Portalandalas.com - Malam Lailatul Qadar merupakan salah satu malam yang paling dinantikan oleh umat Islam. Pada malam yang penuh kemuliaan ini, diyakini bahwa siapa pun yang mengisinya dengan ibadah akan memperoleh ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu.
Dalam ajaran Islam, Lailatul Qadar juga dikenal sebagai malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Keistimewaan tersebut membuat umat Muslim berusaha memperbanyak ibadah dan amal kebaikan ketika mendekati waktu datangnya malam tersebut.
Namun, kapan tepatnya malam Lailatul Qadar terjadi tidak dapat diketahui secara pasti oleh manusia. Mengutip penjelasan dari Nahdlatul Ulama melalui NU Online, Allah SWT sengaja merahasiakan waktu kedatangan malam tersebut.
Karena waktu pastinya tidak ditentukan, umat Islam dianjurkan untuk mencarinya pada hari-hari terakhir bulan Ramadan, khususnya pada sepuluh malam terakhir.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an pada Surah Al-Qadr ayat 1–3:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْراكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ، لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya: *“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”*
Muhammad juga mengingatkan umatnya untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil. Dalam kitab *At-Tanbih* dijelaskan bahwa malam tersebut sering diharapkan terjadi pada malam ke-21 atau ke-23.
Pada malam yang mulia itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, salah satunya:
*“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”*
Artinya: *“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”*
Doa ini juga diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk permohonan ampunan kepada Allah SWT ketika seseorang berharap mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sahih al-Bukhari, ‘Aisyah RA menuturkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah SAW meningkatkan intensitas ibadahnya. Beliau memperbanyak salat malam serta membangunkan anggota keluarganya agar ikut beribadah.
Pada malam Lailatul Qadar, malaikat-malaikat turun ke bumi bersama Jibril dengan izin Allah SWT untuk mengatur berbagai urusan. Malam tersebut dipenuhi dengan kedamaian dan kesejahteraan hingga terbitnya fajar.
Selain mengharapkan datangnya Lailatul Qadar, umat Islam juga dianjurkan menjalankan ibadah salat malam atau Qiyamul Lail untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.
Menurut NU Online, waktu malam—terutama pada sepertiga terakhir—merupakan saat ketika aktivitas manusia mulai berhenti. Suasana yang tenang dan hening membantu seseorang untuk menenangkan pikiran serta melakukan perenungan spiritual.
Ibadah Qiyamul Lail bahkan memiliki keutamaan yang lebih besar ketika dilakukan pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Pada waktu inilah kemungkinan terjadinya Lailatul Qadar sangat besar, sementara semangat ibadah sebagian orang biasanya mulai menurun menjelang akhir bulan.
Qiyamul Lail sendiri dilakukan oleh mereka yang telah tidur terlebih dahulu di malam hari, kemudian bangun untuk berwudu dan melaksanakan salat malam.
Lalu bagaimana niat serta tata cara melaksanakan salat Qiyamul Lail?
Pada dasarnya jumlah rakaat salat malam seperti salat tahajud, salat witir, maupun qiyamu Ramadan sama, yakni sebelas rakaat. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Al-Bukhari dari ‘Aisyah RA.
Tata Cara Melaksanakan Salat Qiyamul Lail
Berikut beberapa langkah dalam melaksanakan ibadah salat sunnah Qiyamul Lail, khususnya pada bulan Ramadan.
1. Waktu pelaksanaan
Salat Qiyamul Lail dapat dilakukan setelah salat Isya hingga sebelum waktu Subuh. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah.
Meski demikian, waktu yang paling utama adalah pada sepertiga malam terakhir, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Jabir.
2. Salat Tahajud
Salat tahajud dapat dilakukan secara berjamaah ataupun sendirian. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Muslim dari Ibnu Abbas.
Pelaksanaannya biasanya diawali dengan salat pembuka atau salat iftitah sebanyak dua rakaat, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim, Ahmad, dan Abu Daud dari Abu Hurairah.
3. Jumlah rakaat
Beberapa hadis menjelaskan bahwa salat tahajud dapat dilakukan dengan beberapa pola rakaat, di antaranya:
* Empat rakaat, empat rakaat, kemudian tiga rakaat witir (4 + 4 + 3 = 11 rakaat).
* Dua rakaat iftitah, lalu dua rakaat berulang hingga enam kali, kemudian ditutup satu rakaat witir (total 13 rakaat).
4. Salat Witir
Pada salat witir, setelah membaca Al-Fatihah dianjurkan membaca surat Al-A’la pada rakaat pertama, Al-Kafirun pada rakaat kedua, dan Al-Ikhlas pada rakaat ketiga.
5. Membaca zikir dan doa
Setelah salam, dianjurkan membaca zikir *“Subhanal Malikil Quddus”* sebanyak tiga kali dengan suara yang dipanjangkan pada bacaan ketiga, kemudian dilanjutkan dengan membaca *“Rabbil malaaikati war ruuh.”*
6. Memanjatkan doa
Setelah itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan memohon ampunan kepada Allah SWT, berharap agar mendapatkan keberkahan serta pengampunan pada malam yang penuh kemuliaan tersebut.

