Sering Makan Kukusan? Ini Fakta Kesehatan yang Jarang Diketahui

Menu Atas

Sering Makan Kukusan? Ini Fakta Kesehatan yang Jarang Diketahui

Portal Andalas
Sabtu, 24 Januari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Makanan yang diolah dengan cara dikukus dan direbus kembali diminati oleh banyak orang yang ingin menerapkan pola hidup sehat. Beragam pilihan pangan kukusan seperti jagung, ubi, singkong, hingga pisang kukus kini semakin mudah ditemui, mulai dari pasar tradisional, kedai makanan, hingga berbagai konten di media sosial. Di balik tren tersebut, muncul pertanyaan yang kerap mengemuka, apakah makanan kukusan benar-benar aman untuk dikonsumsi setiap hari? Pasalnya, beberapa jenis pangan kukusan diketahui memiliki kandungan gula alami yang relatif lebih tinggi dibandingkan jenis lainnya. Berikut rangkuman fakta seputar keamanan konsumsi makanan kukusan untuk dikonsumsi setiap hari. 1. Aman dikonsumsi setiap hari selama tetap seimbang Makanan kukusan pada dasarnya aman dan bahkan dianjurkan untuk dikonsumsi secara rutin, asalkan menjadi bagian dari pola makan yang seimbang. Sebuah jurnal berjudul Influence of Boiling, Steaming and Frying of Selected Leafy Vegetables on the In Vitro Anti-inflammation Associated Biological Activities (2018) menyebutkan bahwa metode pengolahan dengan cara dikukus mampu menjaga sifat antiinflamasi serta kandungan nutrisi bahan pangan lebih baik dibandingkan menggoreng. Hal ini menunjukkan bahwa pengukusan membantu mempertahankan komponen sehat pada makanan nabati. Meski demikian, variasi asupan gizi tetap penting. Konsumsi makanan kukusan sebaiknya tidak hanya didominasi karbohidrat, tetapi juga dilengkapi dengan sumber protein, baik hewani maupun nabati, agar manfaat kesehatannya lebih maksimal. 2. Banyak pangan lokal cocok diolah dengan cara dikukus Indonesia memiliki beragam bahan pangan lokal yang sangat ideal untuk diolah dengan metode kukus. Umbi-umbian seperti ubi jalar, singkong, talas, dan kentang merupakan sumber karbohidrat yang baik bagi tubuh. Selain itu, sayuran seperti brokoli, wortel, dan labu kuning kaya akan vitamin dan antioksidan. Jagung manis, kacang-kacangan, hingga telur kukus juga dapat menjadi pilihan sumber protein dan nutrisi penting yang praktis serta rendah lemak. 3. Tren makanan kukusan mencerminkan minat pada real food Jurnal Long-term trends and patterns in ultra-processed food consumption among Korean adults from 1998 to 2022 (2025) mencatat bahwa konsumsi makanan ultra-proses terus meningkat selama beberapa dekade terakhir. Sebaliknya, makanan yang minim atau tanpa proses pengolahan—termasuk pangan segar dan kukusan—semakin dikaitkan dengan pola makan sehat serta risiko penyakit kronis yang lebih rendah. Di Indonesia, tren makanan kukusan belakangan ini juga semakin populer, bahkan sempat viral. Fenomena ini menunjukkan tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap konsep real food, yaitu konsumsi pangan alami dengan proses minimal. 4. Karbohidrat kompleks membuat kenyang lebih lama Sebagian besar makanan kukusan mengandung karbohidrat kompleks yang dicerna secara perlahan oleh tubuh. Proses pencernaan yang lebih lambat ini membantu menjaga rasa kenyang lebih lama sekaligus mendukung kestabilan kadar gula darah. Mengacu pada publikasi Scientific Reports, konsumsi buah dan sayuran segar sebagai bagian dari pola makan sehat terbukti memberikan manfaat fisik dan mental dalam jangka panjang. Hal ini menegaskan bahwa pangan alami atau minim proses lebih menguntungkan dibandingkan makanan olahan. Tak hanya itu, kandungan serat dalam makanan kukusan juga berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan serta membantu metabolisme tubuh bekerja lebih optimal. 5. Pengukusan dinilai lebih sehat dibanding menggoreng Dari segi metode pengolahan, mengukus dianggap lebih sehat dibandingkan menggoreng. Teknik ini tidak memerlukan banyak minyak, sehingga makanan yang dihasilkan lebih rendah lemak jenuh dan kalori. Selain itu, suhu pengukusan yang tidak terlalu tinggi membantu mempertahankan kandungan vitamin dan mineral dalam bahan pangan. Berbeda dengan metode merebus, bahan makanan kukusan juga tidak bersentuhan langsung dengan air, sehingga risiko hilangnya nutrisi menjadi lebih kecil.

Baca Juga