Portalandalas.com - Mitos bahwa konsumsi mie instan dapat menyebabkan radang usus buntu (apendisitis) sudah lama beredar di tengah masyarakat. Banyak yang meyakini mie instan sulit dicerna, mengendap di saluran pencernaan, lalu memicu peradangan pada usus buntu. Karena anggapan tersebut, mie instan kerap dicap sebagai makanan “berbahaya” yang sebaiknya dijauhi.
Namun, benarkah klaim itu memiliki dasar ilmiah? Ataukah hanya sekadar mitos yang terus dipercaya tanpa dukungan bukti medis? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami apa itu radang usus buntu serta bagaimana tubuh sebenarnya memproses makanan seperti mie instan.
Berikut penjelasan hubungan antara konsumsi mie instan dan radang usus buntu:
1. Tidak ditemukan kaitan langsung antara mie instan dan apendisitis
Sejauh ini, penelitian medis belum menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat secara langsung antara konsumsi mie instan dan terjadinya radang usus buntu.
Beberapa studi memang menyinggung pola konsumsi mie instan pada pasien usus buntu, salah satunya penelitian oleh Hanum Atikasari dan rekan. Namun, penelitian lain lebih menyoroti faktor gaya hidup dan kebersihan dengan indikator yang berbeda-beda.
Dalam penelitian tersebut, lebih dari 53 anak diketahui mengonsumsi mie instan lebih dari empat kali dalam sebulan. Pola makan semacam ini dinilai berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan asupan vitamin dan mineral, menurunkan daya tahan tubuh, serta meningkatkan risiko infeksi. Meski demikian, tidak dijelaskan adanya mekanisme biologis langsung yang mengaitkan mie instan sebagai penyebab usus buntu. Kesimpulan penelitian justru menegaskan bahwa pola makan yang buruk secara umum berhubungan dengan risiko apendisitis, bukan mie instan sebagai faktor tunggal.
2. Makanan ultraproses berpotensi meningkatkan risiko gangguan pencernaan
Konsumsi makanan ultraproses secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai masalah pencernaan, termasuk radang usus buntu. Jenis makanan ini biasanya tinggi bahan tambahan dan pengawet, tetapi rendah serat.
Kekurangan serat dapat mengganggu kesehatan saluran cerna, memicu peradangan, serta meningkatkan risiko sembelit. Kondisi ini bisa memberi tekanan lebih besar pada sistem pencernaan, termasuk usus buntu.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola makan rendah serat berkaitan dengan meningkatnya risiko apendisitis. Oleh karena itu, pemenuhan serat dari sayuran, buah-buahan, dan sumber alami lainnya menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan usus.
3. Pola makan seimbang berperan penting menjaga kesehatan usus
Pola makan yang seimbang berkontribusi besar dalam menjaga fungsi pencernaan dan menurunkan risiko radang usus buntu. Asupan harian sebaiknya mencakup berbagai kelompok gizi.
Perbanyak konsumsi buah dan sayur sebagai sumber serat, pilih biji-bijian utuh dibanding karbohidrat olahan, serta lengkapi dengan protein rendah lemak seperti ikan, ayam, dan kacang-kacangan. Di sisi lain, asupan lemak jenuh dan gula berlebih sebaiknya dibatasi karena dapat memicu peradangan.
Kecukupan cairan juga penting untuk membantu kerja serat di usus. Selain itu, makanan yang mengandung probiotik seperti yoghurt dapat mendukung keseimbangan bakteri baik dalam sistem pencernaan.
Kesimpulan
Secara ilmiah, mie instan tidak terbukti menjadi penyebab langsung radang usus buntu. Risiko apendisitis lebih erat kaitannya dengan pola makan rendah serat dan dominasi konsumsi makanan ultraproses. Jika mengonsumsi mie instan, pastikan tetap menyeimbangkannya dengan makanan bergizi agar kesehatan saluran cerna tetap terjaga.

