Tragis dan Mencekam: Pengakuan Lengkap Bocah SD yang Tega Bunuh Ibu Sendiri

Menu Atas

Tragis dan Mencekam: Pengakuan Lengkap Bocah SD yang Tega Bunuh Ibu Sendiri

Portal Andalas
Minggu, 04 Januari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Kasus pembunuhan yang melibatkan SAS alias AL (12), siswi kelas VI sekolah dasar yang menghabisi nyawa ibu kandungnya di Medan, Sumatera Utara, kini semakin terang. Salah satu fakta yang terungkap adalah alasan AL melepaskan pakaian sebelum melakukan aksi penusukan terhadap ibunya, Faizah Soraya (42). Setelah melihat sang ibu dalam kondisi bersimbah darah dan tak berdaya, AL diketahui langsung menghampiri dan memeluk ayahnya. Saat ini, AL telah resmi ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pembunuhan tersebut. Kapolrestabes Medan Kombes Pol Calvijn Simanjuntak menyampaikan bahwa motif utama peristiwa tersebut adalah rasa sakit hati yang telah lama dipendam pelaku. AL mengaku emosi karena melihat kakaknya dipukul, ayahnya pernah diancam menggunakan pisau, serta permainan daring miliknya dihapus. Menurut Calvijn, korban kerap melakukan kekerasan fisik terhadap anak sulungnya dengan menggunakan sapu dan tali pinggang. Selain itu, pelaku juga merasa kesal karena permainan daring yang sering ia mainkan dihapus. Penyidik turut mengungkap bahwa AL kerap memainkan gim bertema kekerasan yang melibatkan penggunaan pisau serta menonton tayangan anime dengan adegan pembunuhan. Hal tersebut diduga memengaruhi obsesinya untuk melukai sang ibu, termasuk setelah sering menyaksikan adegan pembunuhan dalam gim Murder Mystery dan serial anime DC episode 271. Berdasarkan keterangan kepada penyidik, AL dan kakaknya sama-sama kerap menerima perlakuan keras dari sang ibu. Kakaknya sering dimarahi, dimaki, hingga dipukul, sementara pelaku mengaku kerap dicubit. Dari situlah muncul keinginan untuk melukai korban, meski sebelumnya tidak memiliki kesempatan. Kesempatan itu muncul pada 10 Desember 2025, sekitar pukul 04.00 hingga 05.00 WIB. Saat itu, pelaku terbangun dan melihat ibunya tertidur di kasur tingkat lantai satu rumah mereka. Korban tidur di kasur bagian atas bersama AL, sementara anak pertama tidur di kasur bawah. Dalam kondisi emosi yang memuncak, AL menuju dapur untuk mengambil pisau, lalu kembali ke kamar setelah membuka bajunya. Ia kemudian menusuk korban hingga menyebabkan sang ibu terjatuh ke arah anak sulungnya yang berada di kasur bawah. Anak pertama korban terbangun dan berusaha menghentikan aksi tersebut dengan merebut pisau dari tangan adiknya dan membuangnya. Namun, AL kembali menuju dapur untuk mengambil pisau lain. Saat terjadi tarik-menarik di depan pintu kamar, pisau kedua tersebut terjatuh. Anak sulung kemudian berlari ke lantai dua untuk memanggil ayah mereka. Ayah dan anak pertama kembali ke lantai satu dan mendapati korban masih hidup. Mereka sempat menolong korban dengan menyandarkannya dan membaringkannya kembali ke tempat tidur. Sementara itu, pelaku kembali mengenakan pakaian, naik ke lantai dua, dan memeluk sang ayah. Ketiganya kemudian turun bersama ke lantai satu. Kepada penyidik, AL mengungkapkan bahwa alasan ia melepas bajunya sebelum menusuk korban adalah agar pakaiannya tidak terkena noda darah akibat luka tusukan. Saat diperiksa oleh suami dan anak sulungnya, korban masih sempat meminta air minum dan meminta dipanggilkan ambulans. Ayah korban kemudian menghubungi RS Columbia Asia. Namun, saat ambulans tiba, korban dinyatakan meninggal dunia. Polisi mengamankan pelaku dengan kondisi kedua tangannya berlumuran darah. Dari lokasi kejadian, petugas menyita dua bilah pisau dapur, pakaian tidur, seprai, serta celana dalam pelaku yang terdapat bercak darah. Pelaku Menyesal Dalam pemeriksaan lanjutan, AL mengaku menyesali perbuatannya dan merasa sangat kehilangan sang ibu. Ia mengungkapkan kesedihannya atas peristiwa tersebut. Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Bayu Putro Wijayanto menyatakan bahwa pelaku melakukan aksinya dalam kondisi sadar dan atas kemauan sendiri. Hasil pemeriksaan psikologis menunjukkan bahwa AL tidak mengalami gangguan jiwa seperti skizofrenia maupun gangguan kepribadian. Bayu juga mengungkapkan bahwa pelaku memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata dan dikenal sering meraih prestasi di sekolah. Berdasarkan pendekatan secara psikologis, pelaku menyampaikan penyesalan mendalam dan mengaku bersedih karena telah kehilangan ibunya. Hal serupa juga disampaikan kepada pihak keluarga. Untuk sementara, AL tidak ditahan dan ditempatkan di rumah aman. Penyidik menyimpulkan bahwa motif pembunuhan dipicu oleh paparan kekerasan fisik dan verbal yang kerap dilakukan korban terhadap anak sulungnya. Kekerasan tersebut diketahui berlangsung hampir tiga jam pada 22 November 2025 dan melibatkan penggunaan alat, bahkan hingga menyebabkan sapu yang digunakan patah. Pelaku juga menyaksikan langsung korban mengancam kakaknya dengan pisau. Sejak peristiwa itulah, keinginan untuk menghilangkan nyawa sang ibu mulai muncul. Konflik dalam keluarga tersebut diketahui telah berlangsung sejak 2022, setelah korban dan suaminya pisah ranjang. Keinginan pelaku untuk membunuh ibunya semakin kuat sejak melihat kekerasan yang dialami kakaknya pada November 2025.

Baca Juga