Portalandalas.com - Masa kanak-kanak merupakan periode paling menentukan dalam pembentukan cara berpikir, emosi, serta karakter seseorang. Pada fase ini, perkembangan otak berlangsung sangat cepat, menyerap berbagai informasi, pengalaman, dan kebiasaan yang kelak membentuk kepribadian hingga usia dewasa.
Salah satu aktivitas yang berperan besar dalam proses tersebut adalah kebiasaan membaca buku.
Namun kenyataannya, tidak semua anak tumbuh dalam lingkungan yang mendorong budaya membaca. Banyak yang lebih akrab dengan televisi, gawai, permainan digital, atau lingkungan yang minim rangsangan literasi.
Dalam kajian psikologi perkembangan, absennya kebiasaan membaca sejak kecil tidak hanya berdampak pada prestasi akademik, tetapi juga membentuk cara seseorang berpikir, merasakan, dan berinteraksi dengan dunia dengan pola yang khas.
Menariknya, dampak ini tidak selalu bersifat negatif secara langsung. Banyak individu justru berkembang dengan pola adaptasi psikologis tertentu yang unik dan tak terduga.
Mengutip Geediting, Senin (2/2), terdapat tujuh pola psikologis yang kerap muncul pada orang-orang yang tidak terbiasa membaca buku sejak kecil, jika dilihat dari perspektif psikologi:
1. Imajinasi Berbasis Pengalaman Nyata
Anak yang jarang membaca cenderung membangun imajinasi dari pengalaman langsung, bukan dari dunia cerita. Mereka memahami realitas melalui pengamatan visual, interaksi sosial, dan pengalaman konkret.
Secara psikologis, hal ini membentuk pola pikir yang lebih realistis dan praktis, meski sering kesulitan membayangkan konsep abstrak atau skenario imajinatif yang kompleks.
2. Cara Berpikir Lebih Praktis daripada Reflektif
Tanpa stimulasi naratif dari buku, otak jarang dilatih untuk masuk ke dunia batin karakter, konflik emosional, dan alur berpikir mendalam. Akibatnya, pola pikir yang berkembang cenderung:
Berorientasi solusi cepat
Minim refleksi batin
Lebih reaktif daripada kontemplatif
Dalam psikologi kognitif, ini dikenal sebagai pola pemecahan masalah berbasis fungsi, bukan berbasis makna.
3. Empati Terbangun dari Realitas Sosial
Jika membaca melatih empati simbolik melalui cerita, maka anak yang tidak membaca mengembangkan empati dari pengalaman nyata: konflik langsung, relasi sosial, dan dinamika keluarga.
Empati mereka biasanya bersifat:
Kontekstual
Lebih kuat pada lingkungan terdekat
Lebih lemah pada isu universal atau abstrak
4. Kemampuan Verbal Lebih Fungsional
Tanpa kebiasaan membaca, perkembangan bahasa cenderung lebih sederhana, ditandai dengan kosakata terbatas dan struktur komunikasi yang praktis.
Namun secara adaptif, mereka sering menggantinya dengan:
Bahasa tubuh
Ekspresi non-verbal
Intonasi dan ekspresi emosional yang kuat
5. Identitas Diri Dibentuk oleh Lingkungan Sosial
Buku sering menanamkan nilai, filosofi hidup, dan makna eksistensial. Tanpa itu, pembentukan identitas lebih banyak dipengaruhi oleh:
Lingkungan sosial
Budaya sekitar
Pola asuh keluarga
Tekanan kelompok
Hal ini membuat individu lebih fleksibel dalam bersosialisasi, tetapi lebih mudah terpengaruh norma lingkungan.
6. Regulasi Emosi Bersifat Eksternal
Cerita membantu anak mengenali emosi dan membangun mekanisme pengelolaan batin. Tanpa itu, regulasi emosi lebih banyak terbentuk dari respons lingkungan seperti:
Reaksi orang tua
Sistem hadiah dan hukuman
Validasi sosial
Akibatnya, pengelolaan emosi cenderung reaktif dan bergantung pada faktor luar.
7. Motivasi Hidup Berbasis Realitas
Buku sering menumbuhkan tujuan hidup berbasis makna dan nilai idealisme. Tanpa paparan tersebut, motivasi lebih banyak dibangun atas dasar:
Kebutuhan ekonomi
Keamanan hidup
Status sosial
Bertahan hidup secara psikologis
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai dominasi motivasi ekstrinsik dibandingkan motivasi intrinsik berbasis makna.
Kesimpulan Psikologis
Tidak tumbuh dengan kebiasaan membaca bukan berarti seseorang akan gagal secara mental maupun emosional. Psikologi justru menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan adaptasi yang sangat kuat, membentuk jalur perkembangan sesuai lingkungan yang tersedia.
Perbedaannya terletak pada struktur internal:
Cara berpikir
Cara merasakan
Cara memaknai hidup
Cara berempati
Cara memproses konflik
Membaca bukan sekadar soal literasi, tetapi tentang membangun dunia batin. Tanpa buku, dunia batin tetap terbentuk — hanya melalui jalur yang berbeda, lebih berbasis pengalaman eksternal daripada narasi internal.

