10 Pilar Pernikahan Ini Jadi Penentu Hubungan Bertahan atau Berakhir

Menu Atas

10 Pilar Pernikahan Ini Jadi Penentu Hubungan Bertahan atau Berakhir

Portal Andalas
Jumat, 06 Maret 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Dalam perjalanan rumah tangga, tidak jarang pasangan menghadapi berbagai ujian yang membuat mereka mulai mempertanyakan kelanjutan hubungan. Pada titik tertentu, seseorang bisa saja bertanya pada dirinya sendiri, apakah pernikahan tersebut masih layak dipertahankan atau justru sudah saatnya diakhiri. Psikolog klinis Winona Lalita R., M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada standar baku yang bisa dijadikan patokan untuk menentukan apakah sebuah pernikahan harus dipertahankan atau berakhir dengan perceraian. Menurutnya, setiap hubungan memiliki dinamika yang berbeda-beda sehingga keputusan tersebut sangat bergantung pada kondisi dan situasi masing-masing pasangan. “Tidak ada ukuran pasti untuk menilai apakah suatu hubungan masih layak dipertahankan atau sebaiknya berpisah. Semua kembali pada dinamika yang terjadi dalam hubungan pasangan tersebut,” ujar Winona saat diwawancarai Kompas.com, Senin (27/10/2025). Pernikahan Diibaratkan Seperti Rumah dengan Sepuluh Pilar Winona menjelaskan bahwa pernikahan dapat dianalogikan seperti sebuah rumah yang berdiri kokoh karena ditopang oleh sepuluh pilar utama. Pilar-pilar ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan dan ketahanan sebuah hubungan. Ia menyarankan pasangan untuk mengevaluasi satu per satu pilar tersebut guna melihat kondisi hubungan mereka. “Coba periksa dari sepuluh pilar itu, mana yang masih kuat berdiri, mana yang mulai retak, dan mana yang mungkin sudah runtuh,” jelasnya. Sepuluh pilar yang dimaksud meliputi beberapa aspek penting dalam kehidupan pernikahan. Pilar pertama adalah kepribadian, yaitu kesesuaian karakter, nilai hidup, dan gaya hidup antara pasangan. Pilar kedua adalah komunikasi, yang mencakup keterbukaan, kejujuran, serta kemampuan memahami perasaan satu sama lain. Selanjutnya adalah kemampuan menyelesaikan konflik. Cara pasangan menghadapi perbedaan pendapat dan mencari solusi sangat menentukan keberlangsungan hubungan. Masalah finansial juga menjadi pilar penting. Pengelolaan keuangan yang sehat dan kesepakatan bersama mengenai pengeluaran sering kali menjadi faktor penentu stabilitas rumah tangga. Selain itu, ada pula pilar yang berkaitan dengan hobi dan pengembangan diri. Pasangan perlu mampu menjaga keseimbangan antara waktu pribadi dan waktu bersama. Hubungan seksual juga termasuk pilar penting karena berkaitan dengan kedekatan emosional dan fisik yang sehat antara suami dan istri. Pilar berikutnya adalah pola pengasuhan anak. Kesamaan pandangan dalam mendidik anak dapat membantu menghindari konflik dalam keluarga. Faktor budaya keluarga dan lingkungan juga berperan. Pasangan perlu mampu beradaptasi dengan keluarga besar dan lingkungan sosial masing-masing. Kemudian ada pembagian peran dalam rumah tangga, yaitu kesepakatan mengenai tanggung jawab masing-masing pasangan. Terakhir adalah nilai religius atau spiritualitas, yaitu bagaimana pasangan memaknai hubungan mereka dengan Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan rumah tangga. Menilai Kekuatan Pilar dalam Hubungan Menurut Winona, sebelum mengambil keputusan besar seperti bertahan atau berpisah, pasangan sebaiknya menilai terlebih dahulu kondisi setiap pilar tersebut. Ia menyarankan pasangan untuk melihat secara jujur apakah sebagian besar pilar masih kokoh atau justru sudah banyak yang mengalami kerusakan. Misalnya, jika dari sepuluh pilar tersebut hanya satu atau dua yang mulai melemah, pasangan masih memiliki peluang besar untuk memperbaiki hubungan. Delapan pilar lainnya bisa menjadi kekuatan yang menopang keberlangsungan rumah tangga. Namun jika sebagian besar pilar sudah runtuh dan hubungan tersebut menimbulkan tekanan emosional yang berat, maka pasangan perlu mempertimbangkan kembali masa depan hubungan mereka. Jika masih ada peluang untuk memperbaiki keadaan, maka pernikahan tersebut layak untuk diperjuangkan bersama. Sebaliknya, jika kerusakan sudah terlalu banyak dan hubungan tersebut justru menimbulkan ketidakbahagiaan yang mendalam, berpisah bisa menjadi pilihan yang lebih sehat. Melepaskan Bukan Selalu Berarti Gagal Winona juga menekankan bahwa perceraian tidak selalu berarti kegagalan dalam hidup seseorang. Dalam beberapa kondisi, keputusan untuk berpisah justru bisa menjadi bentuk keberanian untuk menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan diri. “Melepaskan tidak selalu berarti gagal. Bisa jadi itu adalah bentuk usaha kita untuk menjaga kesehatan mental,” ujarnya. Meski demikian, ia mengingatkan agar pasangan tidak mengambil keputusan secara terburu-buru. Setiap keputusan yang menyangkut masa depan pernikahan sebaiknya dipikirkan secara matang. Pasangan perlu menilai kembali hubungan mereka dengan jujur dan mempertimbangkan apakah masalah yang ada masih dapat diperbaiki atau tidak. “Jangan langsung terburu-buru untuk melepaskan. Coba lihat kembali, apakah hubungan tersebut masih bisa diperbaiki,” tambahnya. Pada akhirnya, pernikahan bukan sekadar tentang bertahan dalam hubungan. Lebih dari itu, pernikahan adalah proses di mana dua orang saling belajar, bertumbuh, dan memperkuat fondasi hubungan mereka. Dengan memahami sepuluh pilar tersebut, pasangan dapat lebih bijak dalam menilai kondisi rumah tangga mereka. Dari sana, mereka bisa menentukan apakah hubungan tersebut masih layak diperjuangkan atau justru sudah saatnya dilepaskan demi kebaikan bersama.

Baca Juga