Dalam video itu, Dorel mengungkapkan bahwa dirinya datang bersama tamu dari Jambi menggunakan dua mobil. Setibanya di lokasi, ia diminta membayar biaya parkir sebesar Rp10.000 dan biaya kebersihan Rp10.000 untuk setiap kendaraan. Dengan demikian, total uang yang dikeluarkan mencapai Rp40.000 untuk dua unit mobil.
“Dikenakan Rp10.000 untuk parkir dan Rp10.000 untuk kebersihan per mobil,” ungkap Dorel dalam rekaman tersebut.
Meski demikian, sorotan utamanya bukan hanya pada nominal tarif, melainkan pada kondisi taman yang dianggap jauh dari standar kebersihan dan perawatan. Dorel memperlihatkan langsung area taman yang dipenuhi sampah, ditumbuhi rumput liar di sekitar paving block, serta sejumlah bangunan yang terlihat tidak terawat dan terkesan terbengkalai.
Dengan nada kecewa, ia bahkan menyindir bangunan di kawasan tersebut sebagai “bangunan Majapahit”, menggambarkan kondisi fisik yang tampak tua, kumuh, dan kehilangan nilai estetika sebagai ruang publik.
“Semua sudah ditumbuhi rumput, paving block kotor, taman tidak terurus. Jadi di mana kebersihan yang dimaksud?” katanya.
Pada akhir video, Dorel secara terbuka mempertanyakan transparansi dan tanggung jawab pengelolaan Taman Bukit Tengah. Ia meminta klarifikasi dari pihak pengelola maupun instansi pemerintah terkait, serta mengajak mereka memberikan penjelasan langsung melalui kolom komentar.
Unggahan tersebut memicu beragam tanggapan dari warganet. Sebagian mendukung kritik yang disampaikan, sementara lainnya mendorong adanya keterbukaan terkait pengelolaan retribusi parkir dan kebersihan di kawasan wisata maupun ruang publik.
Hingga berita ini dipublikasikan, belum terdapat pernyataan resmi dari pengelola Taman Bukit Tengah ataupun pihak pemerintah terkait mengenai dugaan pungutan serta kondisi fasilitas yang menjadi sorotan dalam video viral tersebut.
