Hati-hati! Gorengan Saat Buka Puasa Bisa Picu Risiko Diabetes & Jantung

Menu Atas

Hati-hati! Gorengan Saat Buka Puasa Bisa Picu Risiko Diabetes & Jantung

Portal Andalas
Selasa, 24 Februari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Berbuka puasa adalah saat yang paling ditunggu setelah seharian menahan lapar dan haus. Salah satu camilan favorit saat berbuka adalah gorengan, mulai dari bakwan, cimol, tahu isi, hingga pisang goreng dan berbagai camilan renyah lainnya. Rasanya memang menggoda dan kerap dijadikan pembuka sebelum santapan utama. Namun, dari sisi kesehatan, gorengan mengandung banyak minyak, tinggi lemak dan kalori, serta proses penggorengannya dapat menghasilkan senyawa yang kurang ramah bagi tubuh. Setelah seharian berpuasa, metabolisme tubuh bereaksi berbeda terhadap makanan berlemak tinggi ini dibandingkan dengan saat makan biasa. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi gorengan berulang berpotensi meningkatkan risiko masalah kesehatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. 1. Lonjakan kalori dan risiko kelebihan berat badan Gorengan menyerap minyak sehingga kalorinya jauh lebih tinggi dibandingkan versi panggang atau rebus dari bahan yang sama. Bahkan porsi kecil pun dapat membuat total asupan energi meningkat tajam. Pola makan tinggi kalori secara rutin bisa berkontribusi pada kelebihan berat badan atau obesitas, yang menjadi faktor risiko banyak penyakit kronis. 2. Risiko diabetes tipe 2 meningkat Kebiasaan makan gorengan secara teratur dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Studi jangka panjang menunjukkan orang yang sering mengonsumsi gorengan beberapa kali dalam seminggu lebih rentan mengalami gangguan toleransi glukosa dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya. 3. Kolesterol dan penyakit jantung Gorengan biasanya dimasak dengan minyak yang telah dipanaskan berulang kali, sehingga berpotensi mengandung lemak jenuh atau lemak trans. Pola makan tinggi lemak ini dapat menaikkan kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL), meningkatkan risiko aterosklerosis, penyakit jantung, hingga stroke. 4. Gangguan pencernaan Makanan berlemak, termasuk gorengan, lebih sulit dicerna, terutama setelah puasa panjang. Hal ini dapat menimbulkan perut kembung, nyeri, gas, atau gangguan pencernaan lainnya karena tubuh harus bekerja ekstra untuk memecah lemak. 5. Pro-inflamasi dan stres oksidatif Minyak yang dipanaskan pada suhu tinggi mengalami oksidasi dan membentuk senyawa pro-oksidatif. Senyawa ini dapat memicu peradangan di tubuh serta stres oksidatif—kerusakan sel akibat radikal bebas—yang berhubungan dengan berbagai penyakit kronis jangka panjang. 6. Akrilamida dan senyawa berbahaya Proses penggorengan pada suhu tinggi juga bisa menghasilkan akrilamida, senyawa yang berpotensi meningkatkan risiko kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah banyak dan terus-menerus. Meski penelitian pada manusia masih berlangsung, para ahli tetap menyarankan untuk berhati-hati terhadap paparan jangka panjang. 7. Risiko penyakit kardiovaskular Data jangka panjang menunjukkan bahwa konsumsi gorengan secara rutin terkait dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke. Semakin sering dikonsumsi, semakin tinggi risiko yang muncul. Alternatif makanan sehat saat berbuka Agar tubuh dapat beradaptasi dengan lebih baik setelah puasa, mulailah berbuka dengan makanan ringan dan mudah dicerna, yang memberikan energi tanpa membebani perut. Beberapa pilihan yang dianjurkan antara lain: Air putih dan cairan elektrolit: Prioritaskan air untuk mengganti cairan yang hilang. Air kelapa atau minuman elektrolit rendah gula bisa membantu menjaga keseimbangan elektrolit. Buah segar atau kurma: Memberikan gula alami yang dilepaskan perlahan, memberi energi stabil, sekaligus serat, vitamin, dan mineral. Sup sayuran atau kaldu hangat: Ringan, mudah dicerna, serta memberi hidrasi dan nutrisi sebelum makanan utama. Protein ringan: Telur rebus, ikan panggang, atau tahu adalah pilihan protein yang mudah dicerna dan membantu kenyang lebih lama. Yoghurt rendah lemak: Mengandung probiotik yang baik untuk kesehatan pencernaan setelah puasa. Gorengan memang menggoda saat berbuka, tapi frekuensi dan porsinya perlu dikontrol untuk menghindari risiko kesehatan. Mengutamakan makanan ringan, bernutrisi, dan mudah dicerna akan membantu tubuh pulih lebih nyaman setelah seharian berpuasa. Jadikan gorengan sebagai camilan sesekali, bukan pilihan utama setiap buka puasa, agar kesehatan tetap terjaga.

Baca Juga