Mengutip The Korea Herald, sebanyak 22,2% responden mengaku kerap kehilangan fokus ketika membaca lebih dari 10 menit, sementara 8,4% lainnya menyatakan sangat kesulitan. Jika digabungkan, sekitar 30,6% siswa menghadapi kendala dalam memahami bacaan panjang.
Di sisi lain, 26% siswa menyebut tidak mengalami kesulitan, dan 15% lainnya bahkan merasa sama sekali tidak terganggu. Artinya, sekitar 41% responden masih mampu menjaga konsentrasi saat membaca.
Menurut pihak Jinhaksa, temuan ini mengindikasikan adanya kemungkinan penurunan rentang perhatian di kalangan pelajar. Kondisi tersebut dikhawatirkan menjadi tantangan tambahan, terutama ketika mereka harus memahami teks panjang dalam ujian masuk perguruan tinggi, Suneung.
Fenomena ini juga dikaitkan dengan tingginya konsumsi konten video berdurasi singkat. Sebanyak 57,9% responden mengaku sering membuka platform seperti YouTube Shorts dan Instagram Reels tanpa tujuan yang jelas.
Selain itu, kemampuan mengontrol waktu menonton juga dinilai masih rendah. Sebanyak 78,4% siswa mengaku kerap menonton lebih lama dari rencana awal, sementara hanya sekitar 20% yang mampu berhenti sesuai keinginan.
Kepala riset strategi penerimaan Jinhaksa, Woo Yeon-cheol, menjelaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi konten singkat dapat memengaruhi cara otak dalam memproses informasi. Otak menjadi lebih terbiasa menerima rangsangan cepat dan intens dalam waktu singkat.
Untuk meningkatkan kembali kemampuan fokus dalam belajar, siswa disarankan membiasakan diri membaca teks panjang secara utuh. Buku pelajaran maupun artikel berita dinilai efektif untuk melatih konsentrasi dan pemahaman terhadap bacaan yang lebih kompleks.
