Meskipun demikian, situasi tersebut tidak membuat perekonomian nasional langsung terpuruk, meski sempat mengalami perlambatan. Sementara itu, harga minyak global pada Senin (9/3/2026) tercatat telah menembus level di atas US$100 per barel. Pada saat yang sama, pasar keuangan domestik juga ikut terpengaruh. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melemah hingga 2,79 persen ke posisi 7.374 pada awal perdagangan. Penurunan tersebut terjadi seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang sempat jatuh hingga mendekati Rp17.000 per dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan hari yang sama.

Baca Juga