Petani Menunggu, Jembatan Menjerit: Komitmen Tinggal Narasi?

Menu Atas

Petani Menunggu, Jembatan Menjerit: Komitmen Tinggal Narasi?

Portal Andalas
Jumat, 27 Februari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Tagline pasangan Monadi–Murison sebagai “Pejuang Petani” kini berada di tahap ujian sesungguhnya. Di Desa Tanjung Pauh Mudik, Kecamatan Danau Kerinci Barat, warga mulai mempertanyakan keseriusan komitmen pembangunan Jembatan Sungai Batang Merao yang sampai saat ini belum juga terwujud, padahal kondisi fisiknya kian memprihatinkan. Jembatan itu bukan sekadar sarana penyeberangan biasa. Ia menjadi satu-satunya akses menuju areal persawahan sekaligus jalur utama distribusi hasil panen masyarakat. Denyut ekonomi petani sepenuhnya bergantung pada keberadaan infrastruktur tersebut. Ketika akses tersendat, maka pendapatan pun ikut terancam. Di lapangan, kondisinya memperlihatkan situasi yang cukup mengkhawatirkan. Bagian lantai jembatan terlihat rapuh, berlubang, bahkan di beberapa titik disebutkan sudah terlepas dari sambungan lasnya. Warga yang melintas harus ekstra hati-hati, apalagi saat mengangkut hasil panen menggunakan kendaraan bermuatan berat. Pada bagian bawah jembatan, tumpukan tanah, kayu, hingga sampah terlihat mengendap di sekitar tiang penyangga. Endapan ini berpotensi menghambat arus sungai dan mengikis fondasi. Saat curah hujan meningkat dan debit air membesar, tekanan terhadap struktur jembatan dikhawatirkan makin berat dan berisiko membahayakan keselamatan warga. Keluhan terkait kondisi ini sejatinya bukan cerita baru. Dari tahun ke tahun, persoalan yang sama terus muncul tanpa solusi permanen. Warga menilai penanganan yang ada selama ini hanya bersifat sementara, sekadar tambal sulam, belum menyentuh penyelesaian menyeluruh yang memberi kepastian jangka panjang. Masyarakat pun kembali mengingat janji kampanye 2024, ketika komitmen pembangunan disampaikan secara terbuka kepada publik. “Pembangunan itu nantinya adalah bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat. Jembatan ini adalah urat nadi yang menghubungkan petani dengan hasil jerih payah,” demikian pernyataan Monadi saat itu. Namun memasuki tahun 2026, realisasi janji tersebut masih belum terlihat jelas. Publik kini menanti langkah konkret, bukan sekadar retorika keberpihakan. Bagi warga Tanjung Pauh Mudik, slogan “Pejuang Petani” semestinya terwujud dalam kebijakan nyata, alokasi anggaran yang transparan, serta pembangunan yang benar-benar menjawab kebutuhan mendasar petani. Di desa ini, jembatan bukan hanya konstruksi baja semata. Ia menjadi penghubung antara sawah dan dapur, antara kerja keras dan penghidupan keluarga. Lebih dari itu, ia menjelma simbol sederhana: apakah keberpihakan kepada petani benar-benar diwujudkan dalam tindakan, atau hanya berhenti sebagai janji politik. Kini pertanyaannya tidak lagi rumit— akankah predikat “Pejuang Petani” dibuktikan lewat aksi nyata, atau perlahan memudar ditelan waktu?

Baca Juga