Portalandalas.com - Penggunaan pestisida terbukti memberi dampak besar terhadap kualitas tanah. Para peneliti dari University of Zurich, Swiss, mengungkapkan bahwa zat kimia ini menekan berbagai organisme tanah yang sebenarnya memiliki peran penting bagi keseimbangan ekosistem. Temuan ini dinilai perlu menjadi bahan pertimbangan serius dalam kebijakan dan regulasi penggunaan pestisida saat ini demi menjaga keanekaragaman hayati tanah.
Kesimpulan tersebut diperoleh setelah tim peneliti menganalisis sampel tanah dari 26 negara di Eropa. Hasil studi menunjukkan bahwa sekitar 70 persen tanah di wilayah Eropa telah terkontaminasi pestisida. Dalam penelitian itu, para ilmuwan meneliti dampak 63 jenis pestisida terhadap berbagai organisme tanah, mulai dari archaea, bakteri, jamur, protista, nematoda, arthropoda, hingga kelompok gen fungsional penting. Penelitian dilakukan di 373 lokasi yang mencakup hutan, padang rumput, dan lahan pertanian di 26 negara Eropa, sebagaimana dilaporkan jurnal Nature, Senin (2/2/2026).
Kehidupan organisme di dalam tanah memiliki peran vital dalam menjaga fungsi ekosistem, seperti produksi pangan, penyimpanan karbon, pengendalian erosi, serta pengaturan siklus air. Namun, penggunaan pestisida justru mencemari sistem tersebut. Kontaminasi ini berdampak serius terhadap organisme tanah yang bermanfaat, termasuk jamur mikoriza dan nematoda, sehingga mengganggu keseimbangan keanekaragaman hayati. Hal ini disampaikan Marcel van der Heijden, profesor di Departemen Biologi Tumbuhan dan Mikroba University of Zurich sekaligus salah satu pimpinan studi.
Pestisida tidak hanya menyerang hama tanaman, tetapi juga merusak organisme tanah yang justru berperan penting bagi pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pestisida secara signifikan mengubah struktur komunitas kehidupan di dalam tanah. Jamur mikoriza, yang berfungsi membantu akar tanaman menyerap air dan nutrisi, menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak. Bahkan fungisida bixafen, yang digunakan untuk melawan jamur patogen pada tanaman serealia, terbukti turut memengaruhi banyak organisme tanah lainnya.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature ini mengkaji 63 jenis pestisida yang umum digunakan. Dari 373 sampel tanah yang diteliti, fungisida menjadi kelompok bahan aktif yang paling dominan dengan proporsi 54 persen, disusul herbisida 35 persen, dan insektisida 11 persen. Herbisida glifosat tercatat sebagai bahan aktif yang paling sering ditemukan. Meskipun mayoritas pestisida ditemukan di lahan pertanian, residunya juga terdeteksi di hutan dan padang rumput—wilayah yang sebenarnya tidak menjadi lokasi aplikasi pestisida—yang diduga akibat penyebaran semprotan melalui udara.
Para peneliti juga menemukan bahwa residu pestisida tidak hanya merusak organisme tanah, tetapi juga mengubah fungsi alami tanah itu sendiri. Akibatnya, kesuburan tanah menurun sehingga dibutuhkan pemupukan tambahan untuk menjaga hasil pertanian. Maria J. I. Briones dari University of Vigo menegaskan bahwa pestisida merupakan salah satu bentuk tekanan lingkungan manusia yang sangat signifikan terhadap tanah, meskipun dampaknya terhadap organisme non-target sering kali tidak disadari oleh masyarakat.
Beberapa jenis pestisida bahkan tergolong sulit terurai, sehingga dapat bertahan di dalam tanah selama bertahun-tahun setelah digunakan dan menimbulkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem tanah.
Untuk menjaga keberlanjutan ekosistem tanah, para peneliti menilai bahwa penilaian ekotoksikologi harus diperluas. Tidak cukup hanya mengukur dampak terhadap satu jenis organisme, tetapi juga perlu mencakup respons pada tingkat komunitas dan fungsi ekosistem secara menyeluruh. Menurut mereka, pendekatan ini sangat mendesak untuk segera diintegrasikan ke dalam regulasi pestisida yang ada, agar perlindungan terhadap kesuburan tanah jangka panjang benar-benar dapat terwujud.

