Sering Haus dan Lemas? Bisa Jadi Gula Darah Sudah Lewat Batas Ini

Menu Atas

Sering Haus dan Lemas? Bisa Jadi Gula Darah Sudah Lewat Batas Ini

Portal Andalas
Sabtu, 14 Maret 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Penentuan seseorang menderita diabetes tidak bisa hanya didasarkan pada keluhan atau gejala yang dirasakan. Diagnosis penyakit ini harus dilakukan melalui pemeriksaan kadar gula darah di laboratorium dengan batas nilai yang sudah ditetapkan secara medis. Dokter spesialis endokrinologi dari **Siloam Hospitals TB Simatupang**, **dr. I Gusti Ngurah Adhiartha, Sp.PD-KEMD, FINASIM**, menjelaskan bahwa diagnosis diabetes harus mengacu pada hasil pemeriksaan laboratorium yang jelas. “Diagnosis diabetes itu ada angkanya,” ujarnya saat diwawancarai pada Selasa (9/12/2025). ### Batas gula darah puasa sebagai acuan awal Menurut Adhiartha, salah satu pemeriksaan utama untuk mengetahui apakah seseorang mengalami diabetes adalah tes gula darah puasa. Tes ini dilakukan setelah seseorang tidak mengonsumsi makanan maupun minuman berkalori selama sekitar delapan jam. Hasil pemeriksaan kemudian dibandingkan dengan standar kadar gula darah dalam satuan miligram per desiliter (mg/dL), yaitu: * **Normal:** 70–90 mg/dL * **Gangguan glukosa puasa atau prediabetes:** 100–125 mg/dL * **Diabetes:** ≥126 mg/dL Ia menjelaskan bahwa seseorang baru dapat dikatakan menderita diabetes apabila kadar gula darah puasanya mencapai atau melebihi 126 mg/dL. Selain itu, ia menekankan bahwa pemeriksaan untuk memastikan diagnosis sebaiknya menggunakan **darah vena di laboratorium**, bukan darah kapiler dari alat cek gula darah sederhana seperti glukometer. ### Pemeriksaan gula darah setelah makan Selain tes gula darah puasa, dokter juga dapat menggunakan pemeriksaan gula darah dua jam setelah makan sebagai dasar penentuan diagnosis. Nilai acuannya adalah sebagai berikut: * **Normal:** kurang dari 140 mg/dL * **Gangguan toleransi glukosa atau prediabetes:** 140–199 mg/dL * **Diabetes:** 200 mg/dL atau lebih Adhiartha menambahkan bahwa kadar gula darah sewaktu yang mencapai 200 mg/dL atau lebih bisa mengarah pada diagnosis diabetes, terutama jika disertai dengan gejala khas. Tes gula darah sewaktu sendiri dapat dilakukan kapan saja tanpa harus memperhatikan waktu makan. Namun, hasil tersebut biasanya perlu disertai gejala seperti sering haus, sering buang air kecil, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. ### Gula darah tinggi belum tentu diabetes Adhiartha juga mengingatkan bahwa kadar gula darah yang tinggi tidak selalu berarti seseorang menderita diabetes. Ada kondisi yang disebut **hiperglikemia sementara**, di mana kadar gula darah meningkat hanya dalam waktu singkat. Hal ini bisa terjadi akibat beberapa faktor, seperti stres, demam, infeksi, atau penggunaan obat tertentu, misalnya obat golongan steroid. Dalam kondisi tersebut, kadar gula darah biasanya akan kembali normal setelah penyebabnya hilang. Berbeda dengan hiperglikemia sementara, diabetes merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan gula darah yang terjadi secara terus-menerus. ### Siapa yang sebaiknya memeriksa gula darah? Pemeriksaan gula darah dianjurkan terutama bagi orang-orang yang memiliki faktor risiko lebih tinggi. Beberapa faktor risiko tersebut antara lain: * Memiliki riwayat diabetes dalam keluarga * Mengalami obesitas atau kelebihan berat badan * Menderita tekanan darah tinggi (hipertensi) * Memiliki gangguan kadar kolesterol * Perempuan yang pernah mengalami diabetes saat hamil Ia juga menyoroti perubahan tren usia penderita diabetes. Jika dahulu penyakit ini lebih banyak ditemukan pada orang berusia di atas 40 tahun, kini kasus **diabetes tipe 2** semakin sering ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda. “Kalau ada satu orang diabetes di keluarga, biasanya ada banyak calon diabetes lain di keluarga itu,” jelasnya. ### Pentingnya deteksi dini Adhiartha menekankan bahwa mendeteksi diabetes sejak dini sangat penting. Hal ini karena penanganan diabetes tidak hanya berkaitan dengan kadar gula darah saja, tetapi juga kesehatan organ-organ lain dalam tubuh. Pemeriksaan lanjutan biasanya diperlukan untuk mengetahui apakah diabetes sudah memengaruhi organ seperti ginjal, jantung, atau bagian tubuh lainnya. “Sekarang penanganan diabetes tidak hanya fokus pada gula darah, tetapi juga memperhatikan kondisi ginjal, jantung, dan organ lain,” ungkapnya. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara langsung ke dokter tetap diperlukan agar diagnosis dapat ditegakkan secara tepat dan penanganan bisa dilakukan sedini mungkin.

Baca Juga