Portalandalas.com - Pernahkah kita memahami arti harfiah dari kata tren? Secara sederhana, tren dapat diartikan sebagai arah atau kecenderungan yang sedang populer dalam kurun waktu tertentu—bisa meningkat, menurun, atau berjalan stagnan—serta memengaruhi banyak orang dalam berbagai bidang, mulai dari gaya hidup, teknologi, hingga percakapan di media sosial. Definisi ini merupakan hasil olahan teknologi canggih bernama Artificial Intelligence (AI).
Disadari atau tidak, diyakini maupun diabaikan, manusia masa kini cenderung bergerak mengikuti arus tren. Terlebih jika berkaitan dengan isu-isu kekinian, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) hampir tak terhindarkan. FOMO adalah rasa takut tertinggal momen, informasi, atau pengalaman penting yang sedang ramai terjadi, terutama akibat paparan media sosial. Kondisi ini kerap memicu kecemasan karena seseorang merasa tidak ikut terlibat atau tidak mengetahui hal terbaru. Dalam praktiknya, FOMO sering diwujudkan dalam perilaku ikut-ikutan—entah itu mencicipi makanan viral, menghadiri konser populer, atau sekadar mengikuti pencapaian orang lain demi merasa “tidak ketinggalan”.
Sebagai antitesis dari FOMO, lahirlah konsep Joy of Missing Out (JOMO), yakni perasaan bahagia karena memilih untuk tidak ikut arus. JOMO menawarkan sudut pandang yang lebih dewasa dan positif, karena menekankan kebebasan menjadi diri sendiri tanpa tekanan sosial untuk selalu mengikuti apa yang sedang tren.
Salah satu tren yang marak di kalangan mahasiswa dalam satu dekade terakhir adalah kebiasaan mengerjakan tugas di kafe atau working space. Mulai dari kafe berkonsep nyaman dengan interior estetik, spot foto menarik, dan menu pendamping yang cenderung ramah Instagram—meski cukup menguras kantong mahasiswa—hingga tempat nongkrong kelas menengah ke bawah seperti warung kopi atau Warmindo. Fenomena ini kini mudah ditemui di hampir seluruh kota besar di Indonesia.
Tak jarang, kamar kos hanya difungsikan sebagai tempat singgah. Aktivitas utama seperti mengerjakan tugas, berdiskusi, bahkan sekadar berbincang santai lebih sering dilakukan di ruang-ruang publik kekinian tersebut. Zaman berubah, manusia pun ikut berubah, demikian pula kebiasaan hidupnya.
Mahasiswa masa kini cenderung berpikir praktis dengan prinsip “sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”. Sambil mengerjakan tugas, mereka bisa berdiskusi, bersosialisasi, sekaligus menikmati makanan. Tentu saja, kebiasaan ini sangat bergantung pada kecukupan uang saku dari orang tua. Jika kondisi keuangan terbatas, diperlukan kecerdasan dalam mengatur frekuensi belajar di luar kampus atau memilih tempat yang sesuai kemampuan finansial. Yang terpenting, jangan sampai gaya hidup justru menjerumuskan pada masalah seperti ketergantungan pinjaman online. Ingat, gaya boleh, tapi tetap bijak ya.
Ketika saya masih menjadi mahasiswa S1 di Yogyakarta pada tahun 1994, belum ada konsep kafe atau ruang kerja dengan alunan musik lembut sebagai teman mengerjakan tugas. Tempat favorit kala itu adalah perpustakaan kampus yang selalu dipenuhi mahasiswa, terutama mereka yang sedang menyusun tugas akhir. Suasana hening justru membantu saya lebih fokus dan produktif. Mungkin karena saya termasuk pembelajar dengan gaya visual—tipe yang membutuhkan ketenangan dan mudah terdistraksi oleh suara. Fokus utama saya terletak pada apa yang dilihat: teks, diagram, dan visual lainnya. Keramaian dan kebisingan menjadi penghalang konsentrasi.
Namun, waktu berjalan dan tren pun berganti. Manusia juga dituntut untuk berubah. Saya teringat sebuah ungkapan bahwa dinosaurus punah karena gagal beradaptasi dengan lingkungan baru. Dari sana, saya menyadari bahwa kemampuan beradaptasi adalah kunci untuk bertahan.
Manusia yang adaptif adalah mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan situasi dan lingkungan tanpa kehilangan prinsip serta tujuan hidupnya. Fleksibel secara mental, mau terus belajar, kreatif, dan tangguh menghadapi tantangan—itulah ciri manusia adaptif. Mereka tidak sekadar menerima perubahan, tetapi memanfaatkannya sebagai peluang untuk tumbuh dan mencapai performa terbaik, baik secara pribadi maupun profesional.
Saya pun berproses menjadi pribadi yang lebih adaptif. Jika dulu suara musik mengganggu konsentrasi, kini saya justru mampu menulis, menyusun proposal, dan tetap produktif di tengah hiruk pikuk kafe atau working space. Keramaian tak lagi menjadi penghalang, melainkan bagian dari dinamika yang bisa diolah.

