Portalandalas.com - Harapan Maroko untuk meraih gelar juara harus pupus setelah kalah 0-1 dari Senegal pada partai final Piala Afrika 2025, yang berlangsung di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Minggu (18/1/2026) atau Senin dini hari WIB.
Pertandingan berlangsung sengit dan penuh drama. Ketegangan memuncak pada menit-menit akhir ketika Maroko mendapat hadiah penalti setelah wasit menilai El Hadji Diouf melakukan pelanggaran terhadap Brahim Diaz. Keputusan tersebut memicu protes keras dari para pemain Senegal, hingga pertandingan sempat terhenti sekitar 10 menit.
Setelah situasi kembali kondusif, pertandingan dilanjutkan dengan penalti tetap dijalankan. Brahim Diaz maju sebagai algojo, namun gagal memaksimalkan kesempatan emas. Tendangannya ala panenka berhasil dibaca oleh kiper Senegal, sehingga skor tetap 0-0 hingga waktu normal berakhir dan laga berlanjut ke babak perpanjangan waktu.
Pada menit ke-94, Pape Gueye menjadi penentu kemenangan Senegal dengan gol tunggal yang menghancurkan peluang Maroko meraih juara.
Mantan bek timnas Belanda berdarah Maroko, Khalid Boulahrouz, mengecam keras keputusan Diaz yang menggunakan teknik panenka saat mengambil penalti. “Anda berdiri di sana dengan dua menit tersisa dalam pertandingan, dan memilih melakukan panenka. Itu menunjukkan ini tentang diri Anda, bukan tentang Maroko, bukan tentang 40 juta penduduk yang berharap juara,” ujar Boulahrouz, dikutip BolaSport.com dari Telegraaf.
Boulahrouz juga mengingatkan Diaz bahwa momen penalti seperti itu bukan waktu untuk ego, apalagi jika dibandingkan dengan pemain kelas dunia seperti Cristiano Ronaldo atau Zinedine Zidane. “Maroko memiliki momentum sebelum penalti, tapi dia memutuskan semua tentang dirinya sendiri. Itu sangat menyakitkan. Anda bukan Zidane, Ronaldo, atau Achraf Hakimi,” tambahnya.
Kemarahan juga muncul dari Nordin Amrabat, yang memiliki 64 caps bersama Maroko. “Menurut saya itu tidak sopan. Anda tidak bisa mengambil penalti dengan cara seperti itu di momen sepenting ini. Bisa saja menjadi pahlawan, tapi kini dia yang kalah,” tegasnya.
Meski gagal membawa Maroko juara, Brahim Diaz tetap mengakhiri turnamen dengan trofi Sepatu Emas sebagai top scorer, setelah menorehkan lima gol sepanjang kompetisi.

