Kenapa Emas Digital Disebut Inklusi Keuangan Nyata? Ini Penjelasannya

Menu Atas

Kenapa Emas Digital Disebut Inklusi Keuangan Nyata? Ini Penjelasannya

Portal Andalas
Senin, 26 Januari 2026
Bagikan:

Portalandalas.com - Keterbatasan akses terhadap layanan keuangan hingga kini masih menjadi tantangan nyata bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan. Salah satu kendala yang kerap ditemui berkaitan dengan instrumen penyimpanan nilai, khususnya emas, yang sebagian besar masih bergantung pada transaksi langsung di toko emas konvensional. Dalam praktiknya, aktivitas jual beli emas fisik menuntut masyarakat untuk datang ke pusat kota. Selain memakan waktu dan biaya transportasi, tingkat likuiditas emas di daerah juga belum selalu memadai. Situasi ini membuat warga kesulitan memanfaatkan emas sebagai sarana menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang. Akibatnya, sebagian masyarakat belum mampu melindungi nilai simpanannya dari tekanan inflasi yang perlahan namun pasti menggerus daya beli uang tunai. Padahal, emas selama ini dikenal luas sebagai aset lindung nilai yang relatif stabil. Sayangnya, sistem transaksi yang masih mengharuskan kehadiran fisik, keterikatan pada toko tertentu, serta keterbatasan transparansi harga membuat emas belum sepenuhnya inklusif, terutama bagi masyarakat di wilayah terpencil. Digitalisasi logam mulia Kemajuan teknologi di sektor keuangan menghadirkan solusi alternatif melalui layanan emas dan perak digital. Melalui aplikasi berbasis digital, masyarakat kini dapat menabung logam mulia dengan nominal kecil tanpa harus bepergian ke kota. Nilai simpanan secara otomatis dikonversi ke dalam bentuk emas atau perak dan mengikuti fluktuasi harga pasar. Skema ini memungkinkan tabungan tetap berfungsi sebagai pelindung nilai dari inflasi sekaligus menawarkan fleksibilitas dalam penggunaannya. Berbagai pihak lintas sektor turut mendukung inisiatif ini. Bank Syariah Indonesia (BSI), misalnya, menghadirkan layanan emas digital yang berlandaskan prinsip syariah. Pegadaian juga memperluas jangkauan layanan emas melalui transformasi digital, sementara BRI melalui aplikasi BRImo memperkuat distribusi layanan keuangan hingga ke pelosok daerah. Peran koperasi dan fintech syariah Di tingkat komunitas, koperasi—termasuk Koperasi Merah Putih—dipandang memiliki peran strategis sebagai penghubung langsung dengan masyarakat pedesaan dan pelaku sektor informal. Melalui koperasi, literasi serta pemanfaatan emas digital dapat diperluas secara kolektif dan berkelanjutan. Sektor swasta pun turut meramaikan ekosistem ini melalui kehadiran perusahaan teknologi finansial berbasis syariah yang menawarkan tabungan emas dan perak digital dengan skema yang fleksibel dan mudah diakses. “Emas digital memungkinkan masyarakat di mana pun berada untuk menjaga nilai hartanya tanpa terkendala jarak. Ini adalah wujud nyata inklusi keuangan, bukan sekadar konsep,” ujar Direktur ShariaCoin (PT Syariah Koin Indonesia), Adji Waluyo, dalam keterangan resminya, Sabtu (24/1/2026). Transparansi jadi daya tarik Menurut Adji, keunggulan utama emas dan perak digital terletak pada kemudahan likuiditas serta keterbukaan harga. Proses transaksi jual beli dilakukan secara sistematis dengan harga yang dapat dipantau secara berkala. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu toko emas lokal saat membutuhkan dana cepat, baik untuk keperluan pendidikan, kesehatan, maupun pengembangan usaha kecil. Selain emas, perak digital juga dinilai memiliki potensi besar sebagai instrumen tabungan bagi masyarakat dengan pendapatan harian. Harganya yang lebih terjangkau membuat perak cocok untuk membangun kebiasaan menabung dalam jangka panjang. Ke depan, emas digital disebut memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari perencanaan keuangan nasional, termasuk untuk tabungan pendidikan dan dana pensiun berbasis emas. “Inklusi keuangan yang sesungguhnya tercapai ketika masyarakat memiliki akses terhadap instrumen keuangan yang aman, relevan, dan mudah digunakan. Dengan sinergi berbagai pemangku kepentingan serta dukungan pemerintah dan regulator, emas dan perak berpotensi menjadi pilar penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat Indonesia, dari perkotaan hingga pelosok negeri,” tutup Adji.

Baca Juga