Warga Muara Cuban Blokade Jalan Tambang Ilegal, Nyaris Bentrok!

Menu Atas

Warga Muara Cuban Blokade Jalan Tambang Ilegal, Nyaris Bentrok!

Portal Andalas
Kamis, 26 Februari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Sarolangun, puluhan warga Dusun Muara Cuban pada Senin (23/2/2026) mendatangi lokasi bongkar muat aktivitas tambang emas ilegal yang berada tidak jauh dari permukiman. Mereka membawa karton bertuliskan penolakan terhadap aktivitas tersebut. Beberapa tulisan di antaranya berbunyi, “Maaf aktivitas tambang emas ilegal harus ditutup karena jalan rusak parah,” serta “Desa kami desa wisata, bukan desa PETI.” Warga juga memasang pagar kawat di pintu masuk jalan yang biasa dilalui alat berat excavator. Aksi pemasangan karton dan kawat sempat memicu ketegangan karena adanya penolakan dari pihak penambang yang keberatan jalannya ditutup. Situasi sempat memanas dan nyaris terjadi bentrokan antara warga yang menolak aktivitas ilegal dengan pihak pemilik tambang. Beruntung, sejumlah tokoh masyarakat datang menenangkan suasana hingga akhirnya dilakukan perundingan, meski belum menghasilkan kesepakatan final. Salah seorang warga, Sukarni (45), mengaku sangat kecewa dengan aktivitas PETI karena dampak negatif yang dirasakan masyarakat cukup besar. Ia menyebut jalan umum yang digunakan warga untuk aktivitas sehari-hari kini rusak parah hingga kendaraan roda empat yang biasa digunakan untuk membawa kebutuhan pokok ke dusun tidak lagi bisa melintas, sehingga aktivitas ekonomi ikut terganggu. Selain itu, kampung mereka yang sebelumnya sering dikunjungi wisatawan kini mulai sepi karena kondisi jalan rusak dan adanya aktivitas tambang ilegal, sehingga banyak pengunjung membatalkan kunjungan. Ia juga menuturkan bahwa sejak adanya aktivitas PETI, keharmonisan warga mulai terganggu. Air yang sebelumnya jernih kini berubah menjadi keruh dan berlumpur. Warga berharap media dapat menyampaikan aspirasi mereka kepada pemerintah karena mereka menduga adanya campur tangan oknum aparat dalam membekingi aktivitas tersebut. Warga sempat menanyakan kepada salah satu pemilik tambang yang enggan disebutkan namanya. Pihak tersebut mengaku alat berat mereka masuk dengan persetujuan panitia yang mengatur persyaratan melintasi desa. “Kalau jalan rusak kami tidak tahu, kami hanya memenuhi syarat untuk masuk,” ujar salah satu pemilik tambang. Pernyataan tersebut semakin memicu ketegangan antara warga yang menolak aktivitas PETI di wilayah Batang Asai. Warga juga menyayangkan belum dapat meminta klarifikasi langsung kepada pihak kepolisian setempat maupun pimpinan kepolisian daerah. Dari penelusuran di lapangan, kondisi jalan yang digunakan masyarakat memang mengalami kerusakan parah, tidak hanya karena dilalui excavator tetapi juga kendaraan pengangkut minyak untuk aktivitas tambang yang melebihi kapasitas jalan. Selain itu, ditemukan dugaan penggunaan bahan bakar oplosan, yakni minyak subsidi yang dicampur dengan minyak dari aktivitas pengeboran ilegal. Praktik ini diduga dilakukan untuk menghindari pajak. Ironisnya, warga menyebut pemasok minyak tersebut diduga berasal dari oknum aparat berseragam coklat dan hijau.

Baca Juga