Portalandalas.com - Tumpukan sampah setinggi gedung 20 lantai di Kota Cebu, Filipina, longsor pada Kamis (8/1/2026) dan menimpa sekitar 50 orang yang berada di bawahnya.
Hingga kini, tim penyelamat masih berjibaku dengan waktu untuk mengevakuasi para korban di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Binaliw. Dari total korban yang tertimbun, enam orang dilaporkan meninggal dunia, 32 lainnya masih dinyatakan hilang, sementara 12 orang berhasil diselamatkan.
Anggota Dewan Kota Cebu, Dave Tumulak, mengatakan tumpukan sampah yang runtuh diperkirakan setinggi bangunan 20 lantai. Ia menyebutkan bahwa dua jenazah tambahan telah ditemukan, namun proses evakuasi belum bisa dilakukan karena tertahan balok logam berukuran besar.
Menurutnya, keberadaan material logam berat menjadi hambatan utama dalam proses penyelamatan. Untuk mempercepat evakuasi, sekitar 20 unit truk yang dilengkapi derek hidrolik serta alat pemotong khusus telah dikerahkan ke lokasi kejadian.
Tumulak menjelaskan, derek tersebut diperlukan untuk mengangkat balok-balok logam agar tim penyelamat dapat menjangkau area terdalam dengan lebih efektif. Ia menegaskan bahwa operasi pencarian dilakukan tanpa henti.
“Kami berupaya menyelamatkan sebanyak mungkin korban yang masih hidup. Waktu sangat krusial, sehingga operasi dilakukan 24 jam penuh,” ujarnya.
Sebanyak 12 pekerja yang ditemukan dalam kondisi selamat saat ini telah mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.
Sementara itu, salah satu anggota tim penyelamat, Jo Reyes, mengungkapkan bahwa proses pencarian sempat dihentikan sementara karena pergerakan tumpukan sampah yang berisiko memicu longsor susulan.
“Area pembuangan ini terus bergerak, sehingga operasi harus dihentikan sementara demi keselamatan,” katanya.
Keluarga Korban Menanti dengan Cemas
Di tengah upaya penyelamatan yang penuh risiko, puluhan keluarga korban berkumpul di sekitar lokasi kejadian, menanti kabar dengan penuh harap.
Anggota Dewan Kota Cebu lainnya, Joel Garganera, menyatakan bahwa kondisi di lokasi sangat mengkhawatirkan. Ia menilai ketinggian gunung sampah yang mencapai sekitar 20 lantai menjadi sangat berbahaya, terutama saat hujan turun.
Menurutnya, kawasan tersebut memang kerap mengalami longsor kecil ketika hujan, dan risiko itu jauh lebih besar di lokasi pembuangan sampah dengan struktur yang tidak stabil. Limbah padat yang menumpuk di area tersebut menyerap air seperti spons, sehingga semakin melemahkan kekuatannya.
“Tanpa harus menjadi ahli, sudah jelas bahwa insiden seperti ini pada akhirnya akan terjadi,” ujarnya.
Garganera juga menambahkan bahwa para sopir truk sampah telah lama mengeluhkan jalur menuju puncak TPA yang curam dan berbahaya.
Foto-foto yang dirilis pihak kepolisian menunjukkan tumpukan sampah menjulang di perbukitan, tepat di belakang bangunan administrasi. Beberapa korban diketahui tinggal di kompleks perumahan staf yang berada di sekitar area gunung sampah.
Garganera menyebut kejadian ini sebagai pukulan berat bagi Kota Cebu, mengingat TPA Binaliw merupakan satu-satunya fasilitas yang menangani sekitar 1.000 ton sampah padat setiap hari untuk wilayah Cebu dan sekitarnya.
Hingga saat ini, operator TPA, Prime Integrated Waste Solutions, belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.
Salah satu saksi mata, Rita Cogay (49), operator mesin pemadat, mengaku awalnya mengira suara keras yang terdengar berasal dari helikopter.
“Terdengar benturan sangat keras. Saat saya menoleh, yang saya lihat justru tumpukan sampah dan bangunan runtuh,” katanya. Ia selamat karena saat kejadian sedang berada di luar untuk minum.
Proses pencarian dan evakuasi diperkirakan masih akan berlangsung selama beberapa hari ke depan, mengingat kondisi gunung sampah yang tidak stabil dan ancaman longsor susulan yang masih tinggi.

