Portalandalas.com - Puasa di bulan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi merupakan ibadah yang kaya akan nilai spiritual. Banyak orang menjalankannya, namun tidak semuanya meraih pahala yang sempurna karena kurang menjaga amalan-amalan penting yang menjadi inti dari puasa itu sendiri. Supaya puasa tidak hanya menjadi rutinitas fisik, ada tiga amalan utama yang perlu diperhatikan dan diamalkan agar ibadah Ramadan benar-benar bernilai di hadapan Allah.
1. Menjaga Lisan dari Perkataan Sia-Sia dan Dosa
Hakikat puasa tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga mengendalikan ucapan. Muhammad SAW bersabda:
"Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Imam Bukhari)
Hadis tersebut menegaskan bahwa ucapan yang buruk dapat mengurangi bahkan merusak nilai puasa. Karena itu, beberapa hal berikut harus dihindari:
Ghibah, yakni membicarakan keburukan orang lain.
Fitnah, menyebarkan informasi yang tidak benar.
Perkataan kasar seperti mencaci, memaki, atau meluapkan amarah secara berlebihan.
Perdebatan panjang yang tidak membawa manfaat.
Sebaliknya, lisan sebaiknya dimanfaatkan untuk hal-hal positif, seperti:
Membaca Al-Qur’an.
Berdzikir dan berdoa.
Memberikan nasihat yang baik.
Mengucapkan salam serta kata-kata yang menenangkan.
Dengan menjaga ucapan, puasa akan membentuk pribadi yang lebih bijak dan berhati-hati dalam berkomunikasi.
2. Memperbanyak Tilawah Al-Qur’an dan Dzikir
Ramadan dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an. Karena itu, momentum ini menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak membaca dan mentadabburi ayat-ayat suci.
Keutamaan membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan antara lain:
Setiap huruf yang dibaca bernilai pahala.
Pahala membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan lebih besar dibandingkan bulan lainnya.
Menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menenangkan hati.
Selain tilawah, memperbanyak dzikir juga termasuk amalan utama. Ucapan sederhana seperti subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu akbar mampu menjaga hati tetap hidup dan terhubung dengan Allah. Dzikir mengingatkan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melatih kesadaran spiritual.
Contoh praktik yang bisa dilakukan:
Membaca minimal satu juz setiap hari agar dapat khatam di akhir Ramadan.
Menghafal ayat-ayat pendek untuk memperkuat ibadah.
Menyediakan waktu khusus setelah sahur atau sebelum berbuka untuk tilawah.
Berdzikir di sela-sela aktivitas harian.
Dengan konsistensi dalam tilawah dan dzikir, hati akan lebih tenang dan ibadah puasa terasa lebih bermakna.
3. Menjaga Pandangan dan Perbuatan dari Hal yang Dilarang
Puasa juga mengajarkan untuk mengontrol pandangan, pendengaran, serta perbuatan dari hal-hal yang dilarang. Rasulullah SAW menyebut puasa sebagai perisai, yang berarti seorang Muslim harus menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Beberapa hal yang perlu dijaga meliputi:
Pandangan, dengan menghindari hal-hal yang membangkitkan syahwat atau melalaikan.
Pendengaran, tidak mendengarkan gosip, perkataan buruk, atau hal yang melalaikan.
Perbuatan, menjauhi kecurangan, kezaliman, dan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini bisa diwujudkan dengan:
Mengurangi penggunaan media sosial yang sarat konten negatif.
Mengisi waktu dengan kegiatan produktif seperti membaca, belajar, atau membantu sesama.
Menjaga interaksi sosial agar tetap positif dan membawa keberkahan.
Dengan menjaga pandangan dan perbuatan, puasa benar-benar menjadi sarana penyucian diri.
Mengapa Tiga Amalan Ini Begitu Penting?
Puasa bisa kehilangan maknanya jika hanya berfokus pada menahan lapar dan haus tanpa memperhatikan aspek akhlak dan spiritual. Tiga amalan ini menjadi fondasi agar puasa memiliki nilai yang utuh:
Menjaga lisan melatih pengendalian diri.
Tilawah dan dzikir menghidupkan serta menenangkan hati.
Menjaga pandangan dan perbuatan membersihkan jiwa dari dosa.
Ketiganya saling melengkapi dan menjadikan puasa sebagai ibadah yang menyentuh aspek spiritual, moral, dan sosial sekaligus.
Pada akhirnya, Ramadan adalah peluang besar untuk memperbaiki diri. Agar tidak berlalu tanpa makna, setiap Muslim perlu menjaga lisan, memperbanyak tilawah dan dzikir, serta menjauhi hal-hal yang haram. Dengan mengamalkan ketiga hal tersebut, puasa tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan membentuk pribadi yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.

