Masuk Angin Harus Dikerok? Simak Penjelasan Dokter Soal Efeknya

Menu Atas

Masuk Angin Harus Dikerok? Simak Penjelasan Dokter Soal Efeknya

Portal Andalas
Rabu, 04 Maret 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Kerokan sering kali menjadi solusi andalan masyarakat Indonesia ketika tubuh terasa kurang fit, perut kembung, pegal-pegal, atau meriang—kondisi yang populer disebut “masuk angin”. Tradisi ini dipercaya dapat membantu “mengeluarkan angin” dari tubuh, yang ditandai dengan munculnya guratan merah keunguan di permukaan kulit setelah proses pengerokan. Meski sudah diwariskan secara turun-temurun dan diyakini ampuh, muncul pertanyaan dari sudut pandang medis: apakah kerokan benar-benar efektif menyembuhkan, atau hanya memberikan sensasi nyaman sementara? Berikut penjelasan lengkapnya. ### Berakar dari Budaya Asia Dalam tradisi Jawa, masuk angin dipahami sebagai kondisi akibat ketidakseimbangan unsur panas dan dingin di dalam tubuh. Guratan merah atau ungu yang muncul setelah kerokan dianggap sebagai tanda bahwa unsur penyakit, panas, atau “angin” telah berhasil dikeluarkan. Gejala seperti demam ringan, nyeri otot, pegal, sakit kepala, hingga badan terasa tidak enak biasanya dikategorikan sebagai masuk angin dalam istilah sehari-hari. Namun secara medis, keluhan tersebut lebih tepat dikaitkan dengan **common cold** atau infeksi saluran pernapasan ringan akibat virus, yang umumnya dapat sembuh dengan sendirinya. Menariknya, praktik kerokan bukan hanya ditemukan di Indonesia. Berbagai negara Asia juga mengenal teknik serupa, meskipun dengan istilah dan pendekatan budaya yang berbeda-beda. Di China, praktik ini dikenal sebagai **Gua Sha**. Di Vietnam disebut **Cạo gió**. Di Kamboja dikenal sebagai **Kos Kyal**. Di Laos disebut **Khoud Lam**. Di Thailand dikenal sebagai **Kood Lom**. Di Malaysia dan Singapura praktik ini juga populer dengan sebutan **Gua Sha** atau kerokan. Di Myanmar dikenal sebagai **Yway Thway**. Sedangkan di Filipina praktik serupa disebut **Hilod** atau **Panghilot**. Perbedaan istilah tersebut menunjukkan bahwa praktik ini merupakan bagian dari kearifan lokal di berbagai budaya Asia. ### Efek Nyaman dari Sudut Pandang Medis Secara ilmiah, kerokan atau *coining* dikategorikan sebagai bentuk terapi dermabrasi tradisional. Teknik ini dilakukan dengan memberi tekanan berulang pada kulit menggunakan benda tumpul seperti koin, batu giok, atau alat khusus, setelah sebelumnya diolesi minyak atau balsam. Tekanan tersebut menimbulkan bekas kemerahan atau memar ringan. Apabila dilakukan dengan tekanan yang wajar, kerokan umumnya tidak menyebabkan luka serius pada kulit. Reaksi yang muncul berupa peradangan ringan atau respons inflamasi akut yang normal. Respons inilah yang menimbulkan sensasi hangat pada area yang dikerok. Selain itu, kerokan juga memicu pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi), sehingga aliran darah yang kaya oksigen meningkat menuju jaringan tubuh. Kondisi ini dapat membantu mengurangi rasa tegang pada otot. Beberapa penelitian juga menemukan adanya peningkatan kadar endorfin setelah kerokan. Endorfin dikenal sebagai zat pereda nyeri alami yang bekerja mirip morfin dalam tubuh, sekaligus dapat memunculkan rasa nyaman dan bahagia. Di sisi lain, kadar PGE2 (prostaglandin E2)—zat yang berperan dalam meningkatkan sensitivitas nyeri—dilaporkan menurun. Kombinasi efek tersebut menjelaskan mengapa setelah kerokan seseorang sering merasa lebih ringan, pegal berkurang, dan tubuh terasa rileks. ### Batasan dan Risiko Walau murah, mudah dilakukan, dan memberikan rasa nyaman, kerokan pada dasarnya hanya menghadirkan kelegaan yang bersifat subjektif dan sementara. Praktik ini tidak menyembuhkan infeksi virus atau penyakit medis yang mendasarinya. Kerokan juga tidak dianjurkan bagi individu dengan gangguan pembekuan darah atau mereka yang mengonsumsi obat pengencer darah, karena berisiko menimbulkan memar berat atau perdarahan. ### Kesimpulan Kerokan merupakan praktik tradisional yang sarat nilai budaya dan telah lama menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Asia. Dari sisi fisiologis, teknik ini memang dapat memberikan efek relaksasi dan mengurangi rasa nyeri sementara melalui peningkatan sirkulasi darah dan pelepasan endorfin. Namun dalam kerangka kesehatan modern, kerokan tidak dapat menggantikan diagnosis serta pengobatan medis berbasis bukti, terutama jika gejala yang dialami berkaitan dengan infeksi serius atau kondisi penyakit tertentu.

Baca Juga