Sering Pasang Banyak Alarm? Ternyata Ini Rahasia Psikologis di Baliknya

Menu Atas

Sering Pasang Banyak Alarm? Ternyata Ini Rahasia Psikologis di Baliknya

Portal Andalas
Senin, 23 Februari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Bagi sebagian orang, satu alarm sudah dianggap cukup untuk membangunkan diri di pagi hari. Namun tidak sedikit juga yang terbiasa memasang dua, tiga, bahkan lebih alarm dengan jeda waktu yang berdekatan. Kebiasaan ini sering dipandang sepele, padahal dalam kajian psikologi modern, pola bangun tidur ternyata berkaitan erat dengan karakter kepribadian, tingkat stres, hingga kondisi kesehatan mental seseorang. Mengutip laman Global English Editing, Minggu (1/2), terdapat sejumlah karakter psikologis yang kerap dimiliki oleh orang dengan kebiasaan memasang banyak alarm. Kesulitan dalam optimisme waktu Orang yang menggunakan banyak alarm biasanya mengalami apa yang disebut sebagai optimisme waktu atau time optimism bias, yaitu kecenderungan merasa mampu bangun atau bersiap lebih cepat daripada waktu yang sebenarnya dibutuhkan. Selain itu, mereka sering meremehkan durasi yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Misalnya, merasa bisa bersiap dalam 15 menit, padahal kenyataannya membutuhkan sekitar 30 menit. Optimisme waktu ini juga sering terbawa ke aktivitas lain di luar pagi hari. Akibatnya, mereka cenderung terlambat menghadiri rapat, meremehkan tenggat proyek, atau menumpuk terlalu banyak agenda dalam satu hari. Banyaknya alarm sebenarnya menjadi semacam pengaman bagi perhitungan waktu mereka yang terlalu optimistis. Jauh di dalam hati, mereka sadar kemungkinan besar tidak akan langsung bangun saat alarm pertama berbunyi karena sudah merencanakan untuk menekan tombol tunda. Mengalami kelelahan dalam pengambilan keputusan sejak pagi Setiap bunyi alarm memaksa otak untuk membuat keputusan, apakah akan bangun atau kembali tidur. Bagi orang yang memasang banyak alarm, proses ini terjadi berulang kali sehingga menguras energi mental bahkan sebelum memulai aktivitas harian. Penelitian yang dimuat dalam Current Directions in Psychological Science (2020) menjelaskan bahwa kelelahan dalam pengambilan keputusan di pagi hari dapat menurunkan fokus, kesabaran, serta kualitas keputusan sepanjang hari. Hal inilah yang membuat sebagian orang merasa sudah lelah bahkan sebelum berangkat beraktivitas. Perfeksionis yang cenderung menunda Menariknya, pengguna banyak alarm sering kali bukanlah orang yang malas, melainkan perfeksionis. Mereka ingin bangun pada waktu yang dianggap paling ideal, tetapi rasa takut tidak berhasil membuat mereka terus menunda momen untuk benar-benar bangun. Penelitian dalam Personality and Individual Differences (2022) menemukan bahwa perfeksionisme berkaitan erat dengan standar yang tinggi serta kecemasan terhadap kegagalan. Tingkat kecemasan yang lebih tinggi Kebiasaan memasang alarm berlapis juga kerap muncul sebagai cara untuk menutupi rasa cemas, seperti takut bangun kesiangan, takut tidak produktif, atau takut kehilangan kendali atas aktivitas hari itu. Pada dasarnya, setiap kali menekan tombol tunda menjadi bentuk kecil dari perilaku menghindar. Riset dalam Journal of Anxiety Disorders (2023) menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kecemasan tinggi cenderung menciptakan sistem pengaman berlapis, termasuk penggunaan alarm berulang. Ketergantungan pada motivasi eksternal Alarm berfungsi sebagai pemicu dari luar, bukan dorongan dari dalam diri. Artinya, orang yang memasang banyak alarm biasanya sangat bergantung pada stimulus eksternal untuk memulai aktivitas. Studi dalam Motivation and Emotion (2020) menyebutkan bahwa ketergantungan pada motivasi eksternal berkaitan dengan kesulitan membangun rutinitas yang konsisten. Tanpa alarm, dorongan untuk bangun pun terasa jauh lebih berat.

Baca Juga