Portalandalas.com - Wakil Direktur Pelayanan RSUD Jambi dr. Anton Trihartanto memastikan bahwa ketersediaan stok obat di rumah sakit tersebut berada dalam kondisi aman dan diperkirakan mencukupi hingga enam bulan ke depan. Ia menegaskan bahwa meskipun sebelumnya sempat terjadi kekosongan obat, saat ini seluruh kebutuhan sudah terpenuhi kembali.
Anton menjelaskan, sebelumnya memang sempat muncul keluhan terkait ketersediaan obat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP). Namun kini proses pengadaan telah berjalan dengan baik setelah mendapat dukungan anggaran dari APBD, sehingga stok obat maupun bahan medis sudah dapat dipastikan aman.
Menurutnya, ketersediaan berbagai kebutuhan dasar seperti cairan infus, kateter, selang hidung, hingga sarung tangan menjadi bukti komitmen rumah sakit dalam menjaga mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat Jambi. Ia menyebutkan bahwa kebutuhan obat, baik untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap, telah direncanakan secara matang melalui pemetaan kebutuhan yang terukur.
Anton menyampaikan rasa syukur karena stok obat saat ini berada dalam kondisi stabil untuk beberapa bulan ke depan. Hal tersebut merupakan hasil dari perencanaan yang lebih baik serta pengendalian distribusi yang dilakukan secara lebih ketat.
Dokter spesialis bedah tersebut juga menekankan bahwa kebutuhan obat dan alat kesehatan habis pakai merupakan komponen vital dalam pelayanan medis. Ia memastikan bahwa kekosongan yang sempat terjadi kini telah kembali normal dan tidak lagi menjadi kendala berarti.
Ia menjelaskan bahwa kekurangan pada beberapa jenis obat sebelumnya bersifat parsial dan terjadi akibat proses pengadaan serta distribusi yang masih berjalan. Meski demikian, pihak rumah sakit tetap berupaya memberikan pelayanan medis secara optimal sesuai standar yang berlaku selama masa kekosongan tersebut.
Anton berharap ke depan tidak ada lagi kekosongan pada obat-obatan dasar tertentu. Hal ini menjadi target agar dalam enam bulan mendatang tidak muncul kembali keluhan masyarakat terkait ketersediaan obat.
Selain memastikan ketersediaan obat, pihak rumah sakit juga terus melakukan pembenahan di berbagai aspek layanan. Menanggapi anggapan bahwa kekurangan obat dapat menurunkan kualitas pelayanan selama Ramadan, Anton menilai hal tersebut tidak benar.
Ia menegaskan bahwa seluruh pelayanan publik di RSUD Jambi harus terus ditingkatkan, termasuk pelayanan di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Peningkatan layanan ini berlaku bagi seluruh pasien tanpa terkecuali, termasuk peserta BPJS Kesehatan kelas 3 maupun masyarakat kurang mampu.
Menurut Anton, jumlah pasien yang bersifat fluktuatif membuat pihak rumah sakit harus memastikan semua pasien tetap dapat ditangani secara optimal dan profesional.
Berbagai upaya peningkatan terus dilakukan, mulai dari percepatan antrean pasien, peningkatan disiplin tenaga kesehatan, hingga optimalisasi sistem digital rumah sakit terutama di bidang administrasi. Ia menyadari bahwa pelayanan kesehatan sebagai layanan publik harus mampu berjalan secara prima, cepat, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Langkah pembenahan ini merupakan bagian dari transformasi layanan menuju rumah sakit yang lebih modern, transparan, serta berfokus pada keselamatan pasien. Anton juga menegaskan komitmen untuk terus menjaga mutu layanan sesuai dengan standar akreditasi rumah sakit.
Ia menyebut rumah sakit sebagai milik bersama masyarakat, sehingga momentum Ramadan diharapkan menjadi doa bersama agar kualitas pelayanan semakin baik dan terus meningkat demi menjaga kepercayaan publik terhadap RS Mataher.
Dengan jaminan ketersediaan stok obat serta pembenahan layanan yang terus dilakukan, diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan milik pemerintah daerah semakin meningkat. Dukungan dari Pemerintah Provinsi Jambi juga dinilai penting agar berbagai upaya perbaikan dapat berjalan optimal sebagai bagian dari peningkatan derajat kesehatan masyarakat di daerah tersebut.

