Portalandalas.com - Bulan Ramadan kini sedang kita jalani. Tentu setiap Muslim berharap bisa meraih keberkahan sekaligus pahala yang dilipatgandakan di bulan istimewa ini. Lantas, bagaimana caranya agar puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus? Berikut tiga amalan utama puasa Ramadan menurut Adi Hidayat.
Dalam salah satu ceramahnya, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa agar puasa benar-benar bernilai dan berdampak pada peningkatan ketakwaan, ada semacam “kurikulum” ibadah yang perlu diterapkan sejak awal Ramadan.
Menurut beliau, pedoman itu bisa ditemukan dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surah Al-Baqarah ayat 183. Di penghujung ayat tersebut terdapat frasa “la’allakum tattaqun”.
Kata “la’alla” dalam kajian tafsir dan ilmu nahwu disebut sebagai *harfut tarajji*, yakni ungkapan harapan atau keinginan besar yang hanya dapat diraih dengan kesungguhan. Artinya, tidak semua orang yang berpuasa otomatis meraih derajat takwa. Hanya mereka yang menjalankannya dengan serius dan sungguh-sungguh yang berpeluang mendapatkan peningkatan kualitas diri serta kemuliaan di sisi Allah SWT.
Berikut tiga amalan utama yang menjadi kurikulum ibadah Nabi Muhammad SAW sebagaimana dijelaskan Ustaz Adi Hidayat:
### 1. Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Salat
Jangan merasa cukup hanya dengan menunaikan salat wajib. Ramadan menjadi momen tepat untuk menambah salat sunnah. Ustaz Adi Hidayat menekankan pentingnya salat sunnah Rawatib yang berjumlah 12 rakaat: 2 rakaat sebelum Subuh, 4 sebelum Zuhur, 2 setelah Zuhur, 2 setelah Magrib, dan 2 setelah Isya. Keutamaannya sangat besar, yakni dijanjikan sebuah rumah di surga.
Selain Rawatib, umat Muslim juga dianjurkan memperbanyak salat sunnah mutlak dan salat Dhuha. Salat Dhuha sendiri memiliki beberapa waktu utama:
* **Awal Dhuha (Syuruq)**: Sekitar satu setengah jam setelah Subuh, dua rakaat. Pahalanya disebut setara dengan haji dan umrah yang sempurna.
* **Pertengahan Dhuha**: Sekitar pukul 08.00–10.00 pagi, dua hingga empat rakaat. Keutamaannya dapat menggantikan zikir bagi seluruh persendian tubuh serta menjadi sebab terhindar dari musibah.
* **Akhir Dhuha**: Sekitar pukul 10.00–11.00 menjelang Zuhur, dua sampai delapan rakaat. Waktu ini dikenal baik untuk memohon kelapangan rezeki.
Tak kalah penting, jangan meninggalkan salat malam seperti Tarawih, Tahajud, dan Witir yang menjadi ciri khas ibadah Ramadan.
### 2. Memperbanyak Interaksi dengan Al-Qur'an
Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an, sehingga sudah selayaknya kitab suci ini menjadi sahabat terdekat selama bulan puasa. Ada dua bentuk interaksi yang dianjurkan:
* **Qira’ah (membaca)**: Tetapkan target, misalnya satu juz per hari agar bisa khatam dalam sebulan. Untuk memudahkan, satu juz dapat dibagi dalam lima waktu salat fardu. Caranya, membaca sekitar 14 ayat sebelum salat dan 14 ayat setelahnya.
* **Tilawah (mengkaji dan memahami)**: Tidak hanya membaca, tetapi juga menghadiri majelis tafsir atau kajian Al-Qur'an. Orang yang mempelajari Al-Qur'an dijanjikan rahmat, ketenangan hati (sakinah), doa dari para malaikat, bahkan namanya disebut dengan bangga di hadapan makhluk langit.
### 3. Menyiapkan Harta untuk Infaq dan Sedekah
Ramadan juga menjadi waktu terbaik untuk berbagi. Pahala sedekah di bulan ini dilipatgandakan hingga 700 kali lipat, bahkan bisa lebih sesuai kehendak Allah SWT.
Ustaz Adi Hidayat menyarankan agar umat Muslim menyiapkan anggaran khusus untuk infaq dan sedekah, bahkan sebelum Ramadan tiba. Tidak harus dalam jumlah besar. Berbagi bisa dimulai dari hal sederhana, seperti menyediakan kurma, buah, atau air minum di masjid untuk orang-orang yang berbuka puasa.
Dengan menerapkan tiga amalan utama tersebut—meningkatkan kualitas salat, memperbanyak interaksi dengan Al-Qur'an, serta gemar bersedekah—puasa Ramadan diharapkan tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan benar-benar mengantarkan pada peningkatan takwa sebagaimana tujuan yang disebutkan dalam Al-Qur'an.

