Portalandalas.com - Pertemuan yang melibatkan unsur Cipayung di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh menimbulkan tanda tanya di kalangan internal organisasi. Pasalnya, salah satu kepengurusan OKP menyatakan tidak pernah menerima informasi ataupun undangan resmi terkait agenda tersebut.
Situasi ini pun memunculkan kecurigaan. Bagaimana mungkin sebuah forum yang diklaim sebagai pertemuan bersama justru tidak mengikutsertakan seluruh unsur kepengurusan? Jika agenda itu memang resmi dan terbuka, seharusnya proses komunikasi dilakukan secara transparan, bukan secara terbatas dan tertutup.
Seorang sumber internal menyebutkan, waktu pelaksanaan pertemuan yang berdekatan dengan Idulfitri semakin memancing spekulasi. Muncul pertanyaan apakah kegiatan tersebut murni konsolidasi organisasi atau memiliki kaitan dengan dinamika lain yang kerap muncul menjelang momen Lebaran.
Masyarakat tentu wajar mempertanyakan hal ini. Terlebih sebelumnya sempat beredar isu mengenai dugaan praktik “menjemput” THR yang kerap mencuat setiap menjelang hari raya. Jika benar terdapat agenda terselubung, persoalannya bukan lagi sekadar etika organisasi, tetapi menyangkut integritas gerakan kepemudaan secara keseluruhan.
Organisasi kepemudaan idealnya menjadi ruang kaderisasi, penguatan gagasan, serta fungsi kontrol sosial yang bermartabat—bukan arena transaksi kepentingan musiman. Keterbukaan menjadi elemen penting. Jika tidak ada yang perlu ditutup-tutupi, semestinya prosesnya berjalan secara terbuka.
Hingga berita ini disusun pada Kamis (26/2/2026), belum ada pernyataan resmi yang disampaikan. Klarifikasi yang jelas dan transparan dibutuhkan agar tidak berkembang spekulasi liar yang berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap marwah organisasi.

