Puasa Tanpa Mandi Besar, Batal atau Tetap Sah? Ini Faktanya

Menu Atas

Puasa Tanpa Mandi Besar, Batal atau Tetap Sah? Ini Faktanya

Portal Andalas
Sabtu, 28 Februari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Bagi seorang Muslim, kebersihan bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari keimanan. Islam mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan secara menyeluruh, baik kebersihan jasmani maupun kesucian hati dan jiwa. Salah satu bentuk penyucian diri yang utama adalah mandi besar atau ghusl, yang dilakukan untuk menghilangkan hadas besar. Menjelang datangnya bulan Ramadan atau saat hendak menjalankan puasa sunnah, kerap muncul pertanyaan: apakah mandi besar wajib dilakukan sebelum berpuasa? Bagaimana niat serta tata cara yang benar sesuai tuntunan syariat? Penjelasan berikut menguraikannya secara runtut dan mudah dipahami. Hukum Mandi Besar Sebelum Puasa Mandi besar diwajibkan ketika seseorang berada dalam kondisi hadas besar, seperti: Setelah melakukan hubungan suami istri. Setelah keluar mani, baik karena mimpi basah maupun sebab lainnya. Setelah berakhirnya masa haid atau nifas bagi perempuan. Apabila seseorang hendak berpuasa dalam keadaan junub, puasanya tetap dinyatakan sah selama ia melaksanakan mandi besar sebelum menunaikan salat wajib. Hal ini didasarkan pada riwayat yang menjelaskan bahwa Muhammad ﷺ pernah memasuki waktu Subuh dalam keadaan junub, kemudian beliau mandi dan tetap melanjutkan puasanya. Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa mandi besar bukanlah syarat sah puasa, melainkan syarat sah salat. Artinya, seseorang yang bangun sahur dalam keadaan junub tetap diperbolehkan makan sahur dan berniat puasa, lalu mandi besar sebelum melaksanakan salat Subuh. Mengapa Mandi Besar Penting Sebelum Puasa? Walaupun tidak menjadi penentu sah atau tidaknya puasa, mandi besar tetap memiliki nilai penting, baik dari sisi spiritual maupun fisik. Pertama, mandi besar menyucikan diri dari hadas besar sehingga ibadah salat dapat dilaksanakan dengan sah. Kedua, mandi memberikan kesegaran pada tubuh sehingga lebih siap menjalani aktivitas puasa sepanjang hari. Ketiga, kebersihan diri menciptakan rasa nyaman dan meningkatkan kualitas ibadah. Keempat, kebiasaan ini merupakan bagian dari sunnah Rasulullah ﷺ yang selalu menjaga kebersihan. Dengan memulai hari dalam keadaan suci, seseorang akan lebih mudah menghadirkan kekhusyukan saat beribadah, sehingga puasa yang dijalani terasa lebih bermakna. Niat Mandi Besar untuk Puasa Dalam setiap ibadah, niat memiliki peran utama sebagai penegasan tujuan. Pada mandi besar, niat yang ditekankan adalah untuk menghilangkan hadas besar, bukan semata-mata karena ingin berpuasa. Contoh niat mandi besar: “Saya niat mandi besar untuk menghilangkan hadas besar karena Allah Ta’ala.” Niat cukup dihadirkan dalam hati. Mengucapkannya secara lisan tidak diwajibkan, tetapi diperbolehkan jika membantu menghadirkan kesadaran dan kekhusyukan. Tata Cara Mandi Besar yang Benar Agar mandi besar sah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ, berikut langkah-langkah yang dianjurkan: Menghadirkan niat dalam hati untuk mengangkat hadas besar. Mencuci kedua tangan sebanyak tiga kali. Membersihkan area kemaluan dan bagian tubuh yang terkena najis. Berwudhu sebagaimana wudhu untuk salat. Menyiram kepala sebanyak tiga kali hingga air merata sampai ke kulit kepala. Mengguyur seluruh tubuh dimulai dari sisi kanan, kemudian sisi kiri, sambil memastikan tidak ada bagian yang terlewat. Pastikan air benar-benar mengenai seluruh tubuh, termasuk lipatan kulit, sela-sela jari, dan bagian tersembunyi lainnya. Doa Setelah Mandi Besar Tidak ada doa khusus yang diwajibkan setelah mandi besar. Namun, apabila mandi besar diawali dengan wudhu, dianjurkan membaca doa setelah wudhu sebagai penyempurna ibadah bersuci: “Ashhadu an laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, wa ashhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.” Doa tersebut menegaskan kembali keimanan dan tauhid kepada Allah SWT. Penutup Mandi besar sebelum puasa bukanlah syarat sah puasa, tetapi menjadi kewajiban bagi mereka yang berada dalam keadaan hadas besar sebelum melaksanakan salat. Dengan memahami hukum, niat, serta tata caranya, umat Muslim dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan benar. Menjaga kebersihan lahir dan batin menjadikan puasa bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan momentum untuk menyucikan diri secara menyeluruh, baik jasmani maupun rohani. Penulis: Firdan Nubatonis

Baca Juga