Portalandalas.com - Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra meninggalkan luka mendalam, terutama bagi anak-anak yang seketika kehilangan orang tua dan harus menjalani hidup sebagai yatim piatu. Hingga kini, masa depan anak-anak korban bencana tersebut masih menyisakan banyak tanda tanya.
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, menyebut anak-anak yang kehilangan orang tua membutuhkan rasa aman, kepastian pemenuhan kebutuhan dasar, serta jaminan keberlanjutan pendidikan. Oleh karena itu, ia menegaskan negara memiliki tanggung jawab penuh terhadap keberlangsungan hidup dan masa depan mereka.
Hal senada disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang memastikan pemerintah pusat akan memberikan perlindungan serta jaminan sosial, khususnya dalam aspek pendidikan hingga anak-anak tersebut mampu hidup mandiri.
“Pendidikan sampai tuntas, artinya hingga mereka bisa berdiri sendiri. Bisa sampai kuliah atau minimal lulus SMA dan siap menjadi tenaga kerja terampil,” ujar Saifullah Yusuf kepada BBC News Indonesia, Senin (06/01).
Jaminan sosial yang dimaksud mencakup pemenuhan kebutuhan dasar, penyediaan makanan bergizi, layanan kesehatan, serta akses pendidikan yang berkelanjutan.
Kehilangan Ayah dan Ibu Sekaligus
Ismawanto, seorang kakek lanjut usia, menuturkan kisah pilu cucunya, Gio Farezky Ramadhan, yang belum genap berusia tiga tahun. Gio menjadi yatim piatu setelah ayah dan ibunya terseret banjir bandang disertai longsor.
“Beberapa hari setelah kejadian, dia sempat mencari ibunya, tapi kami alihkan supaya tidak terus mengingat,” ujar Ismawanto dengan suara bergetar.
Hingga kini, Gio belum memahami bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Namun, kenangan tentang ayah dan ibunya masih melekat kuat, terutama saat melewati tempat-tempat yang sering mereka kunjungi.
“Kalau lewat jalan tertentu, dia suka bilang ‘itu rumah adik’,” ucap Ismawanto menirukan ucapan cucunya yang masih terbata-bata.
Gio juga kerap mengingat ayahnya ketika melihat mobil Brio kuning yang terparkir di rumah. Ia menyebutnya sebagai “mobil Heru kuning”, panggilan yang ia gunakan untuk ayahnya, Khairu Ramadhan. Sementara sang ibu, Chintya Rizkyka, dipanggil Gio dengan sebutan “Cia”.
Ismawanto mengaku bersyukur Gio belum pernah menangis keras mencari ayah dan ibunya, namun ia sadar suatu saat pertanyaan pahit itu akan muncul.
Detik-detik Bencana
Tragedi itu terjadi pada 26 November 2025. Hujan deras mengguyur sejak pagi, namun aktivitas keluarga tetap berjalan seperti biasa di sebuah kafe kawasan wisata Pestak, Kabupaten Aceh Tengah.
Saat hujan semakin lebat, Gio sempat dibawa pulang lebih dulu, sementara orang tuanya dan anggota keluarga lain tetap berada di lokasi. Tak lama setelah itu, banjir bandang disertai longsor menghantam kawasan tersebut.
“Kami baru tahu setelah magrib. Keponakan datang bilang Rizka ada di rumah sakit, yang lain belum diketahui,” tutur Ismawanto.
Dari kejadian itu, tiga anak Ismawanto meninggal dunia, sementara dua lainnya hingga kini belum ditemukan. Proses pencarian resmi telah dihentikan pada 25 Desember 2025, namun ia masih berharap ada kabar tentang anak-anaknya.
Data otoritas setempat mencatat, bencana banjir bandang dan longsor di Aceh menyebabkan 514 orang meninggal dunia, sementara 31 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Ditinggal Ibu dan Dua Adik
Kisah serupa dialami Natasya, bocah 10 tahun asal Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah. Ia kehilangan ibu dan dua adiknya akibat longsor yang menghantam rumah mereka.
Ayahnya, Hermansyah Putra, mengatakan putrinya sering mengungkapkan kerinduan pada sang ibu.
“Kalau rindu, dia menyebut nama ibunya. Kami hanya bisa mengajaknya berziarah ke makam,” ujarnya lirih.
Saat bencana terjadi, Hermansyah tengah membersihkan parit, sementara istrinya, Yeni, berada di rumah bersama anak-anak. Longsor dari bukit di belakang rumah tiba-tiba runtuh, menyeret bangunan beserta penghuninya.
Yeni dan dua anaknya tidak selamat. Hermansyah mengaku kehilangan arah setelah harus menguburkan tiga anggota keluarganya sekaligus.
Kini, Natasya tampak lebih pendiam. Ia lebih sering berada di dekat adiknya yang masih bayi, Aqeel, yang juga sering menangis di malam hari sejak kehilangan ibu.
Harapan pada Negara
Gio kini diasuh oleh kakeknya, sementara Natasya dan adiknya diasuh oleh kerabat dari keluarga ibu mereka. Meski keluarga berusaha memberikan pengasuhan terbaik, mereka berharap ada kehadiran negara untuk membantu meringankan beban, terutama demi masa depan anak-anak tersebut.
KPAI menyebut masih menemukan anak-anak yang terpisah dari keluarga atau orang tuanya belum ditemukan. Upaya reunifikasi terus dilakukan, dan jika tidak memungkinkan, pengasuhan akan diupayakan melalui keluarga besar terlebih dahulu.
Selain pendidikan dan kesehatan, Diyah menekankan pentingnya perlindungan khusus bagi anak-anak korban bencana, terutama dari risiko kekerasan di lokasi pengungsian.
Sementara itu, Juru Bicara Posko Penanggulangan Bencana Aceh, Murthalamuddin, mengatakan pendataan anak yatim piatu masih berlangsung karena fokus utama masih pada penanganan darurat.
Pemerintah Aceh sendiri telah mengalokasikan anggaran beasiswa yatim sebesar Rp165 miliar pada tahun ini, meningkat dari Rp127 miliar tahun sebelumnya.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan kembali bahwa pemerintah pusat akan memastikan anak-anak korban bencana mendapatkan perlindungan menyeluruh, mulai dari kebutuhan dasar hingga pendidikan.
“Semua itu diawali dengan pendataan yang valid. Setelah jelas, akan ditentukan apakah anak diasuh keluarga atau di asrama, lalu diberikan beasiswa,” jelasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya pemulihan trauma agar anak-anak tidak menjadi korban lanjutan akibat bencana, termasuk melalui program trauma healing dan pendampingan psikososial.

