Portalandalas.com - Melemahnya nilai tukar rupiah pada awal tahun 2026 dipandang sebagai dampak dari perpaduan tekanan eksternal dan reaksi pasar terhadap situasi global yang hingga kini masih penuh ketidakpastian.
Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menilai kondisi tersebut masih tergolong terkendali selama kebijakan stabilisasi moneter dan fiskal tetap dijalankan secara konsisten oleh otoritas terkait.
Ia mencatat bahwa kurs JISDOR yang dirilis Bank Indonesia sempat menyentuh angka Rp16.974 per dolar AS pada 9 Maret. Angka tersebut menunjukkan bahwa nilai rupiah berada sangat dekat dengan rekor pelemahan sebelumnya yang berada di kisaran Rp16.985 per dolar AS.
Menurut Noviardi, posisi tersebut mengindikasikan bahwa tekanan dari faktor eksternal masih cukup kuat. Hal ini dipicu oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia, termasuk memanasnya konflik di wilayah Timur Tengah.
Ia menjelaskan bahwa melemahnya rupiah bukan hanya persoalan yang terjadi di dalam negeri, melainkan bagian dari dinamika ekonomi global. Dalam kondisi ketidakpastian, para investor cenderung mengalihkan dananya ke aset yang berbasis dolar AS karena dianggap lebih aman.
Akibatnya, mata uang dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, turut mengalami tekanan secara bersamaan.
“Ketika dolar menguat dan sentimen pasar global berubah menjadi risk-off, hampir seluruh mata uang negara berkembang ikut terdampak. Rupiah pun berada dalam situasi yang sama,” ujar Noviardi, Selasa (10/3/2026).
Meski demikian, ia menilai langkah yang diambil Bank Indonesia sudah cukup tepat. Otoritas moneter memilih mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen, sembari melakukan intervensi di pasar valuta asing. Intervensi tersebut dilakukan baik melalui transaksi di pasar spot maupun melalui instrumen Non Deliverable Forward (NDF) guna menekan gejolak yang berlebihan pada nilai tukar.
Selain itu, kebijakan pengurangan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga dipandang sebagai langkah positif. Kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan likuiditas di pasar sehingga aktivitas ekonomi tetap bergerak meski di tengah tekanan eksternal.
Menurutnya, menjaga stabilitas nilai tukar memang penting, namun memastikan ketersediaan likuiditas agar sektor riil tetap berjalan juga tidak kalah krusial. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi domestik dapat terus terjaga.
Ia menilai kombinasi antara intervensi pasar, pelonggaran kebijakan makroprudensial, serta koordinasi dengan pemerintah merupakan strategi yang cukup seimbang. Pendekatan ini dinilai mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan.
Meski demikian, Noviardi mengingatkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Sejumlah proyeksi pasar bahkan memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar AS hingga akhir Maret, terutama jika sentimen global belum menunjukkan perbaikan.
Karena itu, ia menilai bahwa fokus kebijakan ke depan tidak hanya pada upaya stabilisasi jangka pendek. Pemerintah dan otoritas moneter juga perlu memperkuat fundamental ekonomi nasional, seperti meningkatkan ekspor bernilai tambah, mengendalikan inflasi yang berasal dari impor, serta memperdalam pasar keuangan domestik.
Menurutnya, kekuatan rupiah pada akhirnya sangat bergantung pada kondisi fundamental ekonomi. Jika ekspor mampu tumbuh kuat, inflasi dapat dikendalikan, dan arus modal tetap stabil, maka tekanan terhadap rupiah masih dapat dikelola dengan baik.
Ia juga menambahkan bahwa stabilitas nilai tukar menjadi sangat penting menjelang perayaan Idulfitri tahun ini. Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk bahan pangan dan energi, yang pada akhirnya bisa memengaruhi daya beli masyarakat.
Oleh sebab itu, koordinasi yang solid antara kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah sangat diperlukan. Tujuannya untuk menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran target 2,5±1 persen sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
“Jika situasi global mulai membaik dan kebijakan di dalam negeri tetap konsisten, rupiah masih memiliki peluang untuk kembali menguat dalam jangka menengah,” tutupnya.

