Portalandalas.com - Model “Sekolah Pertanian Terintegrasi dengan Peternakan dan Budidaya Tanaman” yang diterapkan di Sekolah Menengah Pertama Semi-Asrama Etnis Minoritas Thai Nien, Komune Bao Thang, terbukti memberikan banyak manfaat. Program ini tidak hanya meningkatkan kualitas konsumsi siswa asrama, tetapi juga melatih keterampilan hidup, menumbuhkan rasa cinta terhadap kerja, serta memperkuat ikatan siswa dengan lingkungan sekolah.
Setiap pagi, usai bangun tidur, bersiap, dan sarapan, Vang Seo Cuong dan Giang Seo Quang—siswa kelas 7A—menyisihkan waktu sekitar sepuluh menit untuk memberi makan dan minum hampir 400 ekor burung puyuh milik sekolah. Sejak awal tahun ajaran, keduanya memang dipercaya untuk merawat unggas tersebut, sehingga aktivitas seperti mengisi pakan, mengganti air minum, hingga membersihkan kandang telah menjadi rutinitas harian.
Riuh kicauan burung puyuh yang ceria membuat pekerjaan mereka terasa menyenangkan meski cukup menyita waktu. “Saya senang melihat burung-burung itu tumbuh besar dari hari ke hari,” ungkap Cuong dengan antusias.
Tak jauh dari kandang puyuh, kebun sayur sekolah selalu dipenuhi tawa dan canda para siswa setiap sore. Deretan sayuran hijau tumbuh subur dan tertata rapi, dilengkapi jalan setapak kecil agar memudahkan perawatan. Jenis tanaman disesuaikan dengan musim, dengan dominasi sayuran hijau pada periode saat ini.
Sepulang sekolah, para siswa berkumpul di kebun untuk mengolah tanah, membersihkan gulma, menangkap hama, serta merawat bibit tanaman. Bagi anak-anak yang terbiasa hidup di pedesaan, kegiatan ini bukanlah hal baru, sehingga mereka menjalaninya dengan penuh kegembiraan.
Thao Thi Sinh, siswa kelas 6A, mengungkapkan kebanggaannya, “Setiap hari kami menyiram dan merawat tanaman. Melihat sayuran tumbuh lebih segar dan sehat membuat saya sangat bangga.”
Saat masa panen tiba, suasana kebun semakin ramai. Para siswa memanen sayuran dengan rapi, memisahkan daun layu, lalu membawanya ke kantin sekolah. Sayuran tersebut langsung diolah pada hari yang sama untuk menu makan para siswa asrama. Karena itu, kebahagiaan mereka tidak hanya datang dari proses menanam dan memanen, tetapi juga dari menikmati hasil kerja keras sendiri. “Karena kami menanamnya sendiri, rasanya jadi lebih enak saat dimasak,” ujar Ma Thi Ha My.
Diluncurkan pada tahun 2020, model sekolah pertanian terintegrasi ini telah menjadi perhatian selama lima tahun terakhir. Menyesuaikan dengan kondisi lokal dan tantangan hidup siswa asrama, sekolah mengembangkan sistem pertanian yang terhubung langsung dengan kebutuhan kantin.
Kepala sekolah, Vu Thi Thanh Mai, menjelaskan bahwa pada tahun ajaran ini terdapat 181 siswa asrama dari total 252 siswa. Untuk meningkatkan kualitas gizi, sekolah memelihara burung puyuh, ayam, dan merpati, serta menanam berbagai sayuran musiman. Setiap tahun, sekolah mampu menghasilkan lebih dari 300 kilogram daging dan sekitar 1.000 kilogram sayuran hijau yang langsung dimanfaatkan untuk konsumsi siswa.
Lebih dari sekadar pemenuhan gizi, program ini diintegrasikan ke dalam pembelajaran berbasis pengalaman. Guru mengaitkan teori di kelas dengan praktik lapangan melalui mata pelajaran seperti Teknologi, Biologi, dan Kimia. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga memperoleh keterampilan praktis serta gambaran arah karier yang relevan dengan kondisi daerah. Sekolah rata-rata menyelenggarakan sekitar 70 sesi pembelajaran berbasis model ini setiap tahunnya.
Secara nyata, penerapan model ini membawa dampak positif, termasuk meningkatnya motivasi belajar dan tingkat kehadiran siswa. Dalam beberapa tahun terakhir, sekolah tidak lagi mencatat angka putus sekolah, kehadiran tetap tinggi, serta kepercayaan orang tua dan komunitas etnis minoritas terhadap pendidikan lokal semakin kuat.
Meski demikian, pihak sekolah berharap adanya dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, terutama pemerintah daerah, khususnya dalam penyediaan ternak dan bahan pendukung. Dukungan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan siswa asrama, sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan berkelanjutan.

