Sebagai bentuk kekecewaan, warga melakukan aksi protes dengan cara menanam pohon pisang di titik-titik jalan yang rusak dan berlubang. Aksi ini tampak di ruas jalan sepanjang kurang lebih satu kilometer di RT 05, di mana batang-batang pisang ditancapkan tepat pada lubang-lubang besar yang tersebar hampir di seluruh badan jalan. Beberapa di antaranya bahkan dilengkapi tulisan bernada sindiran, sebagai bentuk kritik terhadap lambannya penanganan dari pemerintah.
Kondisi jalan tersebut dinilai sudah tidak layak dilalui. Lubang-lubang besar yang dalam dan memanjang berubah menjadi ancaman serius, terutama saat hujan turun. Genangan air menutupi permukaan jalan, membuat pengendara kesulitan membedakan antara aspal dan lubang.
“Kalau hujan, lubangnya tidak kelihatan. Harus pelan-pelan, kalau tidak bisa jatuh,” ujar Muhammad, salah seorang pengendara motor yang melintas.
Aksi penanaman pohon pisang ini bukan sekadar simbolis. Warga menyebutnya sebagai bentuk keputusan setelah berbagai keluhan yang disampaikan sebelumnya tidak kunjung mendapat tanggapan. Jalan tersebut merupakan kewenangan Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi, namun hingga saat ini belum terlihat adanya tanda-tanda perbaikan.
Kepala Desa Talang Belido, Fadli, membenarkan adanya aksi tersebut. Ia menegaskan bahwa warga hanya ingin suara mereka didengar. “Betul, itu bentuk protes warga. Jalan itu kewenangan kabupaten,” ujarnya singkat.
Minimnya respons pemerintah pun memunculkan pertanyaan serius terkait komitmen terhadap pembangunan infrastruktur dasar yang berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat. Di tengah ancaman kecelakaan yang terus mengintai, pohon-pohon pisang yang berdiri di tengah jalan kini menjadi simbol nyata bahwa warga tidak lagi sekadar mengeluh, melainkan telah menyuarakan protes secara terbuka.
