Publik Soroti TPST RKE Sungai Penuh, Aktivis Minta Transparansi Pengelolaan Sampah

Menu Atas

Publik Soroti TPST RKE Sungai Penuh, Aktivis Minta Transparansi Pengelolaan Sampah

Portal Andalas
Rabu, 11 Maret 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Bau tak sedap ternyata bukan hanya berasal dari tumpukan sampah yang masih menjadi persoalan di Kota Sungai Penuh. Di balik itu, muncul pula dugaan adanya upaya “bersih-bersih mendadak” yang dilakukan menjelang kunjungan Gubernur Jambi, Al Haris. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang berada di kawasan Renah Kayu Embun (RKE), yang selama ini disebut-sebut sering dalam kondisi terbengkalai, tiba-tiba terlihat rapi dan bersih saat dikunjungi orang nomor satu di Provinsi Jambi tersebut pada Sabtu (7/3/2026). Aktivis Sungai Penuh, Yolan, menyoroti perubahan drastis tersebut. Ia menilai kondisi TPST RKE seolah berubah dalam waktu sangat singkat. Padahal, menurutnya, hanya sekitar lima hari sebelum kedatangan gubernur, lokasi itu dilaporkan masih berantakan, dipenuhi tumpukan sampah, dan tidak terlihat aktivitas pekerja sama sekali. Situasi ini kemudian memunculkan pertanyaan terkait janji Wali Kota Sungai Penuh, Alfin, bersama Wakil Wali Kota Azhar Hamzah, yang sebelumnya menyampaikan komitmen untuk memodernisasi sistem pengelolaan sampah di daerah tersebut. Fasilitas TPST yang disebut-sebut dilengkapi dengan mesin pencacah sampah organik, mesin pembuat briket plastik, serta unit komposter, kini dipertanyakan keberfungsianya. Yolan menduga sejumlah peralatan yang ada di TPST RKE tidak lagi dioperasikan sejak pertama kali diresmikan. Ia menilai masyarakat berhak mengetahui sejauh mana fasilitas tersebut benar-benar dimanfaatkan. “Kami menduga kuat peralatan di TPST RKE tidak lagi difungsikan setelah peresmian. Lalu di mana realisasinya? Jangan sampai masyarakat hanya disuguhi janji-janji manis sementara pelaksanaannya tidak terlihat,” ujar Yolan, Rabu (11/3/2026). Selain persoalan operasional mesin, pernyataan wali kota mengenai penyerapan sekitar 36 tenaga kerja sebagai pemilah sampah juga menjadi sorotan. Pasalnya, kondisi yang ditemukan di lapangan disebut berbeda dengan klaim tersebut. Di satu sisi, pemerintah kota menyampaikan bahwa TPST tersebut melibatkan puluhan tenaga kerja lokal dalam aktivitas operasional. Namun di sisi lain, menurut sejumlah pengamatan di lapangan, lokasi TPST RKE justru tampak sepi tanpa aktivitas pekerja maupun mesin yang beroperasi. Perubahan kondisi yang tiba-tiba bersih saat kunjungan gubernur pun menimbulkan penilaian dari sebagian pihak bahwa hal itu berpotensi menjadi upaya pencitraan untuk menampilkan kesan seolah pengelolaan sampah berjalan baik. Padahal, persoalan sampah di Kota Sungai Penuh sendiri selama ini kerap menjadi sorotan masyarakat karena dinilai belum tertangani secara maksimal. Sampai berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Kota Sungai Penuh maupun Dinas Lingkungan Hidup setempat belum memberikan keterangan resmi terkait berbagai pertanyaan yang muncul mengenai kondisi TPST RKE. Belum adanya penjelasan dari pemerintah daerah membuat sebagian masyarakat mempertanyakan kondisi sebenarnya dari pengelolaan fasilitas tersebut, mengingat pembangunan dan operasionalnya menggunakan anggaran yang bersumber dari uang publik. Kini perhatian publik tertuju pada bagaimana kelanjutan pengelolaan TPST RKE ke depan. Masyarakat juga berharap adanya transparansi dari pemerintah daerah terkait pemanfaatan fasilitas pengolahan sampah tersebut, agar pengelolaan sampah di Kota Sungai Penuh dapat berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan serta masyarakat. sumber : https://jambicyber.id/2026/03/11/skandal-sulap-sampah-di-tpst-rke-janji-manis-wako-alfin-wawako-azhar-ditagih-aktivis

Baca Juga