Terlalu Fokus Karier, Lupa Masa Tua? Ini Dampaknya!

Menu Atas

Terlalu Fokus Karier, Lupa Masa Tua? Ini Dampaknya!

Portal Andalas
Sabtu, 28 Februari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Perjalanan karier hampir tak pernah benar-benar lurus. Ada yang melesat tanpa banyak hambatan, ada yang penuh rintangan, bahkan ada pula yang terasa stagnan. Semua kemungkinan itu bisa dialami siapa saja. Satu hal yang pasti, karier tidak dibangun secara instan. Tidak ada kesuksesan profesional yang tercipta hanya dalam semalam. Karena itu, wajar jika di awal perjalanan ada yang merasa salah memilih pekerjaan, kurang percaya diri, atau belum menemukan bidang yang benar-benar sesuai. Di tengah perjalanan pun arah bisa berubah. Minat berkembang, passion bergeser. Dulu bercita-cita mengejar A, kini justru merasa lebih cocok di B. Penting untuk disadari bahwa setiap jenjang karier, di level apa pun, selalu memiliki tantangan tersendiri. Tidak ada pekerjaan tanpa ujian. Ada fase ketika seseorang diragukan kemampuannya sebelum akhirnya dipercaya. Ada masa ketika diremehkan sebelum akhirnya dihargai. Bahkan tak jarang, seseorang harus mengemban tugas di luar tanggung jawab resminya sebelum dinilai layak memegang amanah yang lebih besar. Begitulah dinamika dunia kerja. Seseorang kerap baru memahami bidang yang benar-benar cocok setelah mencoba berbagai hal, termasuk mengalami kegagalan. Dalam proses itu pula, kita belajar mengenali berbagai tipe kepemimpinan: ada atasan yang kurang kompeten, ada pula pemimpin yang elegan dan mampu membimbing dengan bijak. Maka, jatuh bangun dalam karier bukanlah tanda kegagalan. Justru itulah proses pertumbuhan. Membangun karier menuntut pembelajaran berkelanjutan, kemampuan beradaptasi, serta visi jangka panjang—termasuk dalam merencanakan kondisi finansial dan masa pensiun. Sayangnya, banyak orang begitu fokus mengejar puncak karier. Bekerja dari pagi hingga larut malam demi promosi, kenaikan pangkat, atau peningkatan gaji. Namun setelah puluhan tahun berlalu, ketika masa pensiun tiba, justru dihadapkan pada kenyataan pahit: kondisi keuangan tidak memadai. Terlalu keras mengejar posisi, tetapi lupa menyiapkan hari tua. Padahal, setiap pekerja pada akhirnya pasti akan memasuki fase pensiun. Karier bukan satu-satunya tujuan hidup. Ketenangan di masa tua seharusnya menjadi bagian dari perencanaan. Karier dan dana pensiun sama-sama penting dan perlu dipersiapkan sejak dini. Keduanya memiliki hubungan yang erat. Sejak seseorang mulai bekerja, perjalanan karier akan memengaruhi kebutuhan dana pensiun di masa depan. Semakin panjang dan stabil karier, biasanya semakin tinggi pula standar hidup yang terbentuk. Ketika penghasilan meningkat, gaya hidup cenderung ikut naik. Pertanyaannya, bagaimana mempertahankan standar hidup tersebut saat sudah tidak lagi menerima gaji bulanan jika tidak memiliki dana pensiun yang cukup? Fasilitas yang diberikan perusahaan pun beragam. Ada perusahaan yang menyediakan program dana pensiun atau DPLK, namun ada juga yang tidak menawarkan manfaat tersebut. Artinya, jenis pekerjaan dan kebijakan perusahaan turut memengaruhi kesiapan pensiun seseorang. Idealnya, perencanaan karier berjalan seiring dengan perencanaan masa pensiun: kapan ingin berhenti bekerja, berapa kebutuhan hidup yang diinginkan, dan bagaimana mencapainya. Setinggi apa pun jabatan yang diraih, kebutuhan akan kesiapan finansial di masa tua tetap tidak bisa diabaikan. Kenaikan gaji setiap tahun seharusnya tidak semata-mata digunakan untuk meningkatkan gaya hidup. Justru momen itu menjadi kesempatan untuk memperbesar tabungan atau investasi pensiun. Promosi jabatan, bonus, dan tambahan penghasilan semestinya diiringi dengan peningkatan kontribusi dana pensiun. Terlebih bagi mereka yang kerap berpindah pekerjaan atau bekerja sebagai freelancer, tanggung jawab mempersiapkan masa pensiun sepenuhnya berada di tangan sendiri. Tanpa perencanaan yang matang, risiko kesulitan finansial di hari tua sangat besar. Fakta menunjukkan bahwa masih banyak pensiunan yang bergantung pada dukungan anak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini terjadi karena selama masa produktif, mereka tidak menyiapkan dana pensiun secara memadai. Banyak pekerja yang belum siap menghadapi masa pensiun karena kurangnya perencanaan dan disiplin finansial sejak awal karier. Pesannya sederhana: selama masih aktif bekerja dan memiliki penghasilan, manfaatkan kesempatan itu untuk menyiapkan masa depan. Jangan sepenuhnya menggantungkan harapan pada perusahaan tempat bekerja. Mulailah dari diri sendiri untuk membangun dana pensiun yang cukup. Dengan begitu, perjalanan karier tetap bisa dijalani dengan semangat, dan masa pensiun pun dapat dinikmati dengan tenang. Kerja tetap maksimal, hari tua pun aman dan nyaman.

Baca Juga